RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Tubuh, Jiwa dan Roh

Selasa, 13 April 2010

Bacaan : 1 Tesalonika 5 : 23

Setiap manusia mempunyai bagian material (fisik) dan bagian imaterial (non fisik). Semua orang setuju mengenai tubuh manusia yang kelihatan, yang terdiri dari darah, daging, tulang sampai sel-selnya. Tetapi manusia yang tidak kelihatanlah yang sering diperdebatkan. Alkitab mengatakan bahwa ada bagian-bagian yang tergabung dalam diri manusia ini, yaitu roh, jiwa, dan tubuh. Karena itu perdebatan yang terjadi adalah, apakah manusia terdiri dari dua bagian (dikotomi) atau tiga bagian (trikotomi)? Gereja-gereja Barat umumnya menganut teori dikotomi : Membagi manusia menjadi dua bagian, yaitu manusia lahiriah (tubuh) dan manusia batiniah (jiwa dan roh). Tetapi banyak gereja di Timur menganut teori trikotomi : Membagi manusia menjadi tiga bagian, yaitu tubuh (komponen fisik), jiwa (komponen intelektual dan emosional), dan roh (komponen religius).

Kenyataannya, sangat sukar untuk mengatakan secara dogmatis apakah manusia itu terdiri dari dua atau tiga bagian. Usaha untuk membagi manusia secara mutlak akan menghasilkan kebingungan, sebab manusia adalah suatu pribadi totalitas yang tidak terpisahkan, semuanya saling terhubung menjadi satu sistem. Namun demikian, sebagaimana dikatakan oleh Alkitab, manusia juga bukan satu, dalam arti hanya terdiri dari satu komponen saja.

Perhatikan bagaiman TUHAN menciptakan manusia. IA membentuk manusia dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas hidup. Kemudian manusia menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2 : 7). Roh dari ALLAH kontak dengan tubuh, maka hiduplah manusia itu. Jadi, jiwa tercipta akibat pertemuan antara roh dan tubuh. Persenyawaan antara tubuh dan roh inilah yang membentuk jiwa. Kalau dianalogikan dengan lampu listrik, pertemuan antara arus listrik dan lampu menghasilkan terang. Arus listrik adalah roh, lampu adalah tubuh, terang adalah jiwa itu.

Jiwa adalah kesadaran manusia, tempat perasaan, kehendak, hati nurani, akal budi, pikiran manusia ada. Kesadaran manusia inilah tempat keinginan daging dan keinginan roh (yang dari ALLAH) beraksi. Jiwa inilah yang menjadi pengendali kehidupan. Jadi, bagaimana keadaan hidup seseorang tergantung dari kualitas jiwanya. Kualitas jiwa tergantung dari apa yang memengaruhi dan menguasainya, keinginan daging atau keinginan roh. Jika manusia mati, jiwanya tidak musnah, melainkan akan menyatu dengan rohnya dalam keabadian. Jadi marilah kita memanfaatkan jiwa kita sebagai tempat beraksinya keinginan roh, bukan sebaliknya merusak jiwa kita dengan memuaskan keinginan daging.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.