RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Suara TUHAN Dalam Batin

Renungan Harian Virtue Notes, 20 Juni 2010
Suara TUHAN Dalam Batin

Bacaan : Yohanes 10 : 1–5


10:1. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."


TUHAN berbicara kepada kita melalui berbagai sarana. Di antaranya melalui hati atau batin kita, atau yang sering disebut sebagai hati nurani. Biasanya suara ini kita dengar bertalian dengan masalah yang sedang kita hadapi, atau pada saat kita harus mengambil keputusan untuk mengatasi masalah. Masalah di sini maksudnya bukan hanya masalah-masalah besar, tetapi juga dalam segala hal yang membutuhkan tindakan tepat. Suara ini tidak harus kita dengar secara audible (terdengar di telinga).

Hati nurani kita adalah sebuah instrumen yang dapat dipakai TUHAN untuk berbicara kepada kita. Ibarat piranti elektronik, suara hati kita ini adalah amplifier atau penguat suara. Walaupun ada suara tetapi kalau tidak ada amplifier, maka suara itu tidak akan terdengar. Maka bagi kita betapa pentingnya menjaga hati nurani, agar dapat sungguh-sungguh menjadi amplifier suara TUHAN. Inilah kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Firman TUHAN mengatakan, sebagai domba kita mendengar suara sang Gembala Agung (ay. 3). Kita pasti mengenal suara-NYA (ay. 4), sehingga seharusnya mendengar suara TUHAN bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini harus menjadi hal yang biasa di lingkungan anak-anak TUHAN. Hal ini harus kita alami setiap hari, sebab TUHAN pasti berbicara kepada kita setiap hari dengan aktifnya. Tanpa mendengar suara TUHAN kita dapat menjadi mangsa empuk kuasa kegelapan dan bisa dibinasakannya. TUHAN Yesus sendiri mengatakan IA selalu melakukan kehendak BAPA karena IA selalu mendengar suara BAPA (Yoh. 5:30).

Jika mendengar suara TUHAN demikian penting, bagaimana caranya agar hati nurani kita menyuarakan suara TUHAN? Caranya, kita harus senantiasa mengisi bejana pikiran kita dengan Firman TUHAN. Firman TUHAN dapat memperbarui pikiran kita (Rm. 12:2). Dengan demikian, hati nurani kita dapat didewasakan atau dimurnikan dan dapat berfungsi sebagai instrumen Ilahi untuk menyampaikan pesan-pesan TUHAN kepada kita.

Kemudian, kita mungkin bertanya, bagaimana membedakan suara TUHAN dan suara lain (suara kita sendiri) dalam hati kita? Dari kekayaan Firman TUHAN yang kita serap, kita akan memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak TUHAN yang harus kita lakukan : apa yang baik, yang berkenan kepada ALLAH, dan yang sempurna. Kepekaan mengerti apa yang dikehendaki-NYA disebut kecerdasan roh atau kecerdasan spiritual. TUHAN menghendaki anak-anak-NYA memiliki kecerdasan ini.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.