RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Berpusat Kepada Allah

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Mei 2011

Berpusat Kepada Allah



Bacaan: Yakobus 4: 1-4


4:1. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?

4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.

4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah



Orang percaya dipanggil untuk hidup berpusat kepada Allah, bukan berpusat kepada pribadi lain. Berpusat kepada Allah artinya hidup ini hanya untuk melayani Tuhan saja, sebab untuk itulah manusia diciptakan-Nya.


Oleh sebab itu orang percaya harus menyangkal diri, yaitu menolak cara hidup manusia pada umumnya yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Cara hidup manusia pada umumnya adalah hidup hanya untuk menikmati dunia ini sebagai hal yang utama. Berusaha meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia sekarang ini, dan seolah-olah tidak ada dunia lain yang perlu dinantikan. Itu sama saja dengan menjadi sahabat dunia, sesuatu yang dibenci Allah. Untuk hal ini, Yakobus menulis: “Barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (ay. 4).


Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa harta kekayaan di dunia ini tidak boleh menjadi tujuan kehidupan; tetapi itu semua harus menjadi sarana bagi kita melayani Tuhan. Namun kita lihat saat ini bahwa yang sering dipromosikan justru sebaliknya: Allah menjadi sarana untuk meraih harta kekayaan dunia. Kalau begini berarti pusat hidupnya adalah dunia, bukan Allah.


Dengan menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita, bukan berarti kita tidak boleh meraih uang dan menggunakan fasilitas hidup di dunia ini. Justru kita harus dapat meraih sebanyak-banyaknya uang dan fasilitas hidup yang ada agar dapat digunakan untuk pekerjaan-Nya. Dengan memiliki semakin banyak, tentu kita semakin efektif bagi Tuhan.


Perbedaan kita dengan manusia pada umumnya adalah pusat hidupnya. Kalau kita menjadikan Allah sebagai pusat, maka kita akan merelakan semua yang ada pada kita untuk kepentingan-Nya; tetapi kalau dunialah yang menjadi pusat, pasti kenikmatan hidup duniawi dijadikan hal yang utama. Itulah cara hidup manusia pada umumnya. Kalau orang percaya hidupnya tidak berpusat kepada Tuhan, berarti ia berkhianat kepada-Nya; berarti ia sejatinya menyembah Iblis (Luk. 4:7).


Jika kita di dalam hati kita masih menganggap cara hidup seperti manusia pada umumnya adalah wajar, berarti kita masih tertawan oleh belenggu keindahan dunia. Semua ini bukan berasal dari Bapa tetapi berasal dari kuasa jahat. Buatlah komitmen untuk bertobat melalui perjuangan melepaskan belenggu tersebut. Jika kita mau berjuang dan menyerahkan diri kepada pimpinan Roh Kudus, kita pasti bisa melepaskan diri dari keduniawian tersebut.



Jika kita menjadikan Allah pusat hidup kita, kita akan merelakan semua yang ada pada kita untuk kepentingan-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.