RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Merimnao

Renungan Harian Virtue Notes, 21 Desember 2010

Merimnao



Bacaan: Matius 6: 25-34


6:25. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."



Apakah kekhawatiran itu? Menurut kamus bahasa Indonesia, khawatir adalah “takut, gelisah, cemas, terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti”. Dalam teks asli Mat. 6:25, khawatir diterjemahkan dari kata μεριμνάω (merimnaō) yang artinya “cemas, waswas terhadap sesuatu”, “menaruh sesuatu dalam pikiran”, tetapi ternyata juga berarti “berhati-hati” atau “peduli terhadap sesuatu”.


Dalam hal ini dapat dipahami bahwa kekhawatiran tidak selalu bermakna negatif. Orang yang sama sekali tidak memiliki kekhawatiran cenderung menjadi ceroboh dan tidak bersikap berjaga-jaga. Maka kita perlu dapat membedakan antara kekhawatiran yang negatif dan kekhawatiran yang positif. Sebenarnya kekhawatiran yang positif seharusnya disebut “berjaga-jaga” dan tidak bisa disebut sebagai kekhawatiran; tetapi untuk mempertajam penjelasan, terpaksalah disebut khawatir juga.


Kekhawatiran yang negatif adalah kecemasan atau ketakutan yang membangun kegelisahan dalam jiwa dan kecurigaan kepada Tuhan, bahkan sampai tingkat pelecehan terhadap pribadi Allah. Dengan kecemasan tersebut, orang bisa menuduh Allah sebagai Bapa yang tidak bertanggung jawab. Kekhawatiran negatif ini ditandai dengan selalu menaruh masalah yang dicemaskan dalam pikirannya. Beban ini membangun pikiran negatif yang merusak tidak saja jiwa tetapi juga fisik.


Kekhawatiran yang positif adalah sikap berhati-hati terhadap sesuatu, khususnya terhadap hal-hal yang akan datang. Ini membangkitkan sikap bertanggung jawab dengan cara berjaga-jaga menghadapi apa yang akan terjadi. Dengan kekhawatiran seperti ini, kita tidak akan menjadi sembrono. Kekhawatiran yang positif ditandai dengan tidak selalu meletakkan masalah dalam pikirannya, sebagai gantinya lebih bersikap antisipatif. Masalah tidaklah menjadi beban baginya.

Sering orang tidak dapat membedakan antara sikap berjaga-jaga dan kekhawatiran. Sikap berjaga-jaga terlahir dari kecemasan yang membangun tanggung jawab dan ketergantungan kepada Tuhan. Tanggung jawab berarti keadaan wajib menanggung segala sesuatunya—kalau terjadi apa-apa yang tidak sesuai boleh dituntut, dipersalahkan atau diperkarakan. Ketergantungan kepada Tuhan berarti bahwa Tuhan adalah segalanya. Dalam hal ini, yang penting adalah sikap hati, dan sikap hati memuliakan Tuhan pasti terekspresi dalam tindakan konkret—dalam hal ini tindakan berantisipatif terhadap segala sesuatu yang bisa terjadi dilakukan karena ingin memuliakan Tuhan. Tindakan antisipatif bukan dibangun dari ketakutan, tetapi menghargai potensi yang Tuhan berikan untuk dikembangkan guna menghadapi segala kemungkinan ke depan dengan tujuan memuliakan Tuhan.



Salah satu ciri orang yang bertanggung jawab adalah kita selalu mengembangkan sikap berjaga-jaga.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.