RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Sesat

Selasa, 20 April 2010

 

Bacaan : Lukas 15 : 11-32

 

15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 15:20Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 15:22Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

 

Kita mungkin sudah akrab dengan kisah anak yang hilang, tetapi jangan-jangan pengertian kita masih salah. Banyak yang menganggap anak yang hilang atau sesat itu menunjukkan seorang Kristen yang meninggalkan agamanya, atau orang yang tidak mau memeluk agama Kristen. Ini karena selama ini kalau orang berbicara mengenai penyesatan, sering dihubungkan dengan keadaan seseorang yang tidak melakukan kegiatan agama, seperti tidak ke Gereja lagi. Jadi kalau orang rajin ke Gereja, berarti tidak sesat.

 

Pengertian di atas ini sebenarnya tidak tepat. Dalam bahasa Indonesia, kata 'sesat' artinya tidak melalui jalan yang benar atau salah jalan. Bila jalan yang dimaksud di sini adalah agama Kristen, tentu saja semua orang Kristen di anggap tidak sesat. Benarkah bahwa semua orang yang beragama Kristen berarti tidak sesat? Apakah setiap orang Kristen yang ke Gereja pasti masuk Surga?

 

Sesungguhnya si anak hilang yang akhirnya kembali lagi itu tidak menggambarkan orang yang belum Kristen kemudian masuk agama Kristen. Memang anak yang sesat itu akhirnya selamat, tetapi maksud keselamatan itu bukan soal agama. Bapa memberikan Putra-NYA yang tunggal, agar manusia diselamatkan. Keselamatan itu adalah kembalinya manusia kepada rancangan-NYA yang semula, yaitu menciptakan manusia yang luar biasa. Disebut luar biasa, sebab hanya mahluk inilah yang memiliki roh dari ALLAH (Kejadian 2 : 7). Roh dari ALLAH ini memungkinkan manusia untuk melakukan apa yang ALLAH lakukan, mengerti pikiran dan perasaan ALLAH, bisa menjadi sekutu, kawan sekerja, kekasih dan sahabat ALLAH.

 

Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat roh dari ALLAH yang ada dalam diri manusia ini tidak berkuasa mendominasi kehidupan manusia itu, sebab seperti si anak sesat, keinginan daging lebih kuat mendominasinya. "Roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Matius 26 : 41). Kata "penurut" dalam teks aslinya adalah "prothumos" yang artinya "dengan kerelaan" atau "siap, bersedia". Roh memiliki kehendak yang dengan rela bersedia melakukan apa yang TUHAN kehendaki, tetapi daging lemah. Kata "lemah" dalam teks aslinya adalah "asthenes" yang berarti "tidak ada kekuatan", tetapi juga berarti "sakit". Manusia yang sesat tidak mampu mengerti pikiran, perasaan, dan kehendak ALLAH. Manusia tidak mampu melakukan rencana TUHAN. Manusia tidak mampu menjadi sekutu, kekasih dan sahabat TUHAN. Inilah keadaan sesat itu. Keselamatan berarti pemulihan kehidupan yang mengembalikan manusia untuk menjadi sahabat TUHAN.

 



Bookmark and Share

1 komentar:

Dewi Bunga mengatakan...

Buat yang Kristen/Katolik atau yg non-muslim, mari kunjungi blog ini: http://islamexpose.blogspot.com
atau klik nama saya (Dewi Bunga)

GBU ;)

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.