RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Kebijaksanaan-Nya

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Pebruari 2011

Kebijaksanaan-Nya



Bacaan: Roma 8: 12-17


8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.



Keselamatan yang kita peroleh dalam Yesus Kristus merupakan upaya Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang mula-mula. Untuk itu Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).


Dalam hal ini, keperkasaan Allah secara fisik tidak lagi menjadi tekanan atau perhatian bagi umat Perjanjian Baru. Justru Ia sering membawa orang percaya kepada keadaan-keadaan yang sepertinya Ia diam saja. Bayangkan, betapa mengerikan keadaan orang percaya pada abad-abad pertama, ketika Kekristenan sedang tumbuh. Mereka dianiaya begitu hebat; kehilangan kesenangan hidup sama sekali; kehilangan hak kewarganegaraan; diperlakukan tidak adil dalam kurun waktu yang panjang. Dari tahun 30 Masehi mereka teraniaya, sampai akhirnya Kekristenan dijadikan agama Negara pada tahun 380 Masehi. Pada masa sekitar tiga setengah abad tersebut, Tuhan seolah-olah tidak berdaya, sebab Ia seperti membiarkan orang-orang percaya hidup dalam tekanan yang hebat tanpa pertolongan-Nya.


Allah bukannya tidak berdaya. Ia mengizinkan semuanya terjadi agar orang percaya meletakkan dasar yang kuat untuk gereja di sepanjang zaman kelak. Ini bertolak belakang dengan keadaan bangsa Israel yang mengalami pemeliharaan Tuhan secara fisik—kecuali kalau bangsa itu memberontak, justru Ia menghukumnya.


Hari ini, di berbagai daerah di tanah air umat Tuhan mendapatkan tantangan. Mereka mengalami kesulitan membangun rumah ibadah; gedung gereja yang sudah terbangun pun ada yang ditutup paksa oleh kelompok masyarakat yang tidak menerima kehadiran mereka. Tak sedikit gereja yang dirobohkan, bahkan dibakar; oknum-oknum mempersoalkan izin gereja dan sebagainya. Bahkan baru-baru ini di wilayah Bekasi ada oknum yang menikam seorang majelis dan melukai pendetanya. Mungkin ada yang bertanya, di mana Tuhan? Mengapa ia tidak menolong?


Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam hal ini perbedaan Allah kita dengan allah lain bukan pada kuasa-Nya, melainkan pada kebijaksanaan-Nya dalam menuntun umat-Nya agar mendapat bagian dalam kemuliaan bersama Tuhan Yesus, sebab siapa saja yang menderita bersama dengan-Nya akan dimuliakan bersama dengan-Nya (ay. 17). Jadi, kalau sampai ada orang Kristen yang meragukan Tuhan karena Ia tidak menampilkan kuasanya dalam menolong umat-Nya menghadapi tantangan dalam beribadah, berarti ia tidak mengerti kebenaran Tuhan; ia belum mengenal Allahnya.



Dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan menuntun umat-Nya agar mendapat bagian dalam kemuliaan bersama Tuhan Yesus



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tidak Perlu Mendemonstrasikan Kuasa-Nya

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Pebruari 2011

Tidak Perlu Mendemonstrasikan Kuasa-Nya



Bacaan: 1 Yohanes 2: 15-17


2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.



Dalam Perjanjian Lama, kita dapat menemukan berbagai perbuatan perkasa yang dilakukan oleh YHWH, Allah Israel bagi umat-Nya. Dan tidak ada allah lain yang sanggup mengerjakan hal-hal dahsyat seperti itu bagi umat Israel pada zaman itu. Jadi untuk menemukan perbedaan antara YHWH dengan allah bangsa lain tidaklah sulit. Perbedaan itu dapat dilihat dari manifestasi kedahsyatan kuasa yang dinyatakan YHWH di depan mata bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain.


Apakah perbedaan itu jugalah yang membuat kita mengatakan bahwa Allah kita berbeda dengan allah agama lain? Perlu disadari bahwa menganggap landasan yang digunakan umat Perjanjian Lama adalah sama dengan umat Perjanjian Baru merupakan suatu kesalahan fatal. Umat Perjanjian Baru memiliki standar kebenaran yang jauh lebih tinggi dari umat Perjanjian Lama; sungguh berbeda sekali.


Sama seperti agama-agama lain, fokus perhatian umat Perjanjian Lama terarah pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Oleh sebab itu dalam berurusan dengan Tuhan, mereka menggunakan-Nya sebagai perlindungan dan sumber berkat jasmani. Mereka terhanyut di sana. Bagi umat Perjanjian Lama, Tuhan mendemonstrasikan kedahsyatan kuasa-Nya secara fisik untuk melindungi mereka dan membuktikan bahwa Ialah Allah yang benar.


Tetapi tidak demikian bagi umat Perjanjian Baru. Bagi kita, sesungguhnya Tuhan tidak perlu mendemonstrasikan kuasa-Nya. Tuhan Yesus telah menebus dan memiliki kita, sehingga kita tidak perlu meragukan bahwa YHWH, Allah Bapa adalah satu-satunya Allah yang benar. Umat Perjanjian Baru tidak perlu membuktikan keperkasaan Tuhan secara fisik.


Bahkan murid-murid Yesus pun mempunyai pandangan yang sama dengan umat Perjanjian Lama, yaitu merindukan kebebasan politik Israel dan merdeka dari penjajahan Roma (Kis. 1:6-11). Tetapi orang percaya harus merindukan kemerdekaan dari dosa (Yoh. 8:31–32). Umat Perjanjian baru harus berfokus terhadap keselamatan jiwa, yaitu terbebasnya jiwa dari cengkeraman kuasa kegelapan dan dosa—keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup.


Bagi kita, yang penting bukan kejayaan lahiriah dan kemuliaan duniawi, tetapi manusia batiniah yang selalu diperbarui sehingga semakin berkenan kepada Bapa di Surga. Proses keselamatan ini tidak bisa dilakukan oleh siapa pun, hanya bisa dilakukan oleh Tuhan sendiri. Itulah bedanya, sehingga kita bisa berkata, “Allah kita berbeda dengan allah agama lain”.



Yang terpenting bukanlah kejayaan lahiriah, melainkan pembaruan manusia batiniah kita sehingga semakin berkenan kepada Bapa di surga.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Memperlakukan Allah Dengan Benar

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Pebruari 2011

Memperlakukan Allah Dengan Benar



Bacaan: Yesaya 40: 12-23


40:12. Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?

40:13 Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?

40:14 Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

40:15 Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya.

40:16 Libanon tidak mencukupi bagi kayu api dan margasatwanya tidak mencukupi bagi korban bakaran.

40:17 Segala bangsa seperti tidak ada di hadapan-Nya mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja.

40:18. Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?

40:19 Patungkah? Tukang besi menuangnya, dan pandai emas melapisinya dengan emas, membuat rantai-rantai perak untuknya.

40:20 Orang yang mendirikan arca, memilih kayu yang tidak lekas busuk, mencari tukang yang ahli untuk menegakkan patung yang tidak lekas goyang.

40:21 Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?

40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

40:23 Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!



Selama seseorang belum mengenal Allah dengan benar, maka ia tidak akan bisa bersikap benar terhadap-Nya. Selama ini, tanpa disadari sikap banyak orang Kristen terhadap Allah kita sama seperti sikap umat agama lain terhadap allah mereka. Ini selain karena mereka tidak mengenal Tuhan dengan benar, juga akibat pengaruh ajaran agama lain yang merasuki pikiran orang Kristen.


Keadaan serupa pernah terjadi di zaman Yesaya. Bangsa Israel memperlakukan YHWH seperti bangsa-bangsa kafir memperlakukan dewa mereka. Dalam pernyataan-Nya, tampak sekali kesalahan bangsa itu, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (ay. 18).


Fenomena serupa terjadi dalam kehidupan orang Kristen hari ini. Memang mereka tidak menganggap Allah dapat digambarkan sebagai patung, tetapi pada hakikatnya mereka memperlakukan-Nya sama dengan orang kafir memperlakukan kuasa di luar Tuhan yang benar. Mereka menghampiri Allah yang mereka percayai dengan dilandasi motif supaya diberkati, supaya diperkaya, supaya disembuhkan. Mereka menghampiri-Nya karena Ia ada manfaatnya bagi mereka. Inilah yang disebut sebagai “asas manfaat”. Sebagai umat Tuhan, seharusnya yang kita persoalkan saat datang kepada-Nya adalah bagaimana kita menjadi hamba yang melayani; bagaimana kita dimanfaatkan Tuhan.


Seperti orang agama lain memanggil nama allah mereka untuk kepentingan mereka, juga orang Kristen menggunakan nama Tuhan secara tidak hormat, seolah-olah itu berkekuatan gaib seperti mantra. Mereka menganggap “Dalam nama Yesus” apa saja yang mereka kehendaki dapat terwujud. Apakah Tuhan Yesus sama dengan jin lampu ajaibnya Aladin? Tidak! Tuhan tidak bisa diatur (ay. 13–14). Hargailah nama Tuhan (Kel. 20:7). Penghargaan ini diwujudkan dalam sikap hidup kita yang tidak berusaha mencoba mengatur-Nya.


Akibat tidak mengenal Allah dengan benar dari kacamata Injil, banyak orang Kristen memperlakukan Tuhan seperti umat Israel memperlakukan YHWH di zaman Yesaya. Kita harus mengerti bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. Sebagai anak, tidak perlu kita berharap pertolongan-Nya dalam segala masalah hidup, sebab Bapa pasti melindungi dan menyediakan segala berkat-Nya (Mat. 6:32). Kita harus yakin bahwa Ia pasti memelihara kita tanpa diminta. Adapun yang menjadi bagian pergumulan utama kita adalah bagaimana mengerti kebenaran Injil, dan masuk ke dalam rencana-Nya untuk menjadi mempelai yang layak dipersandingkan dengan Dia.



Pahami kebenaran Injil agar kita dapat memperlakukan Allah dengan benar.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Merasa Sudah Mengenal

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Pebruari 2011

Merasa Sudah Mengenal



Bacaan: Mazmur 35: 10; 86: 8


35:10 segala tulangku berkata: "Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?"


86:8. Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.



Banyak orang Kristen dewasa ini menyerukan bahwa Allah kita tidak sama dengan allah lain. Ini didasari oleh ayat-ayat dalam Perjanjian Lama. Banyak lagu yang digubah dengan syair yang memuat pernyataan ini, dan jemaat pun menyanyikannya dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. Para worship leader dan pengkhotbah pun sering mengucapkan kalimat bernada demikian, “Siapa seperti Allah kita? Tidak ada allah yang seperti Dia!”


Pernahkah kita persoalkan, bagaimana kita tahu bahwa Allah kita berbeda dengan allah agama lain? Apanya yang berbeda? Kita tidak bisa mengatakan di mana perbedaannya, apabila kita tidak mengenal secara mendalam Allah kita, dan mengenal pula allah agama lain.


Bagaimana mungkin seseorang berkata bahwa “suatu barang” yang ada padanya adalah sesuatu yang istimewa kalau ia tidak memahami keistimewaannya? Apalagi kalau ia berkata bahwa apa yang dimilikinya itu berbeda dengan barang lain yang sejenis, tanpa pernah mempelajari atau paling tidak mengenal barang yang sejenis tersebut. Tidakkah itu bodoh? Demikianlah, kenyataannya ada orang Kristen yang bodoh seperti itu. Dengan yakin dan bangga mereka mendeklarasikan Allah kita berbeda, tetapi pernyataan itu tanpa pengertian.


Orang Kristen yang menyatakan bahwa Allahnya berbeda dengan allah yang lain berarti menyatakan bahwa ia sudah mengenal Allah dengan benar dan memahami perbedaannya dengan allah lain. Kalau sebetulnya ia belum mengenal-Nya dengan baik, sebenarnya ini menunjukkan betapa kacaunya kehidupan imannya. Keadaan seperti ini membangun damai semu, ketenangan semu dan iman yang semu pula. Sebab kalau seseorang tidak mengenal Allah yang benar, maka keadaan batiniahnya pun pasti tidak benar.


Sungguh berbahaya kebodohan orang yang merasa sudah mengenal Allah dengan benar, padahal tidak. Ia merasa berhak menasihati, bukan dinasihati. Ia merasa tidak perlu dikoreksi oleh siapapun. Paling parah, kalau ia merasa tidak perlu belajar untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tidak jarang mereka justru menyerang ajaran yang benar atau melawan kebenaran.


Menghadapi hal ini, mari kita terus belajar kebenaran Firman Tuhan dengan benar, agar kita mengenal Allah kita dengan benar pula. Pengenalan ini akan membuka pengertian kita terhadap perbedaan antara Allah yang kita sembah dengan allah lain.



Belajarlah kebenaran Firman Tuhan dengan benar, agar kita mengenal Allah kita dengan benar.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Satu Tubuh, Banyak Anggota

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Pebruari 2011

Satu Tubuh, Banyak Anggota



Bacaan: 1 Korintus 12: 12-18


12:12. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.



Dalam satu Tubuh Kristus terdapat banyak anggota. Inilah gambarannya bahwa setiap orang Kristen memiliki panggilannya masing-masing dalam pelayanan. Amanat agung Tuhan Yesus tidak hanya ditujukan kepada sekelompok orang yang disebut rohaniwan, tetapi untuk seluruh orang percaya. Karena itu siapa pun kita, jika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, kita harus berpartisipasi di dalam pelayanan.


Memang kita semua diciptakan berbeda, sehingga fungsi kita masing-masing memang tidak sama dalam pelayanan; tetapi kita percaya bahwa Tuhan menempatkan masing-masing kita di tempat yang khusus dan spesifik. Kita perlu menemukan tempat yang diinginkan Tuhan tersebut, di mana kita dapat berkarya bagi Tuhan sebagai bagian dari respons kita yang bertanggung jawab atas anugerah keselamatan dari-Nya.


Sebagai gambaran bahwa panggilan yang diterima setiap orang berbeda, ketika Tuhan Yesus mengajak Matius pemungut cukai untuk mengikut Dia, Matius harus meninggalkan rumah cukainya (Mat. 9:9–13). Ia menyertai Yesus ke mana pun Yesus pergi, dan menjadi salah satu dari kedua belas murid Yesus (Mat. 10:3). Sesama pemungut cukai, yaitu Zakheus, juga dipanggil Yesus untuk mengikut-Nya. Tetapi ia tidak harus meninggalkan rumah cukainya; ia tetap menjadi pemungut cukai, meskipun dengan paradigma baru sebagai orang yang diselamatkan (Luk. 19:1–10).


Di kisah lain, setelah orang gila di Gadara disembuhkan Tuhan Yesus, ia menawarkan diri untuk menyertai Yesus. Tetapi Yesus melarangnya, dan menyuruhnya pulang ke rumahnya untuk menceritakan kebaikan Tuhan (Luk. 8:38–39). Mengapa Tuhan Yesus tidak memperkenankannya menyertai-Nya? Sebab setiap orang memiliki tempat pelayanan yang berbeda.


Jadi kita harus melayani Tuhan, tetapi tidak semua dari kita harus menjadi pendeta atau pengkhotbah. Kita memiliki tempat masing-masing yang khusus. Suatu pekerjaan dikategorikan sebagai pekerjaan duniawi atau rohani tidak tergantung jenisnya, tetapi tergantung motivasi pekerjaan itu diselenggarakan. Ladang Tuhan itu bukan hanya menyangkut pekerjaan-pekerjaan di lingkungan gereja, tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan pelebaran kerajaan Allah adalah ladang-Nya. Dengan demikian mari kita dengan yakin melakukan pekerjaan kita masing-masing sebagai pegawai negeri, karyawan swasta, pengusaha, dokter, kontraktor, guru, dan lain-lain untuk kemuliaan Allah. Jadilah saksi Kristus dalam pekerjaan kita, dan hadirkan kemuliaan kerajaan Allah di mana pun Ia menempatkan kita.



Layanilah Tuhan dalam pekerjaan kita masing-masing, di mana Ia menempatkan kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
1

Besi Menajamkan Besi

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Pebruari 2011

Besi Menajamkan Besi



Bacaan: Amsal 27: 17


27:17. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.



Untuk mendewasakan perasaan kita, Tuhan menggunakan berbagai pengalaman hidup kita. Seperti besi yang ditajamkan melalui proses pengasahan dengan menggunakan besi lain, dalam pembentukan kita menuju kesempurnaan yang dikerjakan Allah melalui Roh-Nya, Ia menggunakan manusia di sekitar kita untuk proses tersebut. Ditajamkan disini maksudnya adalah dibuat semakin dewasa, sempurna, matang dan berkenan kepada Allah.


Dengan pelajaran Alkitab pribadi, mendengar khotbah, membaca buku-buku rohani, dan berdoa secara pribadi, tidak secara otomatis kita menjadi sempurna. Ini semua baru sebagian. Kebenaran-kebenaran Firman yang kita dengar dan pelajari harus dimatangkan, diimplementasikan dan dikenakan dalam kehidupan melalui berbagai gesekan dan benturan yang terjadi dalam hidup ini. Perhatikan bagaimana tokoh-tokoh iman di Alkitab disempurnakan oleh Tuhan.


Yusuf anak Yakub harus ditajamkan oleh saudara-saudaranya. Kalau ia hanya tinggal di rumah Yakub, mimpi yang diterimanya sebagai janji besar dari Tuhan tidak akan terealisasi. Ia ditajamkan oleh Ruben dan abang-abangnya dengan dijual ke tanah Mesir (Kej. 37:12–28). Ia ditajamkan oleh Nyonya Potifar (Kej. 39:1–20). Ia ditajamkan pula oleh juru minuman Firaun yang melupakan budi baiknya (Kej. 40).


Seperti Yusuf, Allah juga hendak menajamkan kita melalui berbagai sarana. Misalnya, pertama, melalui teman kita di kantor. Di mana pun kita bekerja, ada saja orang yang menjengkelkan kita dan merugikan kita. Jangan berharap berkantor di tempat yang nyaman dan semua orangnya berkenan di hati kita.


Kedua, melalui pasangan hidup. Jangan harap menemukan jodoh yang tidak memiliki kesalahan. Kita tidak menikahi malaikat, tetapi manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan.


Ketiga, rekan sepelayanan di gereja. Ini meliputi pendeta, majelis, dan sebagainya, yang tidak selalu sependapat dengan kita. Paulus juga pernah berselisih dengan Petrus (Gal. 2:11).


Menyadari hal ini, kita harus tetap bersyukur kepada-Nya atas setiap orang yang menyakiti kita. Jangan bersungut-sungut jika kita disakiti oleh orang lain, sebab sebagaimana besi yang bergesekan menimbulkan panas dan percikan api, gesekan dengan orang lain memang menyakitkan; tetapi itulah sarana Allah untuk memproses kita.



Gesekan dengan orang lain merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menajamkan kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Perasaan Juga Milik Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Pebruari 2011

Perasaan Juga Milik Tuhan



Bacaan: Roma 6: 1-6


6:1. Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?

6:2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

6:3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?

6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

6:5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

6:6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.



Akar dari kerusakan hidup manusia adalah dosa (Rm. 3:23). Ini mengakibatkan beberapa hal mewarnai temperamen atau watak seseorang, yang pada gilirannya mewarnai perasaannya. Pertama, faktor keturunan. Anak-anak merekam karakter orang tuanya, sehingga perasaannya dipengaruhi oleh karakter tersebut. Kedua, lingkungan. Pendidikan, keluarga, pergaulan dan sebagainya memengaruhi warna perasaan seseorang. Ketiga, pengalaman masa lalu. Pengalaman yang menyenangkan maupun yang traumatis turut membentuk kepribadian seseorang.


Karena temperamennya yang memengaruhi perasaan seseorang jika diperhadapkan dengan suatu situasi, ada orang yang gampang tersinggung, gila hormat, selalu minder, merasa tertolak, gampang marah dan lain sebagainya. Ini merupakan perasaan yang sakit dan tak jarang melukai perasaan orang di sekitarnya, bahkan menimbulkan bencana.


Kita harus sadar, bahwa tatkala kita bertobat, maka Tuhan Yesus telah menebus seantero diri kita, termasuk perasaan kita yang ada dalam jiwa kita. Artinya kita bukan lagi milik kita sendiri (1Kor. 6:19–20), sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk memanjakan perasaan kita. Tidak bisa lagi kita mengatakan, “Memang saya dari dulu orangnya begini,” sebab kita tidak memiliki diri kita lagi.


Memanjakan perasaan kita berarti mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan Tuhan sendiri. Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan dengan Kristus, sehingga kita tidak boleh lagi menghambakan diri kepada dosa. Yang disalibkan bukan hanya pikiran dan keinginan kita, melainkan juga perasaan kita.


Dengan mengakui bahwa kita telah mati bagi dosa dan dibangkitkan dalam hidup yang baru, maka perasaan-perasaan negatif kita juga telah mati. Memanjakan perasaan-perasaan itu berarti melestarikan kepuasan diri kita, padahal semestinya tidak ada lagi kepuasan diri yang kita sisakan, sebab apabila Yesus Kristus menjadi Tuhan kita, berarti Ia juga Majikan atau Penguasa atas perasaan kita. Demi kepentingan-Nya, kita harus rela berbuat apa saja.


Berapakah harga perasaan kita sebenarnya? Seharga salib Tuhan Yesus, karena kita telah disalibkan bersama dengan-Nya. Dengan menyadari hal ini, maka kita tidak akan memanjakan perasaan kita yang berakibat gagal menjadi berkat bagi orang lain; sebaliknya, kita akan terus-menerus belajar dan berusaha mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5).



Perasaan kita juga milik Tuhan, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk memanjakan perasaan kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger