RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Diliciki Dirinya Sendiri

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Agustus 2011

Diliciki Dirinya Sendiri



Bacaan: Yeremia 17: 9


17: 9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?



Suatu hari penulis mengunjungi kakak ipar seorang sahabat yang dirawat di rumah sakit. Saya melihat sosok pria yang mengerang kesakitan dan lemah karena hatinya membatu (sirosis) dan tidak bisa diobati lagi. Dokter yang merawat mengatakan, seandainya gejala pengerasan hati ini sudah diketahui dua puluh tahun lampau, maka ia bisa diselamatkan; tetapi sekarang sudah terlambat.


Kalau hati (liver) manusia secara fisik pada tahap tertentu tidak bisa diselamatkan, maka hati secara rohani juga bisa mengalami hal yang sama. Nabi Yeremia menulis, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Hati manusia bisa sangat licik; bahkan oleh kelicikannya, seseorang tidak menyadari bahwa hatinya licik. Ia tidak mampu mengenali hatinya sendiri. Dari teks ini tersirat jelas bahwa ada stadium penyakit tertentu saat seseorang sudah tidak bisa lagi dikoreksi oleh siapa pun, bahkan oleh Roh Kudus sendiri, karena hatinya sudah membatu.


Manakala suara Roh Kudus selalu ditolak oleh hati seseorang, dan orang itu sudah tidak bisa berubah oleh koreksi Roh Kudus, berarti ia sudah menghujat Roh Kudus. Oleh sebab itu sebelum hati kita membatu dan tidak bisa diperbaiki lagi, maka kita harus teliti memeriksa hati kita oleh pertolongan Roh Kudus dengan tekun.


Setiap kita membutuhkan intervensi Tuhan untuk membuka mata hati kita guna mengenal diri sendiri (Mzm. 139:23–24). Namun tentu dari pihak kita juga harus ada usaha sungguh-sungguh untuk mengenali diri. Allah yang mengenal kita lebih lengkap daripada kita mengenal diri kita sendiri akan menolong melihat diri kita sendiri seperti Allah melihat. Koreksi tersebut bisa melalui suara Roh Kudus yang berbicara kepada kita, atau melalui suara manusia dan kejadian di sekitar kita. Dari pergumulan itu kita mengembangkan kecerdasan roh. Inilah yang dapat menghindarkan kita dari penyesatan (2Kor. 11:2-3).


Meminta Roh Kudus menolong kita memeriksa hati harus dilakukan terus menerus. Tanpanya, siapa pun dapat diliciki oleh hatinya sendiri, termasuk hamba Tuhan. Contohnya, hamba Tuhan yang mulanya ingin menggunakan mukjizat untuk membawa orang kepada Kristus dapat diliciki oleh hatinya sendiri yang haus kehormatan dan materi. Roh Kudus berkali-kali menegurnya, namun suara-Nya yang lembut itu tidak dihiraukannya; ia lebih memperhatikan ingar-bingar suara orang yang mengelukan dirinya. Bertobatlah, sebelum hati rohani kita mengeras sampai sirosis rohani dan tidak dapat diselamatkan lagi.



Kita harus memeriksa hati kita terus-menerus dengan pertolongan Roh Kudus, agar kita senantiasa berjalan di jalan Tuhan yang kekal.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.