RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Tidak Nyaman Lagi

Jum'at, 30 April 2010

Bacaan : Lukas 12 : 16-21

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."


Perubahan-perubahan oleh kuasa Firman TUHAN atas seseorang akan membuat ia tidak merasa nyaman lagi hidup di bumi ini. Ia melihat ketragisan hidup ini, namun tetap bisa menikmati semua berkat yang TUHAN sediakan. Selanjutnya ia makin menghayati apa artinya bahwa di dunia ini bukan rumahnya. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara. Inilah yang harus terus menerus diajarkan kepada jemaat TUHAN bahwa TUHAN memilih kita untuk meninggalkan dunia ini, sama seperti Abraham diperintahkan untuk meninggalkan Ur-Kasdim. Apakah pola hidup ini membuat seorang anak TUHAN nampak tidak wajar? TUHAN tidak mengajarkan kita hidup secara tidak wajar di mata manusia. Kita tetap hidup wajar, dalam pengertian tidak kehilangan "kemanusiaan" kita. Menjalani hidup seperti manusia lain dalam bekerja mencari nafkah, makan dan minum, menikah, menikmati alam, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, menikmati hobi-hobi yang menyukakan hati, berolahraga, berekreasi, dan lain sebagainya.

Jadi, menyangkal diri pada prinsipnya bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral seperti membunuh, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya; tetapi juga kesediaan untuk mengubah tujuan dan motif hidup. Jadi yang paling dipersoalkan bukanlah "buah" semata-mata, tetapi akarnya. Mengertilah kita mengapa Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Timotius 6 : 10), tradisi yang diturunkan nenek moyang kita.


Inilah yang ditunjukkan TUHAN Yesus mengenai orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri tetapi tidak kaya di hadapan TUHAN. Filosofi hidupnya adalah, "Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati" (1 Korintus 15 : 32). Bukankah ini filosofi dunia hari ini? Ungkapan "tidak kaya di hadapan TUHAN" hendak menyerukan kita agar kita kaya di dalam TUHAN. Untuk kaya di dalam TUHAN, kita harus mengumpulkan harta di Surga, dengan memiliki motivasi dan tujuan hidup yang benar mulai sekarang juga. Dengan memiliki harta di Surga, wajar kalau kita tidak nyaman lagi hidup di dunia ini. Mengumpulkan harta di Surga, dengan memiliki motivasi dan tujuan hidup yang benar harus diajarkan terus menerus kepada Jemaat, dan juga dari orang tua kepada anak-anaknya. Mengumpulkan harta di Surga, dengan memiliki motivasi dan tujuan hidup yang benar bukan hanya sekedar membantu pelayanan Gereja, terlibat dalam aktivitas Gereja dan berbagai kegiatan rohani lain yang kita golongkan melayani TUHAN, melainkan menyangkut seluruh irama hidup setiap hari. Di dalamnya TUHAN akan mengajar, membentuk dan memproses orang percaya.




Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.