RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

DIA Lah Sang Pencipta

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Nopember 2010

DIA Lah Sang Pencipta


Bacaan: Yohanes 1:9-11

1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.


Salah satu hal yang sering menjadi batu sandungan dan bahan perdebatan bagi banyak orang Kristen dan non-Kristen adalah mengenai hal keilahian Yesus. Orang non-Kristen tidak bisa menerima bahwa Yesus Kristus adalah Allah, sebab pemahaman mereka Allah itu Esa, yang di dalam arti matematis berarti satu, bukan dua, tiga atau empat. Menurut mereka, Yesus hanya seorang manusia yang hebat, manusia yang luar biasa, bisa disebut nabi, tetapi bukan Allah. Bagaimana mungkin seorang manusia menjadi Allah?

Sebagai orang Kristen, bagaimanakah kita seharusnya menjawab mereka? Mengapa Yesus diakui sebagai Allah? Ternyata banyak orang Kristen yang tidak dapat menjawabnya, karena mereka pun memiliki landasan/konsep yang sama, yaitu Allah itu esa dalam arti matematis. Bahkan hal ini dianggap sebagai suatu keagungan, sesuatu yang memberi nilai tinggi, sesuatu yang memberi kualitas atas diri Allah. Sedangkan jika Allah itu tidak esa, maka hal itu dianggap tidak berkualitas, tidak bernilai tinggi. Sekarang kita dihadapi oleh satu pertanyaan, siapakah manusia sehingga berhak membuat ukuran/batasan bahwa Allah itu satu? Bukan dua, tiga atau lebih? Manusia sama sekali tidak berhak membuat ukurannya, manusia tidak berhak menentukan parameternya dan landasannya.

Allah kita itu tunggal (esa), dan kita mengaku bahwa tidak ada Allah selain Dia. Tetapi dalam keesaan-Nya itu ada kejamakan: ada Allah Bapa dan Allah Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang disebut παράκλητος (paraklētos, pendamping atau penolong) yang diutus oleh Allah Bapa untuk mendampingi orang percaya, supaya orang percaya bisa bertumbuh dalam kesempurnaan.

Tentu sebagai Allah, Yesus memiliki kekuatan dan kekuasaan. Dan ternyata Ialah Sang Logos atau Firman, yang telah ada sebelum segalanya ada, dan bersama dengan Bapa menciptakan langit dan bumi. Di dalam ay. 10 dikatakan, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya…” maka bisa dikatakan bahwa Ialah yang empunya dunia ini, termasuk kita semua.

Jadi, jika nanti kita bertemu sosok Tuhan Yesus, itu berarti kita bertemu bukan hanya dengan Juruselamat yang menyelamatkan dan menyembuhkan dan menolong kita, tetapi kita bertemu dengan sosok Sang Pencipta. Betapa besarnya kehormatan yang kita terima, kalau kita saat ini diperkenankan melayani Sang Pencipta alam semesta. Karena itu hayatilah kehidupan kita setiap hari sebagai bentuk pelayanan kepada Sang Pencipta, dan sama sekali bukan beban.


Tuhan Yesus adalah pribadi Allah, yang bersama dengan Bapa menciptakan alam semesta ini.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kerja Keras Menyambut Keselamatan

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Nopember 2010

Kerja Keras Menyambut Keselamatan


Bacaan: 1 Korintus 6:19-20

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!


Kerja keras yang bagaimanakah yang memenuhi standar untuk keselamatan seseorang? Respons yang bagaimanakah yang menyelamatkan? Ini sama dengan pertanyaan, “Percaya yang bagaimanakah yang menyelamatkan?” Kerja keras itu bisa relatif dan bisa subjektif, tergantung dari persepsi masing-masing berdasarkan apa yang diajarkan kepadanya dan yang dilihatnya dari orang lain.

Ada orang yang merasa sudah bekerja keras mencangkul dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang. Tetapi yang lain merasa barulah bekerja keras bila mencangkul dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Untuk ini kita harus belajar apa yang yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu target apa yang harus dicapai dalam hidup Kekristenan kita. Selama kita belum mencapai target yang Tuhan targetkan, kita harus terus berusaha sampai kita mengerti apa artinya kerja keras dalam meresponi keselamatan yang Tuhan kehendaki. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Rancangan Tuhan adalah manusia memiliki keberadaan menurut gambar dan rupa Allah. Apa arti target tersebut?

Pertama, sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia dituntut untuk memiliki moral dan tindakan-tindakan yang mulia seperti Allah sendiri. Tuhan Yesus merupakan teladan kita. Pemulihan gambar Allah yang rusak merupakan upaya mengembalikan manusia sebagai manusia.

Kedua, sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia patut memberikan seluruh kehidupannya bagi Sang Khalik, sebab Dia adalah pemilik dan pencipta kita (ay. 20). Penciptaan manusia yang segambar dengan Allah dimaksudkan agar manusia mampu mengabdi kepada Tuhan dengan ibadah yang benar. Kemampuan hebat itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan bagi sang Pemberinya.

Ketiga, sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia harus hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Manusia segambar dan serupa dengan diri-Nya dimaksudkan agar manusia dapat mengimbangi Tuhan dan dapat menjadi teman interaksi-Nya. Kalau manusia hanya sekualitas monyet, manusia tidak berkapasitas sebagai teman interaksi Tuhan. Jadi, tanpa hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, maka manusia mengkhianati Tuhan.

Tanpa mengerti target ini, kita tidak dapat meresponi anugerah-Nya dengan benar. Maka sebagai orang percaya yang meresponi keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, marilah kita bekerja keras setiap hari dan mempertaruhkan segenap hidup kita. Jangan setengah-setengah; Kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.


Dengan mengerti target kita sebagai makhluk yang diciptakan segambar dengan Allah, marilah kita bekerja keras menyambut keselamatan.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Skolios

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Nopember 2010

Skolios


Bacaan: Wahyu 3:17-18

3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.


Tuhan mengecam jemaat Laodikia dengan perkataan pedas. Mereka orang-orang Kristen yang tidak menyadari kemiskinan, kebutaan, kemelaratan dan ketelanjangannya, tetapi merasa dirinya tidak berkeadaan demikian. Keadaan ini sebetulnya banyak juga dijumpai pada orang-orang Kristen dewasa ini, yaitu mereka yang malang sebab menolak atau tidak memberi diri dengan sungguh-sungguh untuk diselamatkan.

Kemalangan inilah yang juga digambarkan pada seruan Rasul Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kis 2:40). “Jahat” dalam teks aslinya ditulis σκολιός (skoliós) yang bermakna “tidak lurus”, “tidak jujur”, “bengkok”, atau “malang”. Orang yang skoliós adalah mereka yang tidak jujur dengan dirinya sendiri, sehingga tidak pernah mengalami pertobatan. Pada zaman para rasul, ini tampak terutama pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menganggap dengan keberagamaannya, mereka bisa selamat. Sayangnya itu juga yang dipikirkan oleh orang-orang Kristen dewasa ini, yang menganggap setelah beragama Kristen, maka selamatlah mereka. Kalau cukup begitu saja, itu hanya usaha kecil.

Padahal yang dikehendaki Tuhan adalah usaha besar untuk keluar dari kubangan dosa atau kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk keluar dari Sodom, Lot harus berlari tanpa menoleh ke belakang (Kej. 19:17). Demikian pula dengan Nuh. Ia harus membuat bahtera yang begitu besar dengan peralatan sederhana yang ada pada zaman itu. Bahtera itu panjangnya 300 hasta, lebarnya 50 hasta dan tingginya 30 hasta (Kej. 6:15). Bagi mereka itu bukan pekerjaan mudah; tetapi memang tidak ada cara mudah untuk selamat. Tuhan Yesus pun mengatakan, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk 13:24).

Kepada jemaat di Laodikia, Tuhan berfirman, “Belilah dari-Ku emas, minyak dan pakaian.” Ini berarti harus ada usaha untuk keluar dari keadaan kita yang buruk. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah usaha Tuhan untuk menjadikan kita kembali menjadi manusia Allah (1Tim. 6:11). Kita yang menerima anugerah itu harus membeli, berarti ada yang kita tukar untuk memperolehnya. Paulus menyatakan bahwa ia telah melepaskan semua yang dimilikinya supaya ia memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9). Berarti merupakan suatu penyesatan yang luar biasa kalau dikesankan bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus tidak membutuhkan pertaruhan sebagai barternya. Seseorang yang mau diselamatkan harus melepaskan kenyamanannya.


Anugerah keselamatan membutuhkan respons berupa usaha yang serius.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pokok Keselamatan

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Nopember 2010
Pokok Keselamatan
Bacaan : Ibrani 5 : 7–10

5:7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
5:9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
5:10. dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.


Saat kita menerima TUHAN Yesus sebagai TUHAN dan Juruselamat, kita pun dimasukkan ALLAH ke dalam proyek Ilahi. Proyek itu memproses manusia menjadi manusia ALLAH (man of GOD). Tentu hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ALLAH sendiri, namun manusia harus memberi diri agar secara aktif digarap oleh TUHAN.

Dalam Ibr. 5:9 mengatakan, “Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” TUHAN Yesus telah memberi teladan yang luar biasa; IA taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Setelah IA mencapai kesempurnaan, maka IA pun menjadi pokok keselamatan. Kata “pokok” di sini dalam bahasa aslinya αἴτιος (aítios) yang bermakna “penulis” atau “penggubah”, atau juga berarti “sumber”, “penyebab”.

Setelah menang atas semua godaan dan menang atas maut, TUHAN Yesus dapat menggarap orang percaya menjadi sempurna seperti diri-NYA. Tetapi ini hanya berlaku bagi mereka yang taat. Kata “taat” di sini adalah ὑπακούουσιν (hypakúusin), yang juga bisa berarti “dengar-dengaran” (“mendengarkan dengan penuh perhatian”). Artinya jelas bahwa respons seseorang terhadap anugerah TUHAN itu sangat
penting. Orang yang memberi diri digarap oleh TUHAN Yesus harus dengar-dengaran kepada-NYA, artinya dengan giat belajar segala sesuatu yang diajarkan-NYA.

Proses belajar ini tidak mudah, sebab akan merenggut seluruh kehidupan seseorang. Proses ini tidak bisa menjadi “proyek sambilan”. Ini akan menyita seluruh perhatian dan potensi kita. Semua yang ada pada kita harus dikorbankan dan dipertaruhkan. Tanpa kesediaan untuk melepaskan segala sesuatu, seseorang tidak pernah menjadi pribadi yang bertumbuh menjadi manusia ALLAH (Luk. 14:33). Itulah sebabnya TUHAN Yesus menegaskan bagi orang yang mau mengikut DIA, “Hitunglah dahulu anggarannya” (Luk 14:28). Ini menunjukkan bahwa proyek itu mahal, tidak sembarangan. Kalau kita mau pergi ke suatu tempat yang jaraknya hanya 2 kilometer, biasanya tidak perlu membuat anggaran; tetapi kalau hendak pergi ke benua lain yang berjarak ribuan kilometer, kita harus duduk dulu membuat anggarannya.

Ini menunjukkan bahwa mengiring TUHAN itu berat, menuntut biaya yang sangat tinggi. Kalau kita berani membayar harganya, maka anugerah keselamatan menjadi lengkap dan utuh kita miliki. Kita akan menjadi anak TUHAN yang diubahkan secara luar biasa. Kita menjadi orang yang bermoral TUHAN, melayani DIA dengan segenap hati dan hidup dalam persekutuan dengan-NYA. Inilah tanda yang jelas bahwa kita akan menerima kemuliaan bersama TUHAN Yesus.


Taatlah kepada Yesus sang Pokok Keselamatan abadi, dan sediakan diri kita diproses.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Read more
0

Man Of GOD

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Nopember 2010

Man Of GOD


Bacaan : 1 Yohanes 2 : 15–19

2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
2:18. Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.
2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.


Banyak orang ternyata tertipu oleh dirinya sendiri. Mereka merasa sudah di dalam keselamatan, padahal belum. Yohanes mengatakan mereka sebagai “berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita” (ay. 19). Bila kita memperhatikan ay. 15–17, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengasihi dunia, sehingga kasih kepada BAPA tidak ada di dalam mereka. Mereka mudah murtad meninggalkan TUHAN ketika ada bujukan dosa atau datang aniaya. Mereka termasuk golongan orang yang tidak setia.

Orang-orang yang mengasihi dunia ini akan tertolak, bersama-sama dengan mereka yang memusuhi TUHAN Yesus. Karena itulah mereka disebut “banyak antikristus” (ay. 18). Berkenaan dengan ini TUHAN Yesus menunjukkan dalam Mat. 24:45–51, ada hamba-hamba TUHAN yang senasib dengan orang-orang munafik. Saat TUHAN Yesus datang, hamba-hamba TUHAN yang tidak melakukan tugasnya dengan baik akan dianggap sama dengan orang berdosa. Seharusnya mereka mengambil bagian dalam pelayanan, tetapi mereka tidak melakukannya.

Sayangnya banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka berkondisi seperti ini. Mereka beranggapan, karena tidak melakukan pelanggaran dosa yang dinilai salah oleh manusia sekitarnya, TUHAN tidak punya alasan untuk membuang mereka ke neraka. Padahal TUHAN menginginkan mereka agar sempurna. Sempurna seperti BAPA—artinya menjadi “man of GOD” atau manusia Ilahi (1Tim. 6:11).

Sekalipun tidak melakukan kejahatan yang membuatnya pantas masuk penjara dan tidak disebut sebagai penjahat, tetapi di mata TUHAN banyak orang yang menyebut dirinya Kristen sebenarnya masih merupakan orang-orang yang tidak setia. Tidak masuk penjara bukan berarti tidak akan masuk neraka. Banyak orang yang baik di mata orang belum baik di mata TUHAN, bahkan jauh dari target yang dikehendaki-NYA. Ironisnya, tak jarang keadaan mereka yang tidak dicap sebagai penjahat itu membutakan mata pengertian mereka, sehingga banyak orang tidak merasa perlu berubah, bertumbuh dan semakin sempurna seperti yang dikehendaki TUHAN—yaitu menjadi man of GOD. Menjadi man of GOD berarti memiliki pertumbuhan untuk mengalami kesempurnaan moral BAPA. Inilah keselamatan yang sesungguhnya, saat orang berdosa diubahkan menjadi manusia ALLAH (man of GOD). Dengan memahami target ini, kita akan lebih sungguh-sungguh menjalani hidup Kekristenan dengan penuh gairah.


Menjadi man of GOD berarti memiliki pertumbuhan untuk mengalami kesempurnaan moral BAPA.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Memberi Diri Diselamatkan

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Nopember 2010

Memberi Diri Diselamatkan


Bacaan : Kisah Para Rasul 2 : 36–40

2:36 Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."
2:37. Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
2:38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
2:39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita."
2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini."


Suatu kali, ada seseorang yang berkata bahwa dirinya sudah berolah raga, tetapi kondisi fisiknya masih kurang sehat. Ternyata olah raganya sangat tidak memadai: ia hanya berjalan beberapa puluh meter setiap hari di sekitar rumahnya. Olah raganya belum mengimbangi makanan yang dikonsumsinya dan pola hidupnya yang buruk, termasuk waktu tidur yang kurang dan pikiran yang stres berkepanjangan. Bila demikian, olah raga yang dilakukannya tidak bermanfaat sebab orang ini memang tidak serius memberi diri untuk sehat.

Inilah gambaran kehidupan banyak orang Kristen hari ini, yang merasa diri sudah mengusahakan keselamatan abadinya, padahal usahanya itu sangat tidak memadai; tidak mampu mengimbangi kejahatan yang sudah melekat dalam dirinya dan pengaruh dunia di sekitarnya yang menggiringnya ke dalam kegelapan abadi.

Dalam ay. 40 tersurat sebuah catatan mengenai kegerakan gereja mula-mula di Yerusalem. Rasul-rasul TUHAN menasihati umat TUHAN, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” Dalam terjemahan King James ditulis, “Save yourselves from this untoward generation.” Mereka harus memberi diri diselamatkan dari angkatan yang jahat, atau menyelamatkan diri mereka sendiri. Ini menunjuk usaha masing-masing individu untuk menyelamatkan diri, yang tentu harus memadai; harus bersungguh-sungguh. Bukan ala kadarnya saja, seperti contoh orang yang tidak serius berolah raga tadi. Dalam hal ini iblis menipu banyak orang, supaya mereka merasa sudah mengusahakan keselamatan, padahal belum atau tidak sama sekali. Usaha mereka belumlah memadai untuk membuat mereka bisa keluar dari kubangan kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak ALLAH.

Banyak orang berpikir, bahwa setelah menjadi orang Kristen, maka secara otomatis ia akan terbimbing menjadi orang yang berkenan kepada TUHAN. Kalau demikian halnya, mengapa kenyataannya banyak orang yang sudah menjadi Kristen selama puluhan tahun namun tidak mengalami perubahan yang berarti? Dalam hati kecil mereka, masih ada keyakinan bahwa suatu hari akan terjadi perubahan. Mereka merasa sejahtera karena tidak bermaksud hendak mengkhianati TUHAN. Tetapi tanpa usaha dan sikap proaktif, mereka tidak akan keluar dari kubangan kehidupan yang tidak dikehendaki oleh ALLAH. Kita harus memiliki kesadaran dan tekad untuk berubah. Untuk ini harus ada tindakan konkret guna mengalami perubahan ke arah kehidupan yang sesuai dengan kehendak TUHAN. Sediakan diri kita untuk berusaha dengan keras agar menjadi berkenan kepada TUHAN, di bawah pimpinan Roh Kudus.


Menjadi Kristen tidak otomatis menjadi berkenan kepada TUHAN; itu membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh.

Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
1

Bukan Roh Ketakutan

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Nopember 2010

Bukan Roh Ketakutan


Bacaan: 2 Timotius 1:7–8

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.


Ketakutan adalah respons emosional manusia terhadap sesuatu yang mengancam atau membahayakan. Para pakar psikologi terkemuka dunia mengatakan bahwa ketakutan adalah emosi alami bawaan sejak lahir, dan sering merupakan reaksi segera terhadap suatu kejadian. Contohnya, jika kita mendadak bertemu seekor harimau yang berkeluyuran bebas di tengah jalan, tidakkah kita mencari tempat bersembunyi? Jadi jelas, Tuhan memberikan kemampuan kepada manusia dan hewan untuk merasa takut, agar dapat mempertahankan hidupnya dari bahaya.

Banyak pembicara menggunakan ay. 7 sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh takut atas masalah ekonomi, keluarga, ataupun kesehatan, sebab Tuhan pasti memberikan jalan keluar. Ini tidak tepat, karena itu sebetulnya bukan ketakutan yang dimaksud, melainkan kekhawatiran. Memang asalkan hidup bertanggung jawab, kita tidak perlu khawatir. Ada pula pembicara yang mengajarkan umat untuk berdoa, minta rasa takutnya diangkat-Nya. Misalnya, seseorang yang bermasalah kejiwaan akrofobia (takut ketinggian) disuruh berdoa agar roh ketakutannya pergi. Tetapi sering kali ketakutan tersebut tidak kunjung hilang. Mengapa?

Sejatinya, ayat ini tidak berbicara mengenai ketakutan yang wajar dan alami, melainkan sifat pengecut. Kata yang digunakan untuk “ketakutan” adalah δειλία (dīlia) yang menggambarkan ketakutan yang berlebihan dan selalu negatif. Jadi Tuhan tidak melarang kita untuk takut, tetapi Ia tak suka kita menjadi pengecut. Seorang pengecut dikalahkan oleh rasa takutnya, tetapi anak Tuhan harus hidup dalam roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. “Ketertiban” aslinya ditulis σωφρονισμός (sōfronizmós) yang artinya “disiplin”, “pengendalian diri”. Roh ini membantu kita untuk dapat mengalahkan ketakutan yang negatif.

Contoh sederhana, katakan kita takut naik pesawat terbang, padahal pekerjaan Tuhan mengharuskan hal tersebut. Seharusnya walaupun sambil gemetar, kita tetap membeli tiket dan menaiki pesawat. Bila percaya terhadap kekuatan dari Tuhan, mengasihi Dia dan sesama, serta punya pengendalian diri, kita harus berani bertindak mengalahkan ketakutan, sekalipun itu berarti penderitaan bagi kita (ay. 8). Jadi sebagai anak Tuhan, untuk kepentingan-Nya kita harus mengalahkan perasaan takut. Bukan berarti kita tidak merasa takut lagi, melainkan tidak membiarkan perasaan takut itu mencegah kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Ketakutan itu mungkin akan hilang seiring waktu; tetapi sekalipun masih terasa, itu bukan alasan untuk menghindari pekerjaan Tuhan. Kita bukan umat pengecut.


Demi kepentingan Tuhan, kita harus bertindak untuk mengalahkan perasaan takut kita.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger