RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Mengasihi Tuhan Bukan Fantasi

Renungan Harian Virtue Notes, 21 Mei 2011

Mengasihi Tuhan Bukan Fantasi



Bacaan: 1 Korintus 2: 9


2:9 Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."



Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan memberikan penggarapan-Nya secara khusus bagi orang-orang yang mengasihi-Nya. Paulus menulis bahwa Allah menyediakan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia bagi mereka yang mengasihi-Nya. Berarti ada hak-hak yang istimewa bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.


Memang Tuhan merancang semua yang mulia dan sempurna bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Tidak ada kecelakaan, yang terjadi secara kebetulan. Betapa beruntungnya orang yang mengasihi Tuhan itu. Lebih beruntung dari memiliki dunia ini; Lebih beruntung dari segala hal.


Yang patut kita persoalkan adalah, bagaimana kita bisa memiliki hati yang mengasihi Dia. Beberapa orang mengatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengasihi Tuhan semata-mata adalah anugerah; maksudnya, sebetulnya Tuhanlah yang mengerakkan seseorang untuk mengasihi Dia, tanpa melibatkan diri manusia itu sendiri. Wah, kalau pandangan ini benar, maka tujuan Allah menciptakan manusia untuk bersekutu dan mengasihi-Nya dengan cinta sejati harus dikatakan gagal. Sebab sesungguhnya manusia tak ubahnya boneka yang diam saja saat dipeluk dan dicium, atau robot yang diatur oleh remote control. Dengan kata lain, manusia mengasihi Tuhan karena Tuhan memaksanya. Betapa salahnya pandangan ini.


Cinta sejati itu harus kita gerakkan sendiri dari dalam diri kita. Roh Kudus sudah bekerja dalam diri kita, sebab Allah mencintai kita terlebih dahulu. Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8), jadi cinta tanpa Allah adalah sia-sia. Cinta kita kepada Tuhan adalah respons kita terhadap pekerjaan Roh Kudus.


Kalau kita berkata dengan tulus, dalam komitmen yang bulat: “Aku mau mengasihi Tuhan,” maka kita bisa mengasihi Dia. Tentu ini tidak cukup diucapkan di bibir saja, dan tidak cukup kita nyatakan satu kali saja. Pernyataan ini merupakan komitmen kita yang harus terus-menerus dijaga. Untuk ini kita harus selalu mengupdate hati kita untuk tetap mengasihi Tuhan.


Mengasihi Tuhan bukan sesuatu yang bersifat fantasi. Mengasihi Tuhan adalah sesuatu yang nyata, yang dapat dialami dalam kesadaran terus menerus. Sekarang, jangan kita berpikir bahwa kita tidak bisa mengasihi Tuhan dengan hebat. Kita juga bisa mengobarkan cinta kita kepada Tuhan, sampai tanpa batas. Lakukan dan buktikan betapa indahnya hidup mencintai Tuhan itu.



Mengasihi Tuhan adalah sesuatu yang nyata, dan membutuhkan komitmen yang harus terus-menerus dijaga.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Masalah Menjadi Berhala

Renungan Harian Virtue Notes, 20 Mei 2011

Masalah Menjadi Berhala



Bacaan: Roma 8: 26-28

8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Tentu kita setuju bahwa dalam hidup ini kita pasti menghadapi berbagai masalah atau problem. Masalah adalah segala sesuatu yang membuat hidup ini terasa kurang nyaman. Menjalani hidup ini tidak terasa mulus dan lancar. Masalah juga merupakan sesuatu yang bisa menyita rasa aman, damai dan kesejahteraan.


Hidup dengan masalah itu tidak enak, demikianlah pada umumnya pandangan orang. Itulah sebabnya, sebisa-bisanya orang menjauhi dan menghindari masalah. “Oh, betapa bahagianya hidup tanpa masalah,” demikian suara hati banyak orang—kalau harus jujur. Untuk bisa memiliki kehidupan tanpa masalah, banyak orang Kristen ke gereja, sebab meyakini bahwa Tuhan adalah solusinya. Mereka berpikir, Tuhan bisa memberikan kelapangan hidup tanpa problem. Sungguh, ini suatu pemikiran yang salah. Sebab saat kita mengikut Kristus, masalah-masalah dalam hidup bisa dijadikan kuk oleh-Nya demi pendewasaan kita (Mat. 11:28–29).


Namun memang masalah-masalah yang mengganggu pikiran dan perasaan kita bisa dijadikan alat oleh Iblis untuk menyimpangkan fokus kita dalam bertumbuh mengenal Tuhan. Caranya dengan membuat kita selalu memikirkan masalah tersebut; jiwa kita menjadi terikat, dan akhirnya masalah menjadi berhala dalam jiwa kita. Akibat terjebak dalam kebodohan ini amat fatal, sebab selain terganggunya kehidupan rohani, kehidupan fisik dan psikisnya juga terganggu.


Sebagai anak Tuhan yang bertumbuh dewasa, seharusnya kita memandang masalah sebagai alat Tuhan untuk mendewasakan rohani kita. Masalah kita pandang sebagai vitamin rohani atau nutrisi jiwa yang baik. Harus selalu diingat bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kalau rambut kepala kita terhitung oleh Tuhan, itu berarti Tuhan sangat teliti memperhatikan hidup kita ini. Sebagai anak-anak yang dipersiapkan Bapa untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus, dengan rela kita harus menerima bahwa masalah bukanlah gangguan atas hidup ini; bukan perampas kesejahteraan hidup ini. Kita yakin Tuhan turut bekerja dalam segala hal—termasuk segala masalah yang kita hadapi—untuk mendewasakan kita.


Jadi, masalah merupakan sarana Bapa di Surga untuk membentuk kita menjadi anak-anak-Nya yang serupa dengan Tuhan Yesus Kristus. Karena itu kita tidak perlu merasakan bahwa mengikut Yesus akan susah dan dirundung masalah, sebab Tuhan tidak akan mengizinkan suatu problem melampaui kekuatan kita. Dengan kebijaksanaan-Nya Ia mengukur seberapa mampu kita memikul suatu beban.

Jangan jadikan masalah sebagai berhala di jiwa kita; sebaliknya pandanglah masalah sebagai alat Tuhan untuk mendewasakan rohani kita.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kesenangan Sesaat

Renungan Harian Virtue Notes, 19 Mei 2011

Kesenangan Sesaat



Bacaan: Kolose 3: 5-6


3:5. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).



Dunia ini dipenuhi dengan berbagai kesenangan sesaat yang sangat memikat. Bisa berupa hiburan, hobi, hasrat untuk memiliki benda tertentu—mobil, rumah, dan seterusnya. Sesungguhnya ini dapat digunakan oleh Iblis sebagai perangkap bagi orang percaya.


Setiap kesenangan ada dampaknya bagi manusia. Kalau kesenangan-kesenangan itu benar-benar hanya sesaat dan tidak mengikat, dampaknya akan kecil. Namun kalau menjadi ikatan—selalu ingin diulangi terus-menerus sehingga menyita waktu, pikiran dan perasaan—maka kesenangan sesaat akan berubah menjadi kesenangan permanen. Suatu kesenangan yang menjadi permanen dan mengikat adalah berhala. Misalnya, tidak salah bagi kita untuk sekali-kali menonton film yang baik; tetapi apabila kita menjadi kecanduan kalau tidak nonton film merasa hatinya kosong, maka film telah menjadi kesenangan permanen. Ini akan memindahkan perhatian kita dari Tuhan dan Kerajaan-Nya kepada hal yang lain. Kita harus memandang hal ini sebagai sesuatu yang berbahaya.


Demikian pula, hasrat untuk memiliki telepon seluler (handphone) baru. Tidak bermasalah apabila kita memiliki ponsel baru dan menikmatinya sebagai kesenangan sesaat. Tetapi kalau segera sesudah itu, saat melihat iklan model baru lantas kita bosan dan ingin memiliki ponsel model yang lebih baru lagi, maka memiliki ponsel baru sudah menjadi suatu kebutuhan yang mengisi kekosongan jiwa. Hasrat gonta-ganti ponsel itu telah menjadi berhala.


Faktanya, banyak orang terjebak dalam belenggu ini, apalagi mereka yang berduit. Pada umumnya orang-orang tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang berbahaya atau mengganggu keselamatan serta hubungannya dengan Tuhan; namun sejatinya ini merupakan cara Iblis untuk memperlemah gairah orang percaya untuk mencari Tuhan secara proporsional.


Orang percaya yang terbujuk untuk menikmati kesenangan sesaat tersebut biasanya awalnya tidak bermaksud hendak mengkhianati Tuhan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, apabila ia mulai terikat, ia akan terbelenggu oleh kesenangan-kesenangan tersebut sampai tidak bisa lepas dari jeratnya. Oleh sebab itu, dengan hati yang tulus dan jujur mari kita memeriksa diri: adakah kesenangan-kesenangan dalam hidup kita yang mulai menjadi kesenangan permanen sehingga menggeser fokus kita dari hal-hal surgawi menjadi hal-hal duniawi? Jika ternyata memang ada gejala tersebut, segeralah melarikan diri darinya.



Jangan terjebak dengan kesenangan-kesenangan sesaat, sebab Iblis dapat menggunakannya untuk memperlemah gairah kita mencari Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Selalu Baru Setiap Hari

Renungan Harian Virtue Notes, 18 Mei 2011

Selalu Baru Setiap Hari



Bacaan: 2 Petrus 1: 3-11


1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.

1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

1:5. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,

1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

1:8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.

1:9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.

1:10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.

1:11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.



Hidup ini harus diisi dengan hal-hal yang baru setiap hari. Hal-hal yang baru membuat hidup kita menjadi indah dan menarik. Tuhan selalu menyediakan berkat-berkat yang baru setiap hari untuk kita, seperti manna yang disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. Manna harus diambil setiap hari; tidak boleh diambil lebih dari kebutuhan satu hari, kecuali pada hari Sabat (Kel. 16:26).


Demikian pula Tuhan Yesus mengajarkan dalam Doa Bapa Kami, agar kita cukup dengan makanan setiap harinya (Mat. 6:11). Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki persediaan makanan untuk satu bulan; tetapi Tuhan menghendaki agar kita tidak serakah, selalu memiliki hubungan yang berkesinambungan dengan-Nya. Selanjutnya Ia akan menyediakan berkat-Nya yang baru setiap hari. Berkat-berkatNya adalah pengenalan akan Dia, memahami kehendak-Nya dan mengerti rencana-Nya. Itu lebih indah dan lebih penting daripada berkat-berkat jasmani.


Dengan memahami keindahan berkat yang baru dari Tuhan setiap hari ini, hati kita akan semakin melekat kepada Tuhan dan jiwa kita harus merasa terganggu kalau tidak mendapat sesuatu yang baru dari-Nya. Namun sesuatu yang baru itu hanya dapat kita peroleh apabila kita menetapkan hati kita untuk mengutamakan Tuhan. Maksudnya menganggap kebutuhan untuk mengenal Tuhan, kehendak-Nya dan rencana-Nya sebagai sesuatu yang penting dan mendesak.


Dengan sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan, kita akan menyediakan waktu yang memadai ditengah-tengah kesibukan mencari nafkah, mengurus rumah tangga, berkarier, studi dan lain sebagainya. Akhirnya kita bisa menghayati apa artinya melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Bila sampai di level ini, sulitlah bagi kita untuk kembali terbelenggu dengan kesenangan dunia. Sudah tak mungkin lagi kita menoleh ke belakang seperti istri Lot (Luk. 17:32).


Apakah kita sudah mulai mencari Tuhan? Jika ya, jangan berhenti. Berjalanlah terus mencari Tuhan sampai di “titik tidak balik” (point of no return), di mana pengharapan keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11). Petrus menyebutkannya sebagai hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2Ptr. 1:11). Memang ini menuntut keseriusan, sebab tidak dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Tidak bisa instan, tetapi harus diperjuangkan dengan melibatkan dan mengerahkan seluruh waktu, tenaga dan segala sesuatu yang ada pada kita. Namun jika kita mau melakukannya, maka kita akan melihat bahwa sungguh Ia memberikan berkat rohani-Nya yang baru setiap hari.



Berkat rohani-Nya yang baru setiap hari hanya dapat kita peroleh apabila kita menetapkan hati kita untuk mengutamakan Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Nekat Yang Benar

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Mei 2011

Nekat Yang Benar



Bacaan: Lukas 13: 23-24


13:23. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"

13:24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.



Ketika berdiskusi tentang hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak, acap kali terdengar orang yang berkomentar bahwa rasanya itu mustahil untuk dilakukan. Memang mustahil bagi orang dunia pada umumnya, tetapi kalau Tuhan memerintahkan demikian kepada orang percaya, itu berarti Ia memberi kemampuan untuk kita agar dapat melakukannya.


Melalui iman kita kepada Kristus, Tuhan memberikan kemampuan dan fasilitas kepada manusia untuk dapat menurut terhadap kehendak Allah dan hidup di bawah kedaulatan-Nya. Inilah Injil atau kabar baik itu, bahwa bagi Allah segala sesuatu mungkin (Mat. 19:26). Hendaknya kebenaran ini menyemangati kita untuk berusaha melakukan kehendak Bapa.


Setelah banyak mendengar tentang ajaran Tuhan Yesus, seseorang bertanya kepada-Nya, apakah sedikit saja orang yang diselamatkan. Tuhan Yesus menjawab agar berjuang memasuki pintu yang sesak. Memang jalannya sempit, tetapi sempit bukan berarti tidak mungkin. Suatu kesulitan bukan berarti sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Jadi kalau seseorang mempertanyakan apakah mungkin bagi manusia untuk mengerti dan melakukan kehendak Allah, Tuhan menunjukkan bahwa kalau seseorang mau berjuang, bisa. Tetapi bagi mereka yang tidak mau berjuang, maka tidak akan bisa.


Kita harus menerima kabar ini sebagai suatu anugerah yang luar biasa. Tuhan Yesus telah memberi sarana kepada kita untuk kembali menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Pertanyaannya, kita mau atau tidak. Kita bisa nekat untuk banyak hal, seperti keluarga, gelar, karier, rumah, mobil, hobi dan lain sebagainya. Mengapa kita tidak bisa nekat untuk melakukan kehendak Bapa? Semestinya kita bisa nekat, sehingga sebelum akhir hidup kita, kita benar-benar berhasil menjadi orang yang melakukan kehendak Tuhan.


Harus diingat bahwa tidak ada barang bagus dengan harga murah. Tidak ada mahkota tanpa salib. Semua juga ada harganya. Menjadi pelaku kehendak Bapa bukan hal yang otomatis bisa terjadi. Kita wajib membayar harganya, yaitu meneladani Kristus, gigih berjuang dan bekerja keras. Untuk itu memang butuh kenekatan yang tinggi. Pencapaian atas hal itu adalah suatu prestasi keberhasilan abadi yang akan kita nikmati di keabadian. Sungguh, adalah kebodohan kalau kita tidak berusaha untuk melakukan kehendak Bapa. Maukah kita nekat untuk berjuang?



Melakukan kehendak Allah tidak mustahil bagi orang percaya yang mau nekat berjuang.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Mengerti Bahasa Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 16 Mei 2011

Mengerti Bahasa Tuhan



Bacaan: Yohanes 8: 41-44


8:41 Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah."

8:42 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

8:43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.

8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran.



Orang-orang Yahudi yang memusuhi Yesus mengaku mereka anak-anak Allah (ay. 41). Tetapi kepada mereka Tuhan Yesus tegas menepis pengakuan tersebut dan menunjukkan bahwa Iblislah yang menjadi bapa mereka, dan mereka melakukan keinginan-keinginan bapa mereka tersebut (ay. 44). Iblis adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Setiap orang yang tidak melakukan kehendak Bapa secara otomatis berarti melakukan kehendak Iblis. Artinya ia adalah anak Iblis, bukan anak Bapa di Surga.


Jadi apakah seseorang bisa dikatakan sebagai anak Allah atau anak Iblis itu sebetulnya akan dapat dibuktikan dari perbuatannya. Tuhan Yesus menegaskan bahwa dari buahnya kita akan mengenal seseorang (Mat. 7:20). Orang yang mulutnya mengaku Yesus sebagai Tuhan saja belum tentu layak disebut anak-anak Allah, sebab perbuatannya yang sesuai dengan kehendak Bapalah yang meneguhkannya. Sesuai dengan panggilan kita untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak, pengakuan dengan mulut saja adalah pengakuan palsu apabila kita tidak mau tunduk sepenuhnya dalam kedaulatan Allah.


Yang dimaksud dengan melakukan kehendak Bapa bukan sekadar melakukan hukum-hukum-Nya seperti yang dianggap oleh orang-orang Yahudi, melainkan mengerti bahasa Tuhan (ay. 43). Tuhan Yesus memberi tahu mengapa demikian, yaitu sebab mereka tidak dapat menangkap Firman Tuhan. “Tidak dapat menangkap” di sini maksudnya adalah “tidak mampu mengerti”.


Kata “menangkap” dalam teks aslinya adalah ἀκούω (akuō) yang artinya “mendengar sampai mengerti”. Mereka tidak mampu mendengar sampai mengerti, sebab sejatinya mereka tidak memiliki hati yang tulus tertarik kepada Tuhan Yesus.


Jangan sampai kita seperti orang-orang Yahudi itu. Ketiadaan sikap hati yang tulus tertarik kepada Tuhan Yesus mengakibatkan mereka tidak mengerti maksud-maksud Tuhan Yesus. Akhirnya mereka menyalibkan Tuhan Yesus (1Kor. 2:8). Mari belajar membangun sikap hati yang tulus tertarik kepada Tuhan, sehingga kita bisa menerima Firman-Nya. Dengan belajar menerima kebenaran, kita akan dapat menangkap hikmat Allah yang tertuang dalam Injil (Kol. 2:3). Hanya dengan mengerti bahasa-Nyalah kita bisa hidup dalam penurutan yang benar secara mutlak kepada Bapa.



Hanya dengan mengerti bahasa Tuhanlah kita bisa hidup dalam penurutan yang benar secara mutlak kepada Bapa.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Anak-anak Allah

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Mei 2011

Anak-anak Allah



Bacaan: Matius 6: 9-10


6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.



Tuhan Yesus mengajar agar orang percaya menyebut Allah sebagai Bapa. Tentu hal ini sangat beralasan, dan ada pelajaran rohani yang ingin diberikan-Nya melalui panggilan tersebut. Dengan memanggil Allah sebagai Bapa, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa manusia adalah anak-anak Allah, sebab roh yang ada pada manusia adalah roh dari Allah (Kej. 2:7).


Pada waktu penciptaan, tatkala Tuhan menghembuskan nafas-Nya kepada manusia, saat itulah Ia memperanakkan makhluk yang disebut manusia itu. Tubuhnya dari tanah, tetapi isinya dari Allah. Dari hal ini kita mengerti mengapa ada filosofi menyatakan bahwa manusia adalah peletikan (bunga api) dari Allah. Di sini Allah digambarkan sebagai api besar, dan sebagian dari pijarannya menjadi manusia. Pandangan ini sesungguhnya kurang tepat, sebab manusia bukan Allah, tidak sehakikat dengan Allah dan tidak pernah akan menjadi Allah; tetapi bahwa manusia menerima sesuatu dari Allah, itu benar karena rohnya itu dari Allah.


Semua yang keluar dari Allah disebut anak-anak Allah, termasuk para malaikat yang juga memiliki roh dari Allah. Itulah sebabnya Ia disebut sebagai Bapa segala roh (Ibr. 12:9). Kata “Bapa” dalam teks ini terjemahan dari πατήρ (patér) yang juga berarti ayah dalam arti orang tua.


Tetapi kita perlu mencermati juga, bahwa sekalipun semua yang memiliki roh dari Allah adalah anak-anak Allah, Allah hanya mengakuinya selama makhluk ciptaan-Nya itu hidup di bawah penurutan kepada-Nya dan tunduk kepada kedaulatan-Nya. Begitu makhluk itu tidak lagi mau hidup di bawah kedaulatan-Nya, maka ia tidak lagi disebut anak-anak Allah.


Contohnya, dalam Kej. 6:1–4, keturunan Set disebut anak-anak Allah selama masih hidup dalam penurutan kepada-Nya, tetapi keturunan Kain disebut anak-anak manusia. Sejak terjadi kawin campur di antara keturunan Set dan keturunan Kain, Roh Allah pun undur, dan sejak itu tidak ada lagi manusia yang disebut anak-anak Allah kecuali umat Israel yang mau dituntun Taurat dan tunduk kepada-Nya.


Sejak karya keselamatan Kristus, kita dapat disebut anak-anak Allah lagi, dan sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah bila kita memberi diri dikembalikan kepada kualitas hidup semula sebagai manusia yang taat kepada kehendak Bapa. Bila kita mau taat kepada Allah, hidup dalam kedaulatan-Nya dan mau berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga,” maka kita layak disebut anak-anak Allah.



Yang layak disebut Anak-anak Allah adalah yang mau hidup dalam kedaulatan-Nya.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger