RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Allah Menghendakinya?

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Desember 2010

Allah Menghendakinya?



Bacaan: Roma 12: 1-8


12:1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.

12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;

12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.



Pernahkah Saudara mendengar tentang Perang Salib? Perang Salib bermula sekitar tahun 1070, pada waktu Palestina, Siria dan Asia Kecil jatuh ke tangan orang Turki yang jatuh ke tangan kekuasaan Islam. Dihembuskan kabar bahwa orang-orang Kristen dari Eropa yang berhasrat berziarah ke Palestina sering mendapat perlakukan yang menyakitkan dari bangsa Turki tersebut, bahkan musafir-musafir Kristen yang dalam perjalanan ke Yerusalem sering mengalami penganiayaan. Mereka menyampaikan keberatan mereka kepada paus. Ditambah permohonan pertolongan dari Kaisar Byzantium, maka diadakanlah konsili (sidang gereja) di Clermont (Prancis) pada tahun 1095, yang memutuskan untuk mengerahkan kekuatan, mengangkat perang untuk mengembalikan kendali Kristen atas Timur Tengah, yang disebut Perang Salib (Crusade) oleh Paus Urbanus II. Di mana-mana orang Kristen menyambut baik seruan Paus tersebut dan meneriakkan slogan, “Allah menghendakinya!”


Orang-orang Kristen yang siap berperang menempelkan sebuah salib dari kain merah pada bahu atau dadanya sebagai tanda bahwa mereka mau pergi Ke Yerusalem untuk merebut kota yang dianggap suci oleh umat Yahudi dan tempat dimana Tuhan Yesus disalib. Inilah sejarah gelap hubungan antara Kristen dan Islam. Korban yang jatuh tidak terhitung. Bahkan beberapa sumber mengatakan, pada 1212 anak-anak dikirim untuk ikut berperang. 30.000 anak-anak dikirim menuju ke medan perang. Tidak ada dari mereka yang sampai di Yerusalem. Banyak yang mati di perjalanan; banyak yang dijual sebagai budak; sisanya dipulangkan ke rumah.


Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa sejarah ini adalah, jangan mudah mengatakan, “Allah menghendakinya.” Dalam gelombang manusia yang berkata demikian, maka hati nurani pun menjadi gelap, kejujuran tidak ada lagi dan suara setanlah yang menjadi paling kuat. Bukankah dewasa ini sangat mudah orang berkata, “Allah menghendakinya”, atau “Ini kehendak Tuhan”? Pernyataan ini lebih sering muncul di bibir beberapa hamba Tuhan yang mengaku sebagai VIP di mata Tuhan, padahal tidak bisa membedakan suara Tuhan dengan suara dirinya sendiri. Akibatnya banyak jemaat yang disesatkan oleh nubuat palsu mereka, yang sebetulnya bukan nubuat tapi “lubuat”. Merekalah nabi-nabi palsu zaman ini.


Mari belajar memiliki kepekaan yang murni untuk mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Sudah saatnya kita peka terhadap suara Tuhan, supaya jangan sampai terjadi pemalsuan, di mana suara diri sendiri diakui sebagai suara Tuhan. Berhati-hatilah!



Belajarlah memiliki kepekaan yang murni terhadap kehendak Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.