RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Mengumpulkan Harta Di Surga

Renungan Harian Virtue Notes, 8 Desember 2010

Mengumpulkan Harta Di Surga



Bacaan: Galatia 4: 9-11


4:9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?

4:10 Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.

4:11 Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.



Banyak orang berpikir bahwa mengumpulkan harta di surga berarti memberikan persembahan atau persepuluhan berupa uang di gereja, atau memberikan sedekah kepada orang miskin. Pandangan ini sebenarnya pengaruh dari konsep agama-agama di sekitar kita. Mengumpulkan harta di surga bukanlah melakukan hukum-hukum atau menyelenggarakan syariat-syariat agama; juga bukan menceburkan diri dalam kegiatan pelayanan rohani, bahkan menjadi pendeta.


Kita mengumpulkan harta di surga, karena kita juga adalah ahli waris Kerajaan Surga (Rm. 8:17). Tetapi bagaimana caranya? Dengan memfokuskan diri kita kepada Kerajaan-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan-Nya, karena itu kita harus melakukan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Sia-sialah kita melakukan kegiatan rohani apabila tidak didasarkan atas kehendak Bapa. Tetapi tatkala kita mendasarkan segalanya atas kehendak Bapa, kita menjadi semakin kaya dengan harta di surga.


Hukum dan ritual (upacara agama) diberikan kepada bangsa Israel di Perjanjian Lama, sebab mereka belum mampu mengerti kebenaran yang mendalam di dalam Kristus. Jadi, kalau sebagai orang Kristen kita mengikuti pola keberagamaan bangsa Israel, maka kita akan terjebak dalam pola permainan orang beragama yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan dengan benar. Kebenaran ini tidak bisa dikenakan oleh semua orang beragama. Ini hanya bisa dikenakan oleh bagi umat pilihan yang diproyeksikan mampu berkarakter Kristus.


Berarti setelah kita mengenal dan dikenal oleh Allah, jangan lagi kita mau diperhambakan oleh roh-roh dunia yang lemah dan miskin (Gal. 4:9). Apabila kita menganggap mengumpulkan harta di surga adalah melakukan hukum dan syariat agama, sesungguhnya kita miskin, sebab yang kita lakukan adalah mengumpulkan harta di dunia. Bukan berarti salah kalau kita memberi persembahan ke gereja, atau membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan; tetapi dasarnya bukan karena kita takut dosa bila melanggar hukum agama, melainkan karena kasih.


Kasih adalah tindakan yang selaras dengan kehendak Bapa, karena Ia adalah kasih. Untuk mewujudkannya, kita harus mengerahkan seluruh diri kita untuk mengasihi Tuhan, dan Ia pun akan menolong kita bagaimana mengerti kehendak-Nya. Maka kalau kita masih menganggap kehendak Tuhan itu sesuatu yang abstrak atau tidak dapat dipahami, tanyakan kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempertaruhkan seluruh hidup kita untuk mengasihi-Nya?



Mengumpulkan harta di surga mengharuskan kita rela mempertaruhkan seluruh hidup kita bagi Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.