RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Anugerah Yang Tidak Ternilai

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Nopember 2011

Anugerah Yang Tidak Ternilai



Bacaan: Yohanes 1: 10-12


1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;



Bahwa kita bisa menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan apa pun. Menjadi anak-anak Allah bukanlah sekadar sebutan yang disertai dengan hak-hak istimewa, seperti perlindungan dan berkat-berkat yang bisa diberikan oleh Allah; tetapi juga meliputi keberadaan atau kenyataan hidup, yang disusul dengan proses memiliki karakter seperti Bapa dan hubungan yang intim dengan-Nya sebagai anak. Ini berbicara mengenai panggilan atau tanggung jawab.


Bila panggilan dan tanggung jawab kita penuhi, maka segala hak pasti akan menyusul kita peroleh. Kekristenan yang benar memfokuskan diri kepada panggilan dan tanggung jawab, bukan pada haknya terlebih dahulu seperti yang dipromosikan banyak komunitas Kristen selama ini.


Dalam perjalanan hidup Kekristenan, kita harus meresponi panggilan dan tanggung jawab menjadi anak-anak Allah itu, sebab Ia memberikan kuasa supaya kita menjadi anak-anak Allah (ay. 12). Kata supaya menegaskan bahwa menjadi anak-anak Allah bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan suatu panggilan dan tanggung jawab yang harus dijalani melalui suatu proses panjang.


Bila kita memenuhi panggilan dan tanggung jawab ini, berarti kita telah mengakui dan menerima-Nya sebagai pemilik kehidupan ini (ay. 10-11). Hanya pemilik seorang budak yang menebus budak yang dikuasai oleh pihak lain. Tuhan Yesus adalah pemilik kita, sebab Ia menebus kita dari kutuk dosa dan cengkeraman kuasa kegelapan. Setelah kita ditebus-Nya, maka kita harus menyadari bahwa seluruh hak kita telah dimiliki-Nya. Lebih baik seluruh hak kita kembali kepada Sang Pemilik, daripada seakan-akan kita memiliki hak itu dengan bebas, tetapi sebenarnya ada dibawah cengkeraman kuasa kegelapan yang menggiring ke dalam api kekal.


Sebagai keseriusan kita menjadi milik-Nya yang masuk proses menjadi anak-anak Allah, maka kita harus rela kehilangan hak dan dengan rela menyerahkannya kepada Yang Berhak. Harus diingat bahwa memang sejak semula kita diciptakan kita tidak pernah memiliki hak atas diri kita sendiri, bahkan hak hidup yang kita miliki adalah milik Dia yang menciptakan kita. Kita diciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada. Menjadi anak-anak Tuhan berarti mengembalikan segala hak kita kepada Bapa sumber kehidupan yang memberi kehidupan pada kita. Ketika kita menyerahkan hak kita, justru itulah kemerdekaan atau kebebasan dalam anugerah yang tidak ternilai.



Kita harus rela kehilangan hak dan menyerahkannya kepada Yang Berhak.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Timbul Seperti Emas

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Nopember 2011

Timbul Seperti Emas



Bacaan: Ayub 23: 10


23:10 Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.



Dalam kehidupan Ayub, dapat kita saksikan dengan jelas, bagaimana Tuhan membiarkan Ayub menerima perlakuan Iblis secara kejam. Ia tega mengangkat perlindungan-Nya atas kekayaan dan anak-anak-Nya. Inilah faktanya, kalau kita adalah anak-anak Tuhan yang dikasihi-Nya sebagai anak yang sah, maka kita akan mendapat perlakuan istimewa, yaitu disesah-Nya (Ibr. 12:5–17). Dalam hal ini yang disebut berkat tidak selalu sesuatu yang menyukakan hati menurut selera manusia, tetapi apa yang mendatangkan kebaikan bagi kita menurut pertimbangan Tuhan.


Semua “prahara” dilakukan oleh Tuhan atas Ayub demi kemurnian kehidupan rohani Ayub. Ini sungguh benar, sebab setelah Ayub didera dengan pencobaan yang begitu dahsyat, akhirnya ia menyaksikan, bahwa ketika ia sudah mengalami kehilangan dan penderitaan yang begitu berat, maka hasilnya adalah ia menjadi lebih dewasa dan benar.


Inilah yang dikatakan Ayub sendiri bahwa ia akan timbul seperti emas. Rupanya selama ini Ayub belum kelas “emas”, atau mungkin saja sudah emas, hanya kadarnya rendah. Dengan demikian pencobaan hebat yang dialami Ayub adalah usaha Tuhan untuk meningkatkan kadar atau kualitas Ayub. Selain itu Ayub juga menyaksikan bahwa melalui segala pergumulan tersebut ia mengalami Tuhan secara pribadi. Dalam kesaksiannya ia berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:5).


Apa yang terjadi dalam hidup Ayub adalah respons Tuhan terhadap kesungguhan Ayub mencari Tuhan. Memang Ayub sejak mulanya sudah berusaha untuk mencari Tuhan atau bersungguh-sungguh dalam berurusan dengan Tuhan. Ia adalah orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayb. 1:1). Tetapi dimata Tuhan, Ia belum murni. Ketidakmurniannya tampak dalam apa yang ditulis di Ayb. 1:5.


Tindakan Ayub ini sangat religius, dan bisa dipandang sempurna benar di mata manusia. Tetapi Allah memandang Ayub harus keluar dari hidup keagamaannya dan berdiri dipihak Tuhan yang hanya memikirkan perkara-perkara surgawi. Inilah kemurnian itu. Kalau sebelumnya Ayub masih ingin memperoleh keuntungan dari Tuhan yaitu untuk menguduskan anak-anaknya, setelah proses yang sangat menyakitkan dan menyengsarakan, barulah Ayub menjadi murni. Jadi kalau Tuhan ingin memproses kita melalui berbagai penderitaan, itu untuk kebaikan kita, yaitu pemurnian diri kita.



Apa yang mendatangkan kebaikan bagi kita menurut pertimbangan Tuhan mungkin menyakitkan bagi kita.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Nutrisi Untuk Pertumbuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Nopember 2011

Nutrisi Untuk Pertumbuhan



Bacaan: Yakobus 1: 2-5


1:2. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.



Kesulitan dan penderitaan merupakan bagian dari kehidupan tokoh-tokoh iman, para kekasih Tuhan dalam Perjanjian Lama. Sebut saja Abraham, yang harus kehilangan kenyamanan hidup di Ur-kasdim, dan tak pernah menemukan gantinya yang serupa. Atau Yusuf, yang harus kehilangan kesenangannya tinggal dengan ayah yang sangat mengasihinya, dijual menjadi budak, kena fitnah, kehilangan harga diri dan nama baik. Musa tidak dilindungi Tuhan dari amarah Firaun, sehingga ia harus melarikan diri dari Mesir, meninggalkan kedudukannya sebagai pangeran. Daud harus kehilangan sanak famili dan hidup mengembara, dicap gila sebab ia pura-pura gila untuk menyelamatkan nyawanya. Ayub harus kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya, bahkan dikhianati oleh istrinya sendiri. Banyak lagi kisah nyata mengenai kehidupan orang-orang yang dikasihi Tuhan.


Ini jelas membuktikan bahwa Tuhan mendidik orang-orang yang dikasihi-Nya melalui berbagai kesulitan dan penderitaan (Ibr. 12:6). Keadaan yang sulit merupakan bukti perhatian dan kasih yang diberikan-Nya kepada para kekasih-Nya. Semua kejadian dalan hidup mereka merupakan persiapan menuju kehidupan yang berhasil di kemudian hari sesuai rencana Tuhan.


Jadi janganlah kita hanya melihat akhir cerita, yaitu kesuksesan tokoh-tokoh Alkitab itu. Kesuksesan mereka di kemudian hari mengharuskan mereka melewati proses kehidupan yang berat. Memang setelah kita memperhatikan perjalanan hidup mereka itu, barulah kita melihat betapa beruntungnya menjadi kekasih Tuhan. Demikian pula kita harus percaya bahwa sebagai kekasih Tuhan kita dikontrol Tuhan secara sempurna.


Tokoh-tokoh Alkitab Perjanjian Lama tadi adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi diri yang hebat, namun sesungguhnya yang membuat mereka luar biasa adalah gelombang kehidupan yang harus mereka tempuh. Gelombang kehidupan itu mendewasakan dan membuat mereka menjadi manusia unggul. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak bersungut-sungut, apalagi marah, terhadap keadaan dan bahkan kepada Tuhan atas keadaan hidup kita yang tidak sesuai dengan skenario dan rencana kita. Kesulitan-kesulitan hidup ini menjadi berkat yang tidak ternilai kalau kita menemukan mutiara kebenaran di balik semua peristiwa yang kita alami, terutama keadaan-keadaan sulit yang kita harus lewati dan jalani. Semua itu merupakan vitamin jiwa dan nutrisi untuk pertumbuhan kedewasaan rohani kita.



Kesulitan merupakan bukti perhatian dan kasih Tuhan kepada para kekasih-Nya.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Lebih Berminat Melindungi Karakter

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Nopember 2011

Lebih Berminat Melindungi Karakter



Bacaan: Yakobus 5: 10-11


5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.



Pada umumnya orang beragama berpikir bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan selalu melindungi orang-orang yang dikasihi-Nya, juga termasuk harta, kekayaan, kesehatan, dan keselamatan keluarga mereka. Tetapi kalau kita melihat kehidupan Ayub, konsep tersebut ternyata menjadi tidak tepat. Justru karena Ayub menjauhi kejahatan dan Tuhan memuji kesalehan Ayub, maka Ayub mendapat perlakuan yang sangat menyakitkan. Tuhan tidak memberikan perlindungan atas harta dan keluarganya.


Tentu Tuhan sangat mampu melindungi kekasih-kekasih-Nya supaya tidak mengalami penderitaan dan kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Tetapi Ia lebih berminat untuk melindungi karakter atau kehidupan rohani anak-anak-Nya daripada melindungi harta atau apa pun juga. Kadang-kadang Tuhan mengorbankan segala sesuatu dalam hidup kita guna pembentukan kedewasaan dan kesempurnaan kita. Jadi tidak selamanya Tuhan melindungi segala sesuatu yang ada pada kita demi kepentingan kita sendiri.


Kalau kita berpikir bahwa Tuhan ada untuk melindungi apa yang menurut kita harus dilindungi, berarti kita menganggap-Nya sekadar pengawal atau bodyguard. Sikap seperti ini tidak pantas, sebab kitalah yang seharusnya mengawal pekerjaan Tuhan, bukan Tuhan mengawal kepentingan kita. Benar kata Pemazmur, Tuhan adalah Gunung Batu dan Tempat Perlindungan kita. Tetapi perlindungan-Nya sesuai dengan kedaulatan, pertimbangan dan kebijaksanaan-Nya, untuk kebaikan kita menurut pandangan-Nya, bukan menurut pandangan kita.


Banyak orang tidak mengerti hal ini, sebab mereka menganggap Tuhan ingin melestarikan kejayaan mereka di bumi ini dan membantu mereka membangun Firdaus di bumi ini. Itulah sebabnya mereka selalu berusaha sebisa-bisanya untuk dapat menikmati kenyamanan dari segala fasilitas dunia ini, tidak mau mengerti bahwa damai sejahtera yang sesungguhnya adalah damai sejahtera yang mengalir dalam jiwa oleh kehadiran Tuhan dan kebenaranNya, bukan karena situasi duniawi.


Sejatinya dunia ini adalah persinggahan sementara untuk menjadi tempat latihan guna persiapan masuk Kerajaan-Nya. Selama kita di dunia ini, kita menjadi murid Tuhan, anak-anak yang dididik-Nya. Karena itu marilah kita bersabar dan bertekun dalam kehidupan di dunia yang penuh penderitaan ini. Seperti Ayub yang akhirnya berbahagia karena ketekunannya, kita pun akan memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan pada waktunya.



Tuhan lebih berminat untuk melindungi karakter atau kehidupan rohani anak-anak-Nya daripada melindungi harta atau apa pun juga.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Cermin Kita

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Nopember 2011

Cermin Kita



Bacaan: Yosua 24: 15


24:15. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"



Kisah Adam perlu kita renungkan sebagai cermin dari pergumulan hidup manusia pilihan hari ini, yang bersedia untuk menjadi umat pilihan selamanya dalam Kerajaan-Nya. Pergumulan hidup kita hari ini adalah pergumulan untuk memilih dan menentukan: apakah kita berdiri di pihak Tuhan dengan benar atau tidak; apakah kita memutuskan untuk memilih apa yang baik menurut Tuhan, atau yang baik menurut dunia; apakah kita memiliki pengertian dari Allah yaitu hikmat-Nya di dalam kebenaran Injil-Nya, atau hikmat manusia yang kelihatannya mirip Alkitab tetapi sebenarnya tidak sama sekali; apakah kita mau memahami apa yang baik dan jahat dalam perspektif Allah atau perspektif Iblis; apakah kita menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Tuhan, atau menempatkan diri sebagai tuan bagi diri kita sendiri.


Kita boleh memeluk agama Kristen, menghadiri ibadah, bahkan melibatkan diri dalam kegiatan dan pelayanan gereja, namun kita bisa tidak berdiri di pihak Tuhan. Kita bisa menipu diri kita sendiri, tetapi Tuhan tidak bisa kita tipu. Bukan perasaan bahwa kita berdiri di pihak Tuhan yang penting, melainkan buktinya. Seruan Yosua perlu kita dengungkan lagi hari ini, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Bukan besok, tetapi hari ini. Dan pilihan kita untuk beribadah kepada Tuhan bukan berarti pilihan untuk menjadi orang beragama Kristen, melainkan tampak dari pilihan-pilihan kita dalam pergumulan hidup kita sebagai bukti nyata. Tanpa bukti itu kita seperti orang mati yang menguburkan orang mati (Luk. 9:60).


Kita harus sadar bahwa Iblis telah menipu banyak orang melalui perasaannya. Banyak orang merasa sudah beribadah kepada Tuhan, sudah berpihak kepada Tuhan, dan sudah hidup benar di jalan Tuhan, hanya karena mereka telah memeluk agama Kristen. Mereka telah masuk ke zona kenyamanan rohani, ketenangan semu yang membinasakan. Dengan mempertahankan diri dalam ketenangan semu tersebut, seseorang ada dalam tawanan, bagai domba yang dibawa ke pembantaian abadi.


Jika kita memahami bahwa dalam hidup ini kita harus terus-menerus memilih untuk melakukan kehendak Bapa, maka kita akan terus bergerak untuk mencari kehendak Tuhan, memahaminya dan melakukannya. Ibadah kepada Tuhan adalah perjalanan melakukan tugas. Bukankah ini yang seharusnya dilakukan oleh Adam manusia pertama? Sebagai anak-anak Allah, jangan mengikuti kegagalan Adam pertama, tetapi berjuanglah untuk menjadi pemenang seperti Adam kedua yaitu Tuhan Yesus.



Pilihan kita untuk beribadah kepada Tuhan tampak dari pilihan-pilihan kita dalam pergumulan hidup kita sebagai bukti nyata.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pergumulan Rohani Sejak Semula

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Nopember 2011

Pergumulan Rohani Sejak Semula



Bacaan: Efesus 6: 12


6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.



Adam pertama diperintahkan untuk mengelola karya penciptaan alam semesta yang harus diteruskan. Demikian pula orang percaya dipanggil untuk meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus.


Adalah sangat keliru kalau berpikir bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus membawa orang Kristen kepada Firdaus di bumi ini, yaitu suatu kehidupan yang diberkati Tuhan, dilindungi dan dipenuhi dengan berkat yang melimpah sehingga hidup kurang atau sedikit persoalan. Justru setelah menjadi anak Tuhan, maka perjuangan akan dimulai, dan perjuangan itu jauh lebih berat dibandingkan sebelum menerima Tuhan Yesus sebagai pemilik. Sebab tatkala kita mengaku Yesus sebagai Tuhan, yaitu pemilik kehidupan ini, maka kita menempatkan diri di pihak yang memusuhi Lucifer, malaikat yang jatuh. Di pihak Yesus, kita harus memberi diri diubah seperti-Nya dan melayani-Nya dengan memberitakan Injil untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang masuk ke dalam persekutuan yang benar dengan Allah yang benar.


Dalam hal ini Kekristenan tak boleh diajarkan sebagai jalan yang mudah. Kekristenan tak boleh dipandang sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan hidup di dunia ini atau kemudahan hidup dalam menghadapai segala masalah. Sebagai laskar yang berpihak pada Kristus, Kekristenan adalah lorong sekolah kehidupan dan perjuangan untuk menggenapi rencana Bapa yang tertunda kegagalan Adam.


Melihat pergumulan Adam, baik tugas, tanggung jawab dan hak-haknya, kita dapat melihat pergumulan hidup orang percaya. Kalau Adam diberi tanggung jawab untuk menaklukkan bumi—tentu dengan segala rintangannya termasuk Lucifer yang dibuang di bumi—sehingga dapat menjadi raja atau penguasa di bumi ini, sebagai anak-anak Allah kita diberi tanggung jawab untuk bertumbuh ke dalam kesempurnaan dan pengabdian sepenuhnya bagi Allah Bapa untuk dapat memerintah bersama dengan Tuhan Yesus di langit dan bumi yang baru nanti.


Demikian dalam makna konkret yang harus kita kenakan dalam kehidupan kita hari ini. Jadi janganlah kita pahami kisah Adam dan Hawa di taman Eden sekadar cerita historis, yang cukup hanya untuk konsumsi pengetahuan saja, dan cukup untuk diceritakan hanya sebagai konsumsi anak-anak Sekolah Minggu. Memandang kisah Adam dan Hawa sebagai dongeng pengantar tidur mengakibatkannya tidak memiliki makna implementatif yang kontekstual dengan keadaan hidup kita hari ini. Kisah Adam dan Hawa sejatinya merupakan pergumulan rohani, yang sudah dikobarkan Bapa sejak semula Ia menciptakan mereka.



Dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan, kita menempatkan diri sebagai musuh Lucifer dan memasuki pergumulan rohani.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Taman Harapan

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Nopember 2011

Taman Harapan



Bacaan: 1 Korintus 15: 45-47


15:45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

15:46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.

15:47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.



Apa yang kita pikirkan jika mendengar Taman Eden? Apakah kita membayangkannya sebagai tempat yang nyaman dan damai, sebuah kesempurnaan keindahan dan kebahagiaan manusia? Tetapi di sisi lain, ternyata Taman Eden juga merupakan medan pergumulan terbesar dalam kehidupan manusia. Di sinilah terjadi pergumulan panjang untuk menentukan nasib manusia dan keturunannya.


Eden adalah medan peperangan terbesar yang pernah ada dalam sejarah kehidupan dan akan terukir di kitab kekekalan. Eden adalah taman harapan dan taman impian, bukan saja untuk manusia yang diberi kepercayaan untuk mengelolanya sebagai manajer, tetapi juga Tuhan sebagai pemilik, yang menghendaki manusia dengan ketaatannya dapat meringkus malaikat yang jatuh yaitu Lucifer. Dengan demikian manusia dan keturunannya tidak perlu jatuh dalam dosa, bumi tidak terkutuk, dan paling utama, Bapa tak perlu mengutus Anak-Nya untuk turun ke dunia.


Tetapi manusia kalah dalam peperangan itu. Manusia memilih dan memutuskan untuk memberontak kepada pemilik Taman Eden. Maka Allah Anak harus menjadi Adam kedua, turun untuk menyelamatkan manusia. Dalam misi penyelamatan-Nya Ia memenangkan pergumulan dengan ketaatan-Nya, hingga mengalahkan Lucifer.


Tuhan Yesus tidak sekadar lahir lalu disalib. Ya, penyaliban-Nya memang perlu untuk memenuhi keadilan Allah, tetapi Ia juga harus disamakan dengan manusia dalam segala hal (Ibr. 2:17), sehingga harus bergumul untuk menang. Kemenangan-Nya memberi kesempatan bagi keturunan Adam untuk memulai kembali pergumulan yang sama yang pernah dialami oleh leluhurnya. Kemenangan Tuhan Yesus adalah pembelaan-Nya terhadap rencana Bapa untuk menciptakan makhluk yang segambar dan serupa dengan diri-Nya. Inilah yang disebut menggenapi rencana Bapa. “Sudah selesai,” (Yoh. 19:30) kata Tuhan Yesus; tugasnya telah sempurna.


Sekalipun tugas Yesus sudah selesai, itu baru permulaan panjang bagi manusia, untuk kembali bertarung melawan kuasa kegelapan. Kemenangan-Nya tidak secara otomatis membuat manusia menjadi seperti yang diinginkan Bapa. Dunia ini bukanlah Eden untuk menetap aman sejahtera. Dunia adalah medan pertempuran yang tidak pernah berhenti sampai sejarah dunia diakhiri oleh Bapa pada waktunya. Panggilan sebagai orang Kristen adalah panggilan untuk mengulangi perjuangan Adam pertama yang gagal, dan meneruskan perjuangan Adam kedua yang berhasil. Kalau kita dipanggil menjadi umat pilihan, perjuangan ini tidak boleh dihindari. Orang yang menghindarinya berarti menolak menjadi umat pilihan.



Perjuangan melawan kuasa kegelapan seperti di Taman Eden harus kita teruskan, jika kita dipanggil menjadi umat pilihan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger