RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Kehinaan Kekal

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Agustus 2011

Kehinaan Kekal



Bacaan: Daniel 12: 2


12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.



Ada sebuah fakta yang tidak boleh kita tidak ketahui: bahwa dengan tubuh abadinya manusia akan dibawa ke hidup kekal atau kehinaan dan kengerian yang kekal. Dalam teks aslinya, kata “kehinaan” adalah חֶרפָּה (kherpâh) yang berarti “aib, tidak terhormat, keadaan memalukan”. Sedangkan kata “kengerian” ditulis דְּרָאוֹן (drâ’ôn) yang artinya “patut dibenci, tercela, terhina”.


Bertalian dengan hal ini, Tuhan Yesus memberi peringatan yang sangat jelas dalam Mat. 10:28, bahwa tubuh dan jiwa dapat dibuang ke dalam neraka. Tubuh yang dimaksud Yesus adalah tubuh kebangkitan, yaitu tubuh yang tidak dapat mati. Dengan tubuh yang tidak mati seseorang dibuang ke dalam lautan api. Tuhan Yesus menggambarkan tempat itu sebagai di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mrk. 9:48).

Menyadari fakta ini, ternyata kehidupan kita sebagai manusia mengandung risiko yang sangat tinggi, sebab diperhadapkan pada kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Daripada mengalami kehinaan kekal, mungkin lebih baik menjadi binatang yang setelah mati tidak ada kelanjutannya lagi.


Kehidupan kekal artinya adalah kehidupan yang berkualitas, yaitu hidup bersama dengan Penciptanya. Dialah sumber kehidupan. Di sisi lain, kehinaan dan kengerian kekal juga merupakan kehidupan, tetapi kehidupan yang terpisah dari hadirat Tuhan selama-lamanya.


Kehidupan kekal atau kehinaan dan kengerian kekal sesungguhnya dipilih oleh manusia itu sendiri selagi masih hidup di dunia ini. Seperti kata C. S. Lewis, “Ada dua jenis manusia: mereka yang mengatakan kepada Allah, ‘Jadilah kehendak-Mu,’ dan mereka yang kepadanya Allah berkata, ‘Oke, kalau begitu jadilah kehendakmu.’” Kalau kita berjaga-jaga dengan selalu memperhitungkan bahwa setiap saat kematian bisa menjemput, kita akan berusaha dikenan Allah dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau kita ceroboh dengan mencari kehormatan dan kekayaan di bumi ini tetapi mengabaikan kehormatan di kekekalan, jangan heran kalau nanti Allah berkata, “Engkau tidak ingin hidup bersama-Ku, karena itu jadilah kehendakmu: enyahlah dari-Ku selama-lamanya.” Betapa ngerinya.


Jangan tujukan mata kita hanya kepada apa yang kelihatan hari ini. Mari memperhatikan apa yang tidak kelihatan, sebab itu bernilai kekal (2Kor. 4:18). Realitas kekekalan itu sungguh dahsyat, dan jangan sampai tertipu oleh Iblis yang memenuhi hidup dengan kesibukan dan kesenangan sampai melupakan kekekalan.



Setelah kematian menjemput, di manakah kita akan ditempatkan? Itu tergantung pilihan kita selagi masih hidup di bumi ini.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.