RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Berjiwa Musafir

Renungan Harian Virtue Notes, 19 Juni 2010
Berjiwa Musafir

Bacaan : Ibrani 11 : 8–16


11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.
11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.
11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.
11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.
11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.


Untuk panggilan mewarisi langit baru dan bumi baru, orang percaya harus belajar melepaskan diri dari segala ikatan (Ibr. 12:1).

Pertama, ikatan dosa. Ini menyangkut karakter kita yang belum seperti yang dikehendaki TUHAN; padahal DIA menginginkan kita sempurna.

Kedua, ikatan dengan keindahan dunia, yang tidak lain adalah percintaan dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Semua ini bukan berasal dari BAPA tetapi berasal dari kuasa jahat. Menanggalkan semua ikatan ini membuat seseorang berjiwa musafir.

Orang pertama yang dipanggil untuk menempati langit baru dan bumi baru ialah Abraham. Ia taat ketika ALLAH memanggilnya keluar dari Ur-kasdim ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya. Ketika ia tiba di tanah Kanaan yang merupakan tanah yang dijanjikan bagi keturunannya, menarik sekali bahwa ia tidak membangun kediaman permanen (ay. 9). Ia hanya mendirikan kemah. Padahal Abraham yang sangat kaya tentu sangat mampu membangun rumah yang megah. Mengapa ia tinggal di kemah, yang merupakan tempat tinggal sementara? Karena yang dinantikannya bukanlah Kanaan, melainkan tempat tinggal permanen di kota kekal, Yerusalem baru (ay. 10).

Meskipun sampai akhir hidupnya Abraham tidak pernah menemukan kota kekal yang dijanjikan itu, ia tetap percaya kepada ALLAH (ay. 13). Ia tidak pernah berniat kembali ke negeri asalnya, Ur-Kasdim. Ia tetap hidup sebagai musafir, karena ia menantikan langit baru dan bumi baru, tanah air surgawi yang lebih baik (ay. 16).

Dunia dengan segala keindahannya memang diciptakan TUHAN untuk manusia. Kita harus dapat menikmatinya, tetapi tidak boleh diperbudak olehnya. Kita harus meneladani Abraham, hidup sebagai musafir di bumi ini. Sebagai musafir, kita menyangkal diri, yaitu menanggalkan filosofi hidup manusia pada umumnya dan mengenakan filosofi kehidupan anak-anak ALLAH (1 Ptr. 1:18–19). Filosofi hidup manusia pada umumnya adalah menganggap hidup hanya satu kali, jadi menikmati hidup dan bersenang-senang di dunia ini adalah hal yang utama. Jika kita mengenakan filosofi demikian, kita tidak pernah dapat puas terhadap dunia yang diciptakan TUHAN, karena hasrat kedagingan kita tidak akan pernah bisa dipuaskan, sehingga kita tidak dapat menikmatinya. Tetapi sebaliknya ketika kita melepaskan diri dari belenggu mengutamakan dunia, justru kita dapat menikmati dunia ini dengan benar. Dengan gaya hidup musafir, kita menjadi bagaikan wisatawan dari surga yang berlibur di bumi. Kita menikmati dunia ini, tetapi tidak terikat sama sekali.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.