RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Tidak Memiliki Hak Sama Sekali


Renungan Harian Virtue Notes, 18 Desember 2011
Tidak Memiliki Hak Sama Sekali


Bacaan: Filipi 1:21

1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.


Setiap orang pasti merasa memiliki hak. Hak berarti milik, kekuasaan dan kewenangan. Seberapa seseorang merasa memiliki hak, demikianlah harga yang ditempelkan dalam hidupnya. Semakin seseorang merasa berharga, semakin banyak dan tinggi hak-hak yang dimilikinya; dengan demikian semakin tinggi dan kuat pula tuntutannya terhadap orang-orang di sekitarnya untuk menghargai hak-haknya.

Orang-orang yang merasa memiliki banyak hak ini cenderung mengeksploitasi sesamanya demi haknya, dan untuk mempertahankan haknya, mereka rela mengorbankan orang lain. Kalau orang-orang seperti ini yang menjadi pelayan Tuhan di gereja, bayangkan akibatnya. Setinggi apa pun pendidikannya, mereka tidak akan pernah melayani Tuhan. Tidak sedikit pelayan Tuhan merasa dirinya sudah melayani, padahal hakikat pelayanan itu belum ia miliki, yaitu kerelaan kehilangan hak.

Kita harus menyadari bahwa sebenarnya sebagai makhluk ciptaan, manusia tidak memiliki hak apa pun. Bahkan hak hidup yang dimilikinya itu diberikan Penciptanya dengan tujuan agar manusia itu hidup hanya untuk Penciptanya. Sejatinya yang memiliki hak hanya Pribadi yang menjadi sumber semua yang ada, yaitu Sang Pencipta Alam Semesta. Seorang makhluk ciptaan tidak pernah memiliki hak terpisah dari Penciptanya.

Memang pada mulanya manusia dipercaya Allah untuk mengelola bumi ini (Kej. 1:28, 2:15). Manusia diberi milik, kekuasan dan kewenangan; tetapi itu semua dalam rangka melaksanakan kehendak Penciptanya. Lagipula hak itu pun harus dipergumulkan. Buktinya, jika dikatakan manusia harus menaklukkan bumi, berarti bumi belum bisa dikuasai seluruhnya—menaklukkan seluruh bumi berarti juga menaklukkan Iblis yang ada di bumi juga. Namun karena gagal menaklukkan Iblis, bahkan malah memberontak terhadap Tuhan, hak-hak sebagai anak Allah lepas dari diri manusia.

Berarti seseorang yang merasa memiliki suatu hak—apapun itu—maka ia menempatkan diri sebagai pemberontak. Itulah sebabnya Rasul Paulus menegaskan bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia sadar bahwa hidupnya milik Kristus, jadi jika ia diizinkan untuk hidup oleh Kristus, ia akan menggunakannya untuk memperluas kerajaan Kristus; tetapi jika Kristus menghendakinya mati pun ia menganggapnya keuntungan, sebab ia dibebaskan dari segala kesusahan, dan akan bertemu Sang Majikan Agung, itu sukacita terbesar.


Semua yang ada dalam diri kita adalah milik Tuhan; kita tidak memiliki hak apa pun.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Read more
0

Sungguh Menakjubkan

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Desember 2011

Sungguh Menakjubkan



Bacaan: Mazmur 145:1-6


145:1 Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

145:2 Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

145:3 Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.

145:4 Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.

145:5 Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.

145:6 Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.



Kemajuan ilmu pengetahuan dewasa ini sungguh membuat manusia terkagum-kagum terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan. Kalau kita melihat alam semesta ini, kita melihat kesempurnaan. Peredaran benda-benda langit sangat menakjubkan, jumlah bintang dan galaksi yang tak terkira membuat kita merasa kecil. Di tempat tinggal kita pun, bumi yang mengelilingi matahari di jarak yang tepat—tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin—sehingga bisa ada kehidupan di bumi ini.


Tubuh kita pun mempunyai kesempurnaan !sik; Allah telah mendesain sampai ke hal-hal paling kecil sekalipun dalam tubuh manusia. Tubuh kita, metabolismenya dan cara kerjanya sangat rumit. Belum lagi unsur rohani, atau jiwa dan roh yang tidak kelihatan; termasuk di dalamnya kecerdasan dan perasaan yang kita miliki.


Ini semua membuktikan bahwa tidak mungkin semua ini ada dengan sendirinya tanpa diciptakan, dan tidak mungkin semua ini diciptakan tanpa ada tujuannya. Ada Pribadi Mahacerdas yang menciptakan semua ini dengan tujuan tertentu, yaitu terjalinnya persekutuan antara Bapa dan makhluk manusia yang dilahirkan-Nya. Semua ini mendatangkan kesenangan dan kepuasan hati-Nya.


Oleh sebab itu hidup ini harus dipahami sebagai pengalaman yang luar biasa. Kalau kita tidak menyadarinya, berarti kita tidak menghargai hidup ini. Mereka tidak mengerti kebenaran ini. Fasilitas kehidupan ini sangat mengagumkan. Apalagi sebagai makhluk yang agung ini, manusia diciptakan dengan segambar dan serupa Penciptanya sendiri. Ini memberikan kita potensi atau kemampuan untuk dapat bersekutu dan berinteraksi dengan Sang Pencipta.


Semua keagungan ciptaan Allah ini sebenarnya hanya merupakan sarana untuk terjadinya suatu perjumpaan antara manusia pribadi demi pribadi dengan Tuhan Semesta Alam yang Mahaagung. Oleh sebab itu alam semesta dengan segala kekayaannya tidak boleh menjadi tujuan.


Kuasa kegelapan telah menyesatkan banyak orang dengan membujuk mereka agar memandang bahwa kekayaan alam semesta ini menjadi tujuan. Itu dilakukannya untuk menarik sebanyak mungkin manusia menjadi sekutunya. Dengan ini kita teringat saat di awal pelayanan Yesus, Iblis membujuk-Nya untuk menyembahnya dengan memberi imbalan keindahan dunia. Jadi kalau seorang terpikat untuk memiliki alam semesta dan keindahan yang ada di dalamnya, berarti ia telah menyembah Iblis (Luk. 4:5–8). Menanglah terhadapnya, seperti Yesus telah menang.



Semua keagungan ciptaan Allah merupakan sarana untuk terjadinya perjumpaan antara manusia dengan Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Parákletos

Renungan Harian Virtue Notes, 16 Desember 2011

Parakletos



Bacaan: Yohanes 14:26


14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.



Sebelumnya Roh Allah menyertai manusia, tetapi kemudian Ia undur meninggalkan anak-anak Allah dalam Kej. 6:1-4 merupakan gambaran dari kehidupan anak-anak Allah hari ini yang sampai taraf tertentu tidak lagi menerima tuntunan Tuhan. Mereka hidup dalam keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:15–17).


Jadi hal yang sama juga dilakukan oleh anak-anak Allah hari ini, yang memilih untuk lebih mengasihi dunia dan keinginan sendiri daripada mendengar suara Tuhan dan hidup menuruti kehendak Tuhan. Alkitab menggambarkan orang-orang semacam ini dalam berbagai perumpamaan: orang-orang yang telah menerima undangan untuk mengikuti pesta perjamuan tetapi tidak mengenakan pakaian pesta (Mat. 22:1–14) atau lima gadis yang bodoh (Mat. 25:1–13).


Di mata orang, belum tentu orang yang hidup tidak sesuai kehendak Allah itu jahat. Bila mereka melakukan pelanggaran pun, banyak di antara mereka cerdik menyembunyikan kejahatannya dari orang lain. Tetapi mata Tuhan yang dapat menembus semua wilayah, Tuhan tahu bahwa mereka tidak melakukan kehendak Bapa.


Kalau kita merasa termasuk kelompok orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa ini, jangan mengeraskan hati. Masih ada kesempatan untuk bertobat, tetapi kalau kita mengeraskan hati terus, akhirnya bisa binasa. Kabar baiknya adalah Roh Kudus yang diutus oleh Bapa masih bersedia mendampingi kita untuk kembali menuntun kepada seluruh kebenaran Allah.


Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Parákletos yang berarti “penghibur”, “pendamping” atau “penolong”. Ialah yang mengajar kita kepada kebenaran, menghibur kita di kala kita merasakan kesulitan untuk mengejar kehendak Allah, dan juga menolong dan menguatkan kita supaya bersemangat dalam berjalan tetap di jalan Tuhan.


Namun pendampingan oleh Roh Kudus ini bisa terhenti. Manakala keinginan daging seseorang sudah sangat kuat dan dominan menguasai hidupnya, ia tidak lagi memberi tempat bagi Roh Kudus. Ia menolak Roh Kudus, dengan kata lain menghujat-Nya. Roh Kudus pun akan mengundurkan dirinya dari orang itu. Kalau sudah begini tak ada kemungkinan lagi untuk bertobat. Maka sekaranglah waktunya untuk merendahkan diri, selama Roh Kudus masih ingin menolong. Merataplah dengan tulus, mohon pengampunan. Tuhan selalu menyediakan ruang hati-Nya menyambut mereka yang sungguh-sungguh bertobat dan bersedia diperbarui.



Jika kita telah melenceng dari jalan Tuhan, bertobatlah selama Roh Kudus masih ingin menolong.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Memimpin Kepada Seluruh Kebenaran

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Desember 2011

Memimpin Kepada Seluruh Kebenaran



Bacaan: Yohanes 16:13


16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.



Apa yang kita lakukan dan seluruh perilaku kita sangatlah ditentukan dari cara kita memandang dunia dan hidup. Ini merupakan hasil dari akumulasi apa yang telah kita serap dari lingkungan kita, yang membangun pola berpikir yang mengakar. Hasil akhir dari kehidupan ini adalah sikap hati kita yang terwujud dalam seluruh perilaku atau perbuatan kita: Apakah sesuatu yang dilakukan karena dorongan daging kita atau roh kita.


Untuk bisa melakukan segala sesuatu berdasarkan dorongan rohnya, maka kita harus mengisi jiwa dengan kebenaran Firman Tuhan. Jiwa yang diisi dengan kebenaran Firman akan membangun pikiran yang sesuai dengan roh, yang sesuai dengan pikiran Allah. Roh Kudus yang dimeteraikan dalam diri kita berfungsi membuka pengertian kita untuk memahami kebenaran Firman Tuhan. Jiwa dicerahi oleh Roh Kudus untuk mengerti pikiran dan perasaan Allah melalui Firman Tuhan. Roh manusia tidak akan menjadi kuat kalau pikirannya tidak mengerti Firman Tuhan, dan pikiran manusia tidak akan mengerti kebenaran Firman Tuhan kalau tidak dicerahi oleh Roh Kudus. Ingat bahwa Roh Kuduslah yang memimpin orang percaya kepada seluruh kebenaran.


Maka jika kita melihat orang percaya yang baik-baik saja, biasa-biasa saja tetapi hidupnya tidak seirama dengan Tuhan, mungkin roh mereka redup, lemah, bahkan mungkin sudah nyaris mati. Ini akibat mereka tidak bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan yang murni. Mereka mungkin mengabaikan pelayanan untuk menguatkan roh, dan sebaliknya malahan melestarikan pelayanan yang melemahkan roh. Padahal jika roh manusia dikuatkan, akan bisa mengendalikan jiwa, dan jiwa mengendalikan seluruh kehidupan.


Pelayanan pekerjaan Tuhan yang bertujuan untuk menguatkan roh akan difokuskan pada pembaruan pikiran secara serius dan berkesinambungan. Ini hanya mungkin jika pelayan-pelayan jemaatnya juga sudah hidup menurut roh, pikirannya dicerahi oleh Roh Kudus. Kalau pelayan-pelayannya masih hidup menurut daging, tidak akan ada titik temu dengan orang yang hidup menurut roh.


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyediakan diri agar pikiran kita dicerahi oleh Roh Kudus? Berdoalah agar Roh Kudus selalu memimpin kita dalam memahami kebenaran Firman Tuhan. Firman Tuhan yang murni selalu memuliakan Tuhan, dan membangun kita untuk bertumbuh ke arah kesempurnaan yang diingini oleh-Nya.



Pikiran manusia tidak akan mengerti kebenaran Firman Tuhan kalau tidak dicerahi oleh Roh Kudus.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Makanan Jiwa

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Desember 2011

Makanan Jiwa



Bacaan: Matius 4:4


4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."



Apa maksud Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah? Tentu ini menunjukkan dengan jelas bahwa manusia bukanlah makhluk fisik semata-mata. Manusia juga makhluk rohani, yang membutuhkan konsumsi makanan untuk jiwanya.


Kalau makanan jiwanya benar, maka sehatlah jiwanya, tetapi kalau makanan jiwanya salah, maka rusaklah rohaninya. Masalahnya makanan jiwa yang disediakan oleh dunia hari ini sebagian besar justru tidak sehat dan membinasakan. Makanan jiwa yang tidak sehat itu dialirkan melalui berbagai saluran dan media, antara lain budaya dan pergaulan hidup, film, lagu-lagu, Internet dan lain sebagainya. Menyedihkannya, banyak juga yang disajikan dengan bungkusan Kristen. Tidaklah mengherankan jika tidak sedikit orang percaya memiliki pola pemikiran yang salah, karena telah mengonsumsi makanan jiwa yang tidak sehat itu.


Dunia mengatakan apa yang disediakannya baik, dan banyak orang lain juga mengatakan memang makanan jiwa dari dunia itu baik. Ya, memang mungkin itu baik menurut perspektif dunia, namun belum tentu baik menurut perspektif Allah. Inilah sesungguhnya pergumulan hidup yang paling utama yang dihadapi manusia.


Seharusnya manusia memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Allah, tetapi rupanya manusia memilih memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Iblis. Akibatnya manusia memiliki pandangan yang salah dalam segala aspeknya. Sebagai contoh, tatkala manusia memilih cara pandang Iblis, mereka merasa malu dengan ketelanjangan mereka, padahal sebelumnya mereka sudah lama telanjang tanpa malu. Jadi yang membuat malu bukanlah fakta ketelanjangan itu, melainkan pikiran mereka.


Demikian pula dengan kehidupan kita hari ini. Sudahkah kita memandang dunia dan hidup ini melalui cara pandang Tuhan, atau cara pandang anak dunia? Bila kita dikehendaki-Nya agar tidak serupa dengan dunia ini, maksud-Nya agar kita tidak memandang dunia dan hidup sama dengan anak dunia (Rm. 12:2). Untuk itulah kita harus selalu mengalami pembaruan pikiran setiap hari.


Seperti kita memilih apa yang kita makan dan minum agar manusia lahiriah kita sehat, demikian pula kita perlu memilih apa yang kita baca, dengar, tonton dan percakapkan agar manusia batiniah kita sehat. Pilihlah dengan bijaksana; standarnya adalah Firman Tuhan yang murni.



Tuhan menghendaki kita untuk tidak serupa dengan dunia ini, agar cara pandang kita berbeda dengan anak dunia.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tubuh Manusia

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Nopember 2011

Tubuh Manusia



Bacaan: 2 Korintus 5:1-6


5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

5:2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,

5:3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.

5:4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.

5:5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.

5:6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,



Manusia terdiri dari manusia lahiriah dan manusia batiniah. Karena orang biasanya melihat yang kelihatan, maka mereka memperhatikan manusia lahiriah lebih daripada yang batiniah. Padahal sebagai makhluk rohani, komponen yang terutama dan yang paling bernilai justru apa yang tidak kelihatan, yaitu roh dan jiwa manusia. Roh manusia adalah entitas yang permanen, tetapi tubuh manusia tidak.


Kita harus mengetahui realita tubuh manusia. Tubuh yang kita miliki ini selalu berubah dari waktu ke waktu; tidak pernah tetap secara permanen. Setiap hari milyaran sel tubuh kita mati, dan digantikan oleh sel-sel yang baru. Rata-rata tubuh manusia memiliki 100 trilyun sel, dan setiap detik 200.000 hingga 3 juta sel mati dalam tubuh seorang dewasa. Maka jelas bahwa dalam tubuh manusia selalu terjadi regenerasi setiap saat. Kematian dalam tubuh manusia selalu berlangsung, dan kelahiran juga terus berlangsung.


Ini menunjukkan bahwa tubuh kita ini fana; yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Maka tubuh tidak bisa memberi nilai diri; yang member nilai adalah manusia batiniahnya. Tetapi kita mengakui bahwa roh dan jiwa manusia membutuhkan pakaian atau tempat tinggal, dan itulah tubuh.


Ketika Paulus berbicara mengenai tekanan atas hidup ini, ia sedang berbicara mengenai kerinduannya mengenakan pakaian baru yaitu tubuh kebangkitan. Tubuh baru itu akan diberikan kepada kita di langit dan bumi baru kelak. Untuk dunia sekarang ini, kita harus masih mengenakan tubuh fana ini. Meskipun demikan kita tetap harus berusaha memperoleh perkenanan Bapa dengan tubuh fana ini.


Dari penjelasan ini, kita dapat mengerti mengapa Tuhan berfirman bahwa tidak ada gunanya seseorang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa (Mat. 16:26). Kalau seseorang hanya memuaskan sejenak tubuhnya yang fana ini, tetapi roh dan jiwanya yang permanen ditelantarkan dan akhirnya binasa di api kekal, betapa malangnya. Nyatanya di dunia ini lebih banyak orang yang memperhatikan kesenangan !siknya dari pada kehidupan manusia batiniahnya.


Setelah melihat fenomena kehidupan ini, mari kita mewaspadai keinginan daging kita, dan membuang segala keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus selalu mengingat bahwa tubuh kita yang sekarang adalah sementara; tubuh kekal akan kita peroleh kelak, untuk menjadi pakaian bagi manusia batiniah kita yang kekal. Karena itu kita harus lebih memperhatikan manusia batiniah kita, dan tidak mudah dihanyutkan oleh keinginan daging.



Kita harus berusaha memperoleh perkenanan Bapa dengan tubuh fana ini.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Mengisi Bejana Hati

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Desember 2011

Mengisi Bejana Hati



Bacaan: Kejadian 25:29-34


25:29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.

25:30 Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.

25:31 Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu."

25:32 Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?"

25:33 Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.

25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.



Orang Ibrani sangat memandang tinggi putra sulung. Putra sulung yang dilahirkan dipandang sebagai simbol kekuatan dan kegagahan orang tuanya. Karena itu ia memperoleh hak kesulungan, yaitu hak istimewa sebagai anak sulung, yaitu berkat dan harta warisan yang lebih banyak dari orang tuanya.


Namun kita melihat Esau memandang rendah hak kesulungannya. Hanya karena saat kelelahan ia melihat adiknya, Yakub, memasak kacang merah ia pun menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Ia pun tidak dapat memperbaiki kesalahannya dan tidak dapat memperoleh berkat yang semestinya dimilikinya sebagai anak sulung.


Hak kesulungan yang berupa berkat itu merupakan lambang dari hak kita memperoleh berkat-berkat rohani dari Tuhan. Kalau Esau memandangnya lebih rendah daripada sepiring makanan, apakah kita memandang hak ini berharga dan layak diperjuangkan? Berkat-berkat rohani tersebut berupa persekutuan yang indah dengan-Nya dan pembaruan manusia rohani kita ke arah kesempurnaan.


Jika kita memandangnya berharga dan layak diperjuangkan, maka kita harus mengisi bejana hati kita dengan kebenaran. Seperti kita tahu bahwa manusia pertama sejak awal diperhadapkan dengan pilihan untuk makan buah pohon kehidupan atau buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, kehidupan kita sebagai orang percaya hari ini juga diperhadapkan dengan pilihan serupa: apakah kita hendak mengisi jiwa kita dengan pengetahuan kebenaran dari Tuhan, atau dari dunia. Hal-hal dari dunia adalah yang memuaskan kedagingan kita, tetapi tidak membawa kita kepada kesempurnaan.


Kalau kita mengisi bejana hati kita dengan hal-hal dari Tuhan, maka kita akan mengalami pembaruan pikiran sehingga mengerti kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan sempurna (Rm. 12:2). Menarik sekali, dikatakan bukan mengerti apa yang baik dan jahat. Tentu ini sejajar dengan buah pohon kehidupan dan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.


Kalau kita tidak segera mengisi bejana hati ini dengan kebenaran, kita harus sadar untuk mulai mengisinya sekarang, sebab jika dibiarkan, suatu saat nanti kita tidak akan mampu lagi untuk mengisinya dengan kebenaran dan tidak lagi memiliki tempat untuk kebenaran Firman Tuhan. Menunda hal ini sama dengan memberontak kepada Allah, seperti makan buah yang dilarang Tuhan.



Jika kita memandang hak memperoleh berkat rohani sebagai sesuatu yang berharga, kita akan memilih untuk mengisi bejana hati kita dengan kebenaran.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger