RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Manusia Dan Predator

Renungan Harian Virtue Notes, 26 Mei 2011

Manusia Dan Predator



Bacaan: 1 Korintus 15: 29-34


15:29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?

15:30 Dan kami juga--mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya?

15:31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

15:32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati".

15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

15:34 Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.



Ada sebuah pertanyaan yang tampak sederhana tetapi susah dijawab yaitu, “Apakah hidup itu?” Apabila seseorang gagal menemukan jawaban atas pertanyaan ini, maka ia juga akan gagal dalam kehidupan ini. Kenyataannya, banyak orang yang gagal menjawab pertanyaan ini. Konyolnya mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mengetahui jawabannya, tetapi mengganggap mereka sudah tahu. Bagai orang buta yang tidak sadar bahwa ia buta. Kalau kebenaran Injil tidak diberikan kepada mereka agar celik, maka mereka akan tetap buta sampai selamanya.


Biasanya dalam memahami hidup orang hanya memikirkan kegiatan yang dilakukan manusia pada umumnya, yaitu harus sekolah sejak kecil, lalu kuliah, berkarier, bekerja, menemukan teman hidup, meneruskan generasi dengan anak-anak yang cakap, memiliki fasilitas hidup—rumah, mobil dan lain sebagainya, akhirnya memiliki tunjangan hari tua. Itulah hidup.


Pemahaman hidup yang salah ini membuat manusia menjadi makhluk yang tidak berkualitas. Inilah yang membuat banyak orang tanpa sadar setuju dengan pernyataan seorang filsuf, bahwa manusia adalah binatang yang berpakaian. Manusia hanya memiliki kelebihan, yaitu fasilitas materinya dibanding binatang; tetapi pada hakikatnya sama dalam mempertahankan hidup.


Sering cara hidup manusia sama seperti binatang, yaitu menjadi predator (pemangsa) yang menganut hukum rimba: siapa yang kuat akan menang. Akibatnya ia hidup di atas kematian orang lain. Memang bedanya manusia memiliki kecerdasan dalam melakukan pembunuhannya sebagai predator, yaitu membunuh dengan cara yang tampaknya beradab, padahal biadab.


Apabila kita hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri dan keluarga kita, dan berpikir boleh memangsa orang-orang di luar keluarga kita, kita harus bertobat. Kita tahu bahwa hampir semua manusia menganggap hal ini wajar, padahal itu egoisme yang tidak disukai Tuhan. Orang Kristen yang terjebak dalam hal ini juga banyak. Mereka ke gereja dengan tujuan agar urusannya di bumi ini menjadi mulus.


Paulus mengatakan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (ay. 33) Mengikuti cara hidup orang-orang dunia yang buruk akan merusak kebiasaan anak-anak Allah. Itulah cara Iblis menyesatkan dan menipu kita. Kalau kita masih menganggap cara hidup predator adalah benar, sadarlah dan segeralah bertobat (ay. 34).



Mengikuti cara hidup orang-orang dunia akan merusak kebiasaan anak-anak Allah.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.