RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Respons Abraham

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Maret 2011

Respons Abraham



Bacaan: Yakobus 2: 21-23



2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."



Alkitab mencatat bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah. Abraham disebut sebagai sahabat Allah dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, setelah ia menunjukkan imannya dengan perbuatannya.


Respons Abraham yang positif dan kuat terhadap kehendak Allah sudah tampak nyata sejak ia keluar dari Ur-Kasdim (Kej. 12:1–4). Itulah awal dari perjalanan iman Abraham. Mungkin kita menganggap, apa istimewanya keluar dari Ur-Kasdim? Perlu diketahui bahwa Ur-Kasdim adalah kota terbesar di dunia saat itu, dengan peradaban yang sudah maju. Abraham taat ketika dipanggil Allah keluar dari sana tanpa mengetahui negeri tujuannya. Orang lain mungkin menganggapnya gila.


Kemudian Allah berjanji akan membuat keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar, namun tiba-tiba Ia menyuruh Abraham mengorbankan Ishak, anak perjanjian yang diberikan Allah, sebagai kurban bakaran. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau anaknya harus dikurbankan? Tetapi sekali lagi Abraham taat. Tampak nyata responsnya yang benar terhadap Tuhan. Dihadapkan dengan pilihan antara janji dan perintah, Abraham memilih taat kepada perintah.


Kalau Abraham menolak meninggalkan Ur-Kasdim, ia tidak pernah menjadi nenek moyang umat pilihan Allah dan dinyatakan sebagai Bapa Orang Percaya. Dan respons Abraham bukan hanya satu tindakan dalam satu kali peristiwa saja, melainkan merupakan tindakan yang terus-menerus. Melalui rentetan pergumulannya, Abraham disempurnakan oleh Allah.


Seperti Abraham, respons bukan hanya suatu persetujuan pikiran yang mengamini apa yang Tuhan katakan, melainkan tindakan konkret yang membuktikan kepercayaan kita kepada-Nya. Allah tidak memaksa Abraham untuk melakukan kehendak-Nya, tetapi Abraham memang memilih untuk taat. Itulah sebabnya ia disebut sebagai sahabat Allah. Ia bukan “sahabat paksaan” atau “sahabat imitasi” karena tekanan, tapi sahabat sejati; sebab dengan rela ia mau menjadi sahabat Tuhan, berapa pun harga yang harus dibayarnya.


Respons Abraham inilah yang disebut iman. Iman harus dinyatakan dalam tindakan konkret. Yakobus menegaskan, “Oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (ay. 22). Iman disempurnakan melalui tindakan perbuatan nyata selama bertahun-tahun, sampai menjadi iman yang murni. Berarti tanpa tindakan, sesungguhnya tidak ada respons.



Respons yang benar ialah tindakan konkret yang membuktikan kepercayaan kita kepada Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.