RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Dalam Peti Mati

Renungan Harian Virtue Notes, 9 Juni 2011

Dalam Peti Mati



Bacaan: Yakobus 4: 14; 1 Petrus 1: 24


Yakobus 4: 14

4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

1 Petus 1: 24

1:24. Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,

Bayangkan jika Anda ada di dalam peti mati. Semua orang mengerumuni Anda, tetapi Anda sudah tidak bergerak, kaku dingin dan diformalin. Tidak ada keindahan sama sekali. Selama hidup, kita mungkin cantik, ganteng, berpendidikan tinggi, kaya, terhormat, populer dengan segala kelebihan lain di mata orang lain namun semua itu lenyap atau semakin surut; akhirnya juga akan dilupakan.


Walaupun peti mati kita harganya milyaran rupiah, apakah artinya itu? Mungkin keluarga kita yang masih hidup bangga dengan peti yang mewah itu, tetapi tidak ada pengaruhnya terhadap diri kita yang sudah mati. Sebab pada hari kita diantar ke pemakaman, tamat sudah sejarah hidup kita di dunia ini.


Ini realitas yang pasti akan dialami setiap kita, dan tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Semua yang telah kita capai dan raih dalam pengembaraan hidup ini pada akhirnya harus kita lepaskan. Pikirkanlah dan renungkanlah kenyataan ini, seolah-olah sudah di depan mata, sebab memang pada kenyataannya bisa terjadi setiap saat.


Firman Tuhan mengatakan bahwa hidup manusia seperti uap yang tampak sekejap lalu lenyap (Yak. 4:14). Juga seperti bunga rumput yang indah pada pagi hari, tetapi pada sore hari telah dibuang (1Ptr. 1:24). Ini tidak keterlaluan atau dilebih-lebihkan, sebab umur hidup manusia dibanding dengan kekekalan tidak ada artinya. Begitu manusia berhenti bernafas, maka berapa pun umur yang telah dicapainya menjadi tidak berarti sama sekali. Dengan berhentinya detak jantungnya, ia masuk ke dalam kedahsyatan, yaitu kekekalan.


Kalau kita memperhatikan kenyataan ini, berarti kita termasuk orang-orang yang berakal sehat. Kalau selama ini kita beranggapan hidup ini masih lama dan harus dinikmati, kita harus segera bertobat dari cara hidup yang tidak realistis itu. Orang yang tidak mau menyadarinya pada suatu hari akan melihat bukti bahwa ternyata selama ini ia hidup dalam kesemuan belaka.


Kalau kesadaran mengenai hal ini baru muncul setelah di ujung maut, sudah tidak ada lagi waktu untuk bertobat; tidak ada lagi kesempatan melekatkan diri dengan Tuhan. Ia akan menjerit dalam penyesalan yang sangat menusuk dan berkata, “Aku salah!” Tetapi terlambat, waktu tidak bisa berputar balik. Ia harus menuai apa yang telah ia tabur, sebab siapa yang menabur dalam dagingnya akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu (Gal. 6:8). Mari benahi diri kita dengan serius sekarang juga, sebelum semuanya sudah terlambat.

Menghayati realitas bahwa semua kita suatu hari akan mati mendorong kita untuk membenahi diri dengan serius.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.