RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Roh Dan Hidup

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Juni 2011

Roh Dan Hidup



Bacaan: Yohanes 6: 63


6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.



Dalam kehidupan orang-orang percaya, Allah ingin terjadi perubahan yang nyata. Perubahan yang harus terjadi adalah dari kehausan terhadap hal-hal bendani menjadi kehausan terhadap hal-hal rohani; dari kelaparan akan perkara-perkara di dunia ini menjadi kelaparan akan perkara-perkara yang di atas.


Dengan menerima Yesus, manusia rohani kita yang tadinya mati dihidupkan-Nya, sehingga kita mulai bisa memahami perkataan-perkataan Tuhan Yesus yang tidak sejalan dengan dunia ini, seperti mengumpulkan harta di Surga, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya, dunia ini bukan rumah kita, dan lain sebagainya. Kita mulai bisa mengerti Firman yang mengatakan, asal ada makanan dan pakaian cukup.


Tuhan Yesus sendiri bersabda bahwa perkataan-perkataan-Nya adalah roh dan hidup. Maksud-Nya, perkataan-perkataan-Nya mengarahkan manusia untuk memiliki kehidupan yang dipimpin oleh roh, bukan oleh daging. Itu sebabnya dalam pernyataan sebelumnya Ia berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna”. Artinya, keinginan-keinginan jasmani tidak akan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang utama, yaitu kehidupan kekal yang berkualitas. Hal-hal rohani yang diajarkan Tuhan Yesuslah yang dapat memberi makan manusia rohani kita, sehingga memperoleh hidup yang berkualitas.


Dengan mengerti kebenaran ini, kita seharusnya tidak lagi mengutamakan perkara-perkara dunia atau pemenuhan kebutuhan jasmani. Kita harus memandang Alkitab—terutama Perjanjian Baru—dengan mata yang bersedia diubahkan oleh Tuhan. Penyesatan paling menonjol yang membuat orang binasa dalam kedagingan adalah pengajaran mengenai pemenuhan kebutuhan jasmani berdasarkan ayat-ayat Perjanjian Lama dan mengenakannya untuk kehidupan umat Perjanjian Baru. Sebagai umat Perjanjian Baru kita harus bisa berpikir seperti Tuhan berpikir (Flp. 2:5–7), sehingga kita sadar bahwa kita dikehendaki Tuhan menjadi umat yang mewarisi langit dan bumi yang baru, bukan dunia ini. Jadi kita harus tegas menolak pemerkosaan ayat seperti itu, sebab kita tahu yang diajarkan Yesus adalah roh dan hidup, bukan daging dan maut.


Dengan keberanian kita menetapkan hati kepada roh dan hidup, kita akan semakin haus dengan hal-hal rohani, semakin berupaya memiliki kehidupan yang menyukakan hati Bapa di Surga, memberi segenap diri untuk melayani Bapa dan setia seperti Kristus. Akhirnya kehidupan kita menjadi tidak bercacat dan tidak bercela.



Tetapkan hati kita kepada roh dan hidup, dan kita akan mengalami perubahan yang nyata seperti yang diingini Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Perubahan Pengertian

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Juni 2011

Perubahan Pengertian



Bacaan: Ibrani 5: 12-14


5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.



Dengan mengetahui bahwa murid-murid Tuhan Yesus pada mulanya mengira bahwa Tuhan Yesus akan menjadi raja dunia padahal Ia raja surga, kita dapat menarik pelajaran yang penting. Pelajaran itu adalah, Tuhan menerima dan mengajar mereka dengan penuh kesabaran, walaupun pikiran mereka belum sinkron dengan-Nya; walaupun pikiran mereka ternyata tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi yang mengharapkan Mesias duniawi.


Tuhan Yesus tidak langsung memecat mereka sebagai murid-murid-Nya sekalipun pola pikir mereka salah. Ia tahu bahwa mereka adalah murid yang perlu belajar. Dan Ia juga tidak langsung terang-terangan menyalahkan mereka, sebab Ia memandang mereka masih belum dewasa. Saat mereka belajar Firman terus-menerus, barulah mereka benar-benar mengerti. Dengan pengertian yang berubah, mereka benar-benar merdeka dari kuasa kegelapan (Yoh. 8:31–32), dan pekerjaan Iblis dibinasakan.


Karena itu janganlah kita frustrasi apabila sampai hari ini kita masih memiliki pengertian yang salah mengenai Kekristenan. Sadar bahwa kita masih belum dewasa dan memiliki pengertian yang salah adalah permulaan yang baik untuk berbalik kepada kebenaran. Kita harus bersyukur bahwa Tuhan masih memiliki kesabaran bagi kita, dan Ia memberikan kesempatan bagi kita untuk mengenal kebenaran.


Tetapi kesadaran belaka tidak cukup; kita harus beranjak dewasa. Seperti teguran penulis surat Ibrani, “Sebab sekalipun kamu… sudah seharusnya menjadi pengajar… kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” (ay. 12). Teguran ini hendaknya menampar kita apabila setelah bertahun-tahun menjadi Kristen, kita masih juga anak kecil yang belum memahami ajaran tentang kebenaran (ay. 13).


Untuk beranjak dewasa, kita harus mulai belajar makan makanan keras, jangan minum susu saja. Kita harus melatih indra kita agar dapat membedakan yang baik dari yang jahat (ay. 14). Karena itu mulai sekarang juga, berkomitmenlah untuk meninggalkan konsep lama warisan nenek moyang kita yang bermotivasi mengejar kejayaan duniawi. Berhati-hatilah dalam memilih siapa yang layak didengar dan buku apa yang layak dibaca. Pemenuhan kebutuhan jasmani adalah untuk anak-anak yang belum mengerti; pemenuhan rencana Allah sampai di langit dan bumi baru adalah bagi kita yang mau dewasa. Proses perubahan pengertian ini memang tidak sekejap, tetapi kalau mau dewasa, makanan keras harus mulai dimakan selagi ada kesempatan. Bila tidak, sampai mati nanti, rohani kita akan terus masih bayi.



Bertumbuhlah menjadi dewasa rohani selama Tuhan masih memiliki kesabaran terhadap kita.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Berani Mengambil Keputusan

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Juni 2011

Berani Mengambil Keputusan



Bacaan: Markus 10: 35-45


10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"

10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"

10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."



Mengambil keputusan adalah tindakan yang sering dihindari oleh banyak orang, sebab mereka takut salah. Mari kita lihat bagaimana dengan murid-murid Yesus. Dalam beberapa kesempatan, mereka menyatakan bahwa mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut-Nya. Di mata orang-orang sezamannya, mereka bisa dianggap orang-orang tolol sebab berani meletakkan pengharapan sepenuhnya kepada seorang Rabi, anak tukang kayu dari kota kecil Nazaret. Mereka percaya Rabi dari Nazaret ini bisa mengubah nasib mereka.


Memang saat itu pengertian murid-murid Tuhan Yesus masih dangkal dan terpengaruh dunia sekitarnya. Motivasi mereka dalam mengikut Tuhan Yesus belum benar. Yang mereka ingini ialah meraih kualitas hidup yang lebih tinggi daripada yang telah mereka capai. Mereka berharap dengan mengikut Yesus, mereka dapat menjadi pejabat-pejabat tinggi dalam kerajaan-Nya (ay. 37). Perlu diketahui bahwa saat itu mereka beranggapan Tuhan Yesus akan menjadi raja di dunia ini; mereka belum mempunyai konsep langit dan bumi baru.


Tuhan dalam kesabaran-Nya yang luar biasa menuntun mereka, sampai mata pengertian mereka tercelik bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ketika mata pengertian mereka sudah terbuka, ternyata mereka tetap setia mengiring Tuhan Yesus. Ini terbukti dari tulisan Petrus (1Ptr. 1:3-4) yang tidak lagi mempersoalkan kemewahan duniawi. Pandangan hidupnya sudah terarah ke Kerajaan Surga. Petrus yang dahulu duniawi telah berubah menjadi Petrus yang rohani.


Namun dengan kepolosan mereka itu, mereka berani mengambil keputusan untuk meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus (ay. 39). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut mereka sebagai orang-orang kecil (Mat. 11:25). Istilah ini menunjuk kelemahan, ketidakberdayaan, kesederhanaan, ketulusan, kebergantungan dan perasaan membutuhkan. Mereka merupakan contoh orang-orang yang rendah hati, dan kerendahan hati adalah faktor terpenting bagi seseorang dalam menerima keselamatan.


Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita mau mempertahankan harga diri kita dengan berjuang demi kenyamanan hidup di dunia ini? Atau dengan rendah hati mau mengakui bahwa dengan ketidakberdayaan kita, kita membutuhkan Tuhan, kita membutuhkan keselamatan dari-Nya, kita membutuhkan hidup yang baru sebagai anak-anak Allah yang sejati; anak-anak Allah yang selalu hidup dalam penurutan akan kehendak-Nya dan kedaulatan-Nya secara mutlak dan absolut. Melalui kerendahan hati itu kita mengakui bahwa sang Rabi anak tukang kayu dari Nazaret itu adalah Raja Alam Raya.



Dengan kerendahan hati kita harus berani mengambil keputusan untuk mengikut Yesus.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Ekspresi Perasaan Yang Sehat

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Juni 2011

Ekspresi Perasaan Yang Sehat



Bacaan: 2 Timotius 1: 7


1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.



Tentu saat berurusan dengan Tuhan kita harus melibatkan seluruh keberadaan diri kita. Ini mencakup pikiran dan juga perasaan. Oleh sebab itu berhubungan dengan Tuhan dalam bentuk doa, nyanyian dan berbagai kegiatan liturgi juga harus menggunakan perasaan. Kita tidak perlu takut dan ragu-ragu mengekspresikan perasaan kita kepada Tuhan melalui liturgi, dan kita juga tidak boleh mencemooh jika melihat orang lain mengungkapkan perasaannya melalui tangisan dan ekspresi lainnya, sementara ekspresi kita tidak demikian. Namun penggunaan emosi harus tetap terkendali dengan baik. Akal pikiran, kejujuran dan ketulusan harus tetap menjadi panglima yang mengawal seluruh tindakan kita.


Banyak orang Kristen—terutama di beberapa aliran yang mengeksploitasi perasaan secara berlebihan—tidak mengunakan akal dengan baik dalam mengekspresikan perasaannya. Akibatnya adalah membutakan kejujuran dan ketulusan seraya mengumbar emosi. Kita melihat liturgi kelompok yang mengeksploitasi perasaan ini selalu diwarnai dengan ledakan emosi, sampai terkadang bak ritual penyembahan agama suku primitif. Mereka menganggap tidak bisa menyembah dengan baik pada suasana yang kondusif bagi umat untuk menggunakan pikiran dan perasaan; atau menganggap Tuhan baru hadir jika dirasakan dalam emosi yang meledak-ledak.


Contoh terjelas adalah mengenai bahasa lidah (“bahasa roh”). Ada kalangan tertentu yang mengharuskan umat berbahasa lidah dalam ibadah sebebas-bebasnya, bahkan mengakibatkan ibadah menjadi tidak tertib. Padahal roh dari Allah memberikan ketertiban, maksudnya jemaat harus bisa menguasai diri dengan tertib. Ketidaktertiban ini menimbulkan kecaman dan pandangan miring dari banyak pihak, terutama mereka yang berada di luar gereja, seolah-olah Kekristenan hanyalah konsumsi orang-orang yang perasaannya kurang sehat dan pikirannya terganggu.


Kita harus belajar mengekspresikan perasaan kita kepada Tuhan dengan sehat. Yang penting adalah ketulusan, bukan sekadar formalitas agamawi. Ekspresi yang berlebihan mengakibatkan orang-orang yang biasa menggunakan nalarnya dengan baik tidak mau mencari Tuhan. Mereka lebih memilih New Age Movement yang dipandang lebih masuk akal, atau humanisme yang bahkan lebih dianggap tulus dan mendarat. Memang, bagaimanapun kalau orang sudah tidak mau menerima Injil maka ia akan menggunakan banyak alasan untuk menolaknya; tetapi bagi kita yang mengenal kebenaran ini, jangan sampai kita mengakibatkan orang menolak Injil gara-gara kebodohan kita. Itu suatu dosa di hadapan Tuhan.



Ekspresi perasaan yang sehat kepada Tuhan adalah perasaan yang tulus dan bukan sekadar formalitas agamawi.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tidak Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Juni 2011

Tidak Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan



Bacaan: Amsal 1: 2-7


1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,

1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,

1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda--

1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan--

1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

1:7. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.



Ada ajaran yang menyiratkan bahwa beragama tidak boleh membawa pikiran, sebab pikiran mengakibatkan seseorang tidak beriman secara benar. Kemudian konsep ini dilantunkan selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Karna konsep yang salah ini, banyak orang tiba pada kesimpulan bahwa semua yang rasional tidak boleh masuk wilayah keyakinan dan komitmen pribadi dengan Tuhan. Agama dianggap tidak akan dapat berdampingan dengan ilmu pengetahuan, bahkan bertentangan dengan ilmu pengetahuan.


Akibat konsep ini, hati dan pikiran banyak rohaniwan dan teolog menjadi tertutup sehingga tak sanggup melihat dengan mata terbuka dan jujur tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka menganggap khotbah yang menghubungkan Alkitab dengan ilmu pengetahuan sebagai mengada-ada atau bahkan sesat. Padahal ilmu pengetahuan tidak mungkin bisa berjalan tanpa dikawal oleh kebenaran Firman Tuhan (ay. 7). Memang Alkitab bukan buku sains, tetapi Alkitab menyimpan banyak rahasia yang bertalian dengan sains, sebab yang memiliki dan mengilhami Alkitab adalah Pribadi yang menciptakan sains itu sendiri. Orang beriman yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan akan semakin kagum melihat bukti bahwa Tuhan adalah Pribadi Mahacerdas yang menciptakan alam semesta, manusia dan juga ilmu pengetahuan.


Sementara itu banyak orang di luar gereja yang menjadi berpikir bahwa agama hanyalah untuk orang yang buta sains, dengan kata lain orang beragama adalah orang bodoh; agama adalah candu masyarakat. Ini semua akibat konsep keliru yang menyesatkan tadi. Ini diperkuat oleh kenyataan bahwa banyak orang bodoh yang memberi diri menjadi pelayan gereja, seakan-akan melayani dan mengurus jemaat Tuhan tidak perlu kecerdasan dan profesionalitas. Mereka menganggap kalau di marketplace—perdagangan, hukum, medis, TI dan berbagai profesi lainnya—dituntut kecerdasan dan profesionalisme; sedangkan untuk melayani Tuhan tidak perlu. Ditambah lagi dengan keyakinan bahwa Tuhan mengerjakan semuanya; manusia tak perlu ikut campur; cukup diam saja, berserah penuh dan menunggu mukjizat. Hasilnya adalah sikap yang tidak bertanggung jawab di dalam gereja.


Sejatinya Kekristenan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Allah yang menciptakan segala ilmu, Ia juga menginginkan kita menggunakan pikiran kita untuk kemuliaan-Nya di segala bidang. Sebagaimana kita harus profesional di pekerjaan sehari-hari, kita juga harus profesional dalam pelayanan di gereja.



Pikiran kita harus dipakai secara optimal dalam segala bidang, termasuk dalam pelayanan di gereja.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Menggunakan Nalar

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Juni 2011

Menggunakan Nalar



Bacaan: 2 Timotius 4: 3-4

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi kita, artinya kita harus menggunakan dan mengasah akal budi kita dalam berurusan dengan Tuhan. Pikiran kita harus diperbarui setiap hari. Kita harus semakin cerdas, semakin mengerti kebenaran, membuang semua konsep yang keliru, lalu mengenakan konsep yang benar.


Contohnya, seorang anak menganggap pelangi adalah lukisan spidol Tuhan di langit. Semakin ia dewasa, ia mengalami pembaruan pikiran dan tahu bahwa pelangi adalah pembiasan sinar matahari oleh titik-titik air. Ketika Nuh diberi Tuhan tanda pelangi sebagai janji bahwa Ia tidak akan menghukum dunia dengan air bah lagi,


Nuh yang belum mengenal ilmu fisika pasti berpikir bahwa pelangi adalah suatu benda yang berwarna. Tetapi sekarang kita tahu, bahwa maksud Tuhan dengan pelangi tersebut adalah, selama matahari masih bersinar di bumi ini, maka bumi masih eksis. Sebab suatu hari nanti, saat bumi dihukum di akhir zaman, cahaya matahari akan terhalang karena berbagai fenomena di langit (Mat. 24:29). Kita juga tahu bahwa dunia tidak akan dihukum dengan air, tetapi api (2 Petrus 3: 10).


Demikian pula kita harus menerima pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus dengan akal budi yang cerdas. Misalnya, saat Yesus bersabda mengenai iman yang memindahkan gunung (Mrk. 11:23), maksudnya pasti bukan gunung secara harfiah, sebab selain Ia tidak pernah memindahkan gunung, memindahkan gunung juga bisa mendatangkan bencana dan tidak jelas kegunaan positifnya. Contoh lain, tidak mungkin Tuhan melipatgandakan berkat-Nya atas persembahan yang diberikan umat-Nya, kalau mereka memberi hanya karena mencari keuntungan pribadi tanpa kerja keras dan tidak bisa dipercayai Tuhan. Itu justru membuat mereka menjadi sombong karena hidup dalam kesenangan daging. Yang benar, Tuhan akan melipatgandakan berkat-Nya atas anak-anak Tuhan yang mencari berkat itu dengan motivasi yang benar, yaitu untuk kemuliaan-Nya. Semua ini harus dipecahkan dengan nalar yang sehat dan jujur.


Sayangnya hari ini banyak kebohongan yang disampaikan terus-menerus dengan berani, sehingga banyak orang memercayainya dan menerimanya sebagai kebenaran. Apalagi kalau kebohongan itu disampaikan dengan menggunakan nama Tuhan, oleh orang yang mengaku dirinya utusan Tuhan, pernah bertemu langsung dengan Tuhan dan menerima visi langsung dari Tuhan. Di masyarakat yang biasa berpikir mistis dan tidak logis, praktik kebohongan yang sesungguhnya perdukunan ini menjadi subur. Kita tidak akan terjerat jika kita menggunakan nalar.



Pembaruan pikiran berarti kita semakin cerdas dalam mengerti kebenaran dan membuang konsep yang keliru.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Jangan Bebal

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Juni 2011

Jangan Bebal



Bacaan: Mazmur 14: 1


14:1. Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.



Tidak ada orang bebal yang sekaligus bijak. Dalam Mazmurnya, Daud menulis bahwa orang bebal mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Dalam teks aslinya, kata “bebal” adalah נָבָל (nâvâl) yang artinya “bodoh”, “jahat” (dalam arti tidak hormat kepada Tuhan).


Karena tidak ada orang bebal yang sekaligus bijak, berarti ayat ini menyatakan bahwa yang memiliki pengertian yang benar bahwa Allah itu ada hanyalah orang bijak. Jadi, kalau di negeri ini sebagian besar orang mengaku percaya bahwa Tuhan itu ada dan bahkan mengenal-Nya, kebanyakan itu omong kosong belaka, sebab kelakuan mereka membuktikan bahwa mereka tidak percaya bahwa Allah itu benar-benar ada. Dengan kata lain, mereka termasuk orang bebal. Orang bijak adalah orang yang mengerti Firman, dan dalam kelakuannya menunjukkan kepercayaannya kepada Allah.


Iman seseorang dibuktikan dengan perbuatannya, dan perbuatan seseorang menjadi benar bila ia mengerti Firman dengan pikirannya. Jadi kita harus menolak konsep yang sering dikumandangkan, bahwa iman tidak boleh diterima dengan akal budi; iman itu tidak bisa dicerna oleh pikiran; yang penting percaya saja, titik. Konsep yang memberangus pikiran dan menudingnya sebagai ancaman bagi iman adalah salah. Konsep ini membodohi banyak orang dan membuat mereka terbelenggu sebagai orang-orang bebal.


Pengajar yang benar selalu menggunakan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab yang benar, dan menggunakan pikirannya dengan maksimal untuk memastikan apa yang diajarkannya sungguh-sungguh benar, dan membuat jemaat menjadi bijak. Ini berbeda dengan pengajar-pengajar palsu yang memasukkan ide-ide dari mana saja, kemudian mencomot ayat-ayat Alkitab untuk mendukung ide tersebut tanpa memperhatikan konteksnya. Itulah sebabnya pengajar palsu tidak dapat menguraikan dengan benar, sebab ia memang salah. Buah ajarannya adalah jemaat yang bebal.


Kita harus mempertanyakan para pengajar yang menekankan “Percaya saja” dan melarang jemaat bertanya minta penjelasan. Sikap ini adalah ciri-ciri kesesatan. Pengajar yang benar akan berusaha menunjukkan mengapa begini dan mengapa begitu, sejauh yang bisa dijelaskannya. Wahyu Tuhan memang melampaui penalaran manusia—sebab Allah melampaui akal budi manusia—tetapi juga tidak akan kurang dari penalaran manusia. Mari kita mencintai Dia dengan segenap akal budi agar mengalami pembaruan akal budi dan menjadi bijak.



Orang bijak adalah orang yang mengalami pembaruan akal budi oleh pengertiannya mengenai kebenaran Firman.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger