RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Spirit Of Endurance

Renungan Harian Virtue Notes, 19 Oktober 2011

Spirit Of Endurance



Bacaan: Ibrani 12: 12-17


12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;

12:13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.

12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.



Pernahkah Saudara mendengar istilah “spirit of endurance”? Istilah ini bisa diterjemahkan sebagai “semangat ketahanan” atau “gairah untuk bertahan”. Semangat ketahanan adalah kemampuan seseorang bertahan menghadapi suatu keadaan yang sulit, sehingga pada akhirnya ia bisa mengatasi keadaan yang sulit itu dan tampil sebagai pemenang.


Semangat ketahanan ini dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi para atlet yang berlaga di medan pertandingan, semangat ini sangat dibutuhkan, sebab tanpa semangat untuk bertahan, mereka tidak akan bisa menjadi pemenang. Perhatikan, semangat seorang petinju untuk berlaga di atas ring. Kalau tidak memiliki semangat ketahanan yang tinggi, maka ia akan mudah dirobohkan oleh lawannya. Dalam kenyataan, banyak atlit yang memiliki keunggulan teknik yang baik, tetapi karena ketahanannya lemah akhirnya kalah.


Tentara yang maju berperang harus memiliki semangat ketahanan yang tinggi. Tanpa semangat ketahanan ini tidak mungkin mereka bisa memenangkan peperangan. Justru semangat inilah yang sangat dominan dibutuhkan. Sebab walau persenjataan lengkap, persediaan logistik memadai dan musuh lebih berkekuatan lemah, tetapi tanpa semangat ketahanan juga sulit untuk tampil sebagai pemenang. Sebaliknya walau persenjataan tidak lengkap, persediaan logistik kurang memadai dan musuh berkekuatan lebih besar, tetapi kalau memiliki semangat ketahanan yang tinggi, maka bukan tidak mungkin bisa memenangkan peperangan tersebut.


Demikian pula dengan mereka yang sedang menghadapi bencana atau musibah, misalnya tenggelamnya kapal di tengah lautan. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri harus berhari-hari terkatung-katung di tengah lautan. Orang yang tertimbun di bawah reruntuhan gedung yang dirobohkan gempa bumi harus memiliki semangat ketahanan yang tinggi. Itulah yang menyelamatkan mereka.


Dalam hidup ini kita harus memiliki semangat ketahanan yang tinggi. Tanpa semangat ketahanan, banyak siswa dan mahasiswa yang drop out dari sekolah; rumah tangga hancur; usaha-usaha bangkrut; dipecat dari pekerjaan; persahabatan putus; karier hancur dan lain sebagainya. Dalam segala aspek kehidupan semangat ketahanan harus dimiliki, sebab kita menghadapi dunia yang selalu bermasalah.


Semangat ketahanan harus juga kita miliki dalam hal rohani. Ketahanan rohani atau spiritual endurance kita butuhkan untuk bertahan di tengah tekanan terhadap kehidupan rohani atau iman kita.



Semangat ketahanan harus dimiliki dalam segala aspek kehidupan, termasuk kerohanian.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Proses Pewarnaan Jiwa

Renungan Harian Virtue Notes, 18 Oktober 2011

Proses Pewarnaan Jiwa



Bacaan: Efesus 5: 14-16


5:14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,

5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.



Proses pewarnaan jiwa kita untuk menjadi seperti yang diinginkan Allah dimulai dari apa yang kita dengar dan lihat, sehingga membangun sebuah pemahaman atau pengertian. Tetapi kalau baru begitu, belum menggores menjadi warna jiwa yang permanen. Apa yang dipahami tersebut harus kita lakukan, sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itulah yang akan memberi warna jiwa yang permanen.


Misalnya, Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengasihi musuh kita; artinya kita harus belajar arti pengampunan. Selanjutnya Allah akan memberi kondisi, di mana kita harus menerapkan kebenaran yang dipahami tersebut. Ia mempertemukan kita dengan orang-orang yang melukai dan memusuhi kita. Di sinilah kita belajar untuk mengampuni. Inilah proses pewarnaan jiwa yang benar. Dengan ini kita mengerti mengapa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).


Proses ini tidak terjadi hanya dalam satu kali kesempatan, tetapi berulang-ulang dan terus-menerus sampai akhir hidup kita. Allah menggarap kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Jadi, kalau kita membiarkan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah terjadi terus-menerus, itu akan menjadi guratan buruk dalam jiwa kita; tetapi kalau kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, maka perbuatan itu menggores jiwa kita, sehingga membentuk warna jiwa yang permanen. Guratan jiwa ini membentuk karakter kita secara permanen.


Sebagaimana cara Allah bekerja di Alkitab, semuanya berlangsung melalui proses bertahap, tidak bisa mendadak. Oleh karena itu hendaklah kita menjadi sadar untuk tidak menunda proses tersebut berlangsung dalam hidup kita. Kita harus mau memasuki penggarapan-Nya agar pada saat kita menghadap-Nya, jiwa kita sudah berwarna seperti yang dikehendaki-Nya dan sudah mengukir prestasi berharga di mata-Nya.


Sampai dimana proses tersebut? Tidak terbatas. Seandainya kita memiliki waktu seribu tahun, waktu tersebut belum tentu cukup untuk mewarnai jiwa sesuai dengan kehendak Allah, kalau kita tidak sungguh-sungguh bersedia. Faktanya, Tuhan hanya memberi waktu berkisar 70 tahunan dalam hidup ini. Oleh sebab itu dengan waktu yang singkat ini marilah kita memanfatkannya sebaik mungkin. Sesungguhnya waktu itu cukup, kalau kita berkomitmen mau memasuki penggarapan ini. Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.



Proses pewarnaan jiwa tidak boleh ditunda; dengan komitmen kita harus memulainya.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Prestasi Abadi

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Oktober 2011

Prestasi Abadi



Bacaan: 1 Petrus 3: 3-4


3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,

3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.



Sadarkah kita bahwa manusia itu adalah mahluk kekal? Jika memandang kekekalan, jangan hanya menghubungkannya dengan keberadaan manusia yang tidak bisa lenyap; tetapi yang paling penting adalah apa yang telah kita ukir selama hidup di dunia ini. Kekekalan tidak akan ada artinya jika tidak ada prestasi yang kita capai selama hidup di dunia ini. Justru inilah dahsyatnya kekekalan, yaitu jika kita berhasil mengukir sesuatu yang akan dimiliki dan dinikmati di kekekalan nanti.


Harus kita ingat bahwa nasib kekal kita sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengisi hari-hari hidup kita selama di dunia ini. Setelah kita meninggalkan dunia, tidak ada lagi kesempatan bagi kita untuk mengukir prestasi abadi. Dengan mengerti hal ini, marilah memperlakukan hidup ini dengan baik. Namun bagaimana caranya?


Kita dapat memperlakukan hidup dengan baik dan mengukir prestasi abadi kalau kita mewarnai jiwa kita sesuai dengan warna yang Tuhan inginkan. Inilah bukti dari prestasi kita. Warna jiwa di sini menunjuk kepada kualitas sikap hati atau manusia batiniah kita. Tentu ini tidak cukup diukur dengan perbuatan baik yang bisa dilakukan seseorang.


Jika kita memiliki warna jiwa sesuai dengan kehendak Allah, berarti kita memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Semua tindakannya sesuai dengan apa yang juga diinginkan Tuhan. Tuhan Yesus memberikan teladan, dengan menyatakan bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Ia mengerjakan apa yang dikehendaki oleh Bapa untuk dikerjakan.


Kualitas akhir hidup kita yang akan terpatri di agenda abadi Tuhan di kekekalan. Menyadari hal ini, betapa kita harus sungguh-sungguh berusaha mewarnai jiwa kita seperti yang diinginkan Allah. Itulah sebabnya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus disebut sebagai keselamatan jiwa. Jangan terlampau menyederhanakan hal ini sebagai terhindarnya jiwa seseorang dari neraka; keselamatan jiwa adalah keberhasilan jiwa seseorang diwarnai oleh kebenaran Tuhan, sehingga sikap hatinya sesuai atau sama dengan sikap hati Tuhan Yesus Kristus.


Warna jiwa inilah yang berharga di mata Allah. Bukan perhiasan jasmani yang berharga di mata-Nya, melainkan perhiasan rohani yaitu manusia batiniah kita, yang telah diwarnai oleh roh yang lemah lembut dan tenteram. Sesuatu yang berharga di mata Allah nilainya pasti kekal. Sementara apa yang berharga di dunia, nilainya sementara, sehingga tidak bisa dikatakan berkualitas. Kumpulkanlah harta di surga, yang bernilai kekal.



Kita berprestasi apabila manusia batiniah kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tuhan Yang Membutuhkan Kita?

Renungan Harian Virtue Notes, 16 Oktober 2011

Tuhan Yang Membutuhkan Kita?



Bacaan: Yohanes 6: 25-27


6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"

6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.



Anak-anak kecil sering menunjukkan sikap seolah-olah orang tuanya membutuhkan dirinya. Contohnya ketika orang tuanya menghendaki sesuatu, misalnya menyuruh anaknya makan sayur atau minum vitamin atau obat tertentu, si anak tidak mau melakukannya. Sering orang tua harus membujuk sedemikian rupa agar anaknya mau menurutinya. Si anak kadang mengajukan syarat, misalnya setelah minum obat, ia meminta dibelikan coklat atau balon. Ia tidak mengerti bahwa yang diberikan orang tuanya tersebut adalah kebutuhannya sendiri, bukan kebutuhan orang tuanya.


Tanpa disadari, sebagai orang Kristen ternyata tidak sedikit dari kita yang memiliki pola pikir kekanak-kanakan seperti itu. Misalnya, mungkin kita berpikir bahwa kita harus memuji dan menyembah Tuhan, karena Ia membutuhkan pujian tersebut. Kalau sudah demikian, kita merasa berhak menuntut atau mengklaim agar Tuhan memberi apa yang kita minta, karena kita telah menyembah-Nya.


Atau mungkin kita juga berpikir bahwa karena Tuhan menginginkan sebanyak mungkin orang selamat, Ia membutuhkan kita untuk menarik banyak orang menjadi anggota gereja. Karenanya kita melakukan berbagai cara yang disebut kegiatan pelayanan dengan tujuan utama untuk menambah jumlah anggota gereja. Tetapi kalau kita tilik lebih mendalam lagi, sungguhkah itu usaha untuk menyelamatkan manusia? Sering sebenarnya tidak; sering itu semua tak ubahnya bisnis, sama seperti bisnis lainnya, hanya saja wahananya adalah lembaga gereja. Kita harus sadar bahwa keselamatan bukan sekadar menarik orang untuk memeluk agama Kristen dan memenuhi gereja kita, melainkan mengembalikan orang kepada rancangan Allah. Ini membutuhkan proses melalui penggarapan Allah.


Cara berpikir yang tidak dewasa ini tampak saat orang banyak mencari Tuhan Yesus dari seberang Danau Galilea. Itu bukan karena mereka mencari ajaran-Nya, melainkan karena mereka mencari makanan gratis dari-Nya. Mereka menganggap Yesus membutuhkan banyak pengikut—mungkin untuk motif politis, seperti ingin menjadi raja—dan karenanya Ia akan memberikan apa saja yang mereka butuhkan asal mereka mengikuti-Nya.


Jangan sampai kita terus tidak dewasa. Kita harus sadar bahwa seperti orang tua memberi sayur atau vitamin karena kebutuhan anaknya dan karena ia mencintai anaknya, Allah juga menginginkan kita memuji dan menyembah-Nya serta melayani-Nya juga karena Ia mencintai kita dan kita membutuhkan persekutuan dengan-Nya.



Allah ingin kita menaati-Nya karena cinta-Nya, bukan karena Ia membutuhkan kita.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Membela Kehormatan Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Oktober 2011

Membela Kehormatan Tuhan



Bacaan: Ulangan 32: 48-51


32:48 Pada hari itulah juga TUHAN berfirman kepada Musa:

32:49 "Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya,

32:50 kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kaunaiki itu, supaya engkau dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, kakakmu, sudah meninggal di gunung Hor dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya--

32:51 oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.



Musa akhirnya tidak diizinkan Tuhan untuk memasuki Kanaan, negeri yang diberikan kepada orang Israel. Padahal ia telah memimpin bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun. Kesalahannya hanya satu, yaitu tidak melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Ketika diperintahkan untuk mengacungkan tongkat kepada bukit batu di Meriba, ia memukul bukit batu itu dua kali (Bil. 20:7–12). Kelihatannya itu masalah kecil, tetapi di mata Tuhan itu masalah besar. Perkara kecil di mata manusia itu ternyata menyinggung hati Tuhan. Ia menganggap Musa tidak menghormati kekudusan-Nya.


Ini menunjukkan bahwa kesucian juga merupakan salah satu tanda penghormatan kita kepada Tuhan. Dengan memperhatikan peristiwa ini, kita sepatutnya disadarkan untuk bersikap sepantasnya kepada Tuhan, dalam hal ini adalah hidup dalam kekudusan seperti yang dikehendaki-Nya. Tidak hidup dalam kekudusan berarti tidak menghormati Tuhan. Kalau perkara yang kelihatan kecil atau sepele bisa melukai hati Tuhan, apalagi perkara besar yang nyata-nyata bisa melukai hati-Nya. Betapa mengerikan. Kita harus mewaspadai hal ini, agar tidak terjebak dalam tindakan yang melukai hati Tuhan.


Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa hidup dalam kesucian Tuhan sama seperti membela kehormatan Tuhan. Dengan membela kehormatan-Nya, kita menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga mereka mengakui bahwa kita adalah anak-anak Allah.


Membela kehormatan Tuhan dengan kesucian adalah lebih dari sekadar berbuat baik. Kalau hanya berbuat baik, agama-agama lain juga mengajarkan perbuatan baik, dan umat mereka bisa mencapai kebaikan yang cukup menakjubkan. Para motivator sekuler juga menganjurkan kebaikan dan pengikutnya juga melakukannya. Oleh karena itu semestinyalah anak-anak Tuhan memiliki kesucian yang mencengangkan. Maksudnya bukan untuk mencari pujian, bukan supaya dikagumi manusia dan bukan supaya memperoleh keuntungan dari orang lain; tetapi supaya menjadi kesaksian bagi dunia sekitar kita.


Hidup dalam kekudusan yang mencengangkan artinya hidup dalam karakter yang sangat luar biasa. Jika kita hidup dalam kekudusan, pasti mendatangkan keteduhan bagi sesama dan menjadi berkat. Orang di sekitar kita akan mengakui bahwa anak-anak Allah sangat mengagumkan dalam perbuatan. Inilah yang membuat nama Allah kita dimuliakan dan dihormati.



Dengan hidup dalam kesucian, kita menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga nama Allah dimuliakan dan dihormati.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Mencari Pengakuan Manusia

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Oktober 2011

Mencari Pengakuan Manusia



Bacaan: Amsal 3: 9; 1 Korintus 6: 20


Amsal 3: 9

3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,


1 Korintus 6: 20

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!



Hal lain yang menandai penghormatan kita kepada Tuhan adalah penghargaan terhadap diri kita sendiri. Kita menghargai diri kita sendiri dengan tidak sepantasnya manakala kita menganggap diri kita layak untuk dipuji dan disanjung. Memang hasrat menjadi manusia yang terhormat, dianggap penting dan pantas diistimewakan merupakan irama yang hampir tidak bisa dibuang dalam jiwa manusia.


Paling tidak setiap orang membutuhkan bahkan menuntut pengakuan dari orang lain. Pengakuan ini suatu hal yang sangat relatif, maksudnya masing-masing orang memiliki standar pengakuan sendiri. Contohnya, seorang pegawai mungkin tidak meminta penghargaan yang tinggi dari orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi darinya, tetapi ia menuntut penghargaan dari orang-orang yang kedudukannya lebih rendah. Contoh lain, orang mungkin tidak meminta penghargaan dari orang yang lebih kaya darinya, tetapi ia menuntut penghargaan dari orang yang kemampuan finansialnya lebih rendah, atau paling tidak sejajar dengan dirinya. Hal ini membuat tuntutan pengakuan itu bergerak sesuai dengan tingkat kedudukan atau kemampuan finansial yang dimiliki. Ketika kedudukan dan kemampuan finansialnya berubah, maka tuntutannya pun juga berubah.


Seharusnya setelah kita menjadi anak Tuhan, maka kita harus berprinsip bahwa segala hal yang ada pada diri kita yang dianggap sebagai nilai lebih di mata manusia—kedudukan, kekayaan, pendidikan, pangkat dan sebagainya—harus digunakan untuk membuat Tuhan yang kita sembah menjadi terhormat di mata orang lain. Inilah yang sejatinya yang disebut sebagai “memuliakan Tuhan”. Itulah sebabnya Alkitab menyatakan agar kita memuliakan Tuhan dengan harta dan memuliakan Tuhan dengan tubuh ini. Memuliakan Tuhan dengan harta maksudnya dengan harta yang ada, kita mengambil bagian dalam penyelamatan umat manusia. Memuliakan Tuhan dengan tubuh berarti kita menggunakan tubuh ini—bekerja dan berkarya dengan mengoptimalkan semua potensi yang ada—demi mendukung proyek penyelamatan umat manusia. Tentu setelah kita sendiri selamat, artinya kepribadian kita semakin menyerupai Tuhan Yesus.


Tuhan Yesus sendiri tidak menuntut pengakuan dari manusia. Ia merendahkan diri-Nya dan taat kepada Bapa sampai mati di kayu salib. Semua itu dilakukan-Nya demi memenuhi kehendak Bapa yaitu penyelamatan umat manusia. Kalau kita seorang pengikut Kristus yang meneladani-Nya, tentu proyek penyelamatan itu menjadi tugas kita, dan untuk itu pengakuan dari manusia menjadi tidak penting.



Segala hal yang dianggap sebagai nilai lebih di mata manusia harus digunakan untuk membuat Tuhan terhormat di mata orang lain.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Sikap Terhadap Materi

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Oktober 2011

Sikap Terhadap Materi



Bacaan: Lukas 4: 8


4:8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"



Seberapa tinggi penghormatan seseorang kepada Tuhan dapat ditandai dengan beberapa hal, di antaranya sikapnya terhadap dunia ini. Ini menyangkut seberapa tinggi penghargaannya terhadap materi. Kalau penghargaannya terhadap materi melampaui penghargaannya terhadap Tuhan, berarti ia belum mengormati Tuhan sepantasnya.


Inilah yang dilakukan oleh hampir semua manusia di bumi ini. Bagi mereka, nilai tertinggi kehidupan ini adalah materi. Materi di sini maksudnya adalah kekuatan uang yang bisa membuat seseorang merasa aman, terjamin dan terhormat atau dianggap penting oleh sesamanya. Hal ini hampir tidak bisa dihindari, sebab memang materi memiliki kekuatan sosial yang sangat kuat. Apalagi pada zaman sekarang manusia sudah terdorong untuk menjadi sangat materialistis. Hampir semua orang menjadi makhluk yang tidak menghormati Tuhan sepantasnya. Mereka beribadah, tetapi seperti kata Paulus, pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya (2 Tim. 3:5).


Ingat bahwa Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus menyembah Tuhan Allah dan hanya kepada-Nyalah kita berbakti. Menyembah di sini jangan hanya dibawa dalam wilayah keberagamaan yang akhirnya terkristal dalam bentuk ritual seremonial atau liturgi. Kata “menyembah” dalam teks ini dalam bahasa aslinya adalah proskynĂ©o yang artinya “memberi nilai tinggi”, Jadi, orang percaya atau manusia pada umumnya harus memberi nilai tinggi Tuhan.


Seberapa tinggi kita harus menghargai-Nya? Tentu harus setinggi-tingginya. Untuk itu kita harus berani menganggap bahwa materi tidak bernilai sama sekali kalau tidak digunakan bagi kepentingan-Nya. Bagi kita yang adalah milik Tuhan, mengumpulkan materi bagi kepentingan kita saja adalah tidak wajar dan tidak halal. Hidup untuk diri kita sendiri dengan mengusahakan materi hanya untuk perasaan aman, terjamin dan kehormatan pribadi adalah sikap yang tidak menghormati Tuhan.


Dalam kehidupan kita, jangan sampai terjadi keadaan di mana Tuhan dijadikan alat untuk meraih materi dunia. Itu merupakan pembalikan hierarki. Tuhan haruslah di atas segalanya. Kalau Tuhan dijadikan alat, berarti kita telah menjadikan diri kita sebagai tuhan. Itu sikap pemberontakan, seperti Lucifer. Selama masih diberikan kesempatan, marilah kita bertobat dan menyadari bahwa jika kita mau menghormati Tuhan sepantasnya, berarti apa pun yang ada pada diri kita harus digunakan bagi kepentingan-Nya.



Kita harus berani menganggap bahwa materi tidak bernilai sama sekali kalau tidak digunakan bagi kepentingan Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger