RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Benih Yang Jatuh Di Tanah Yang Berbatu

Renungan Harian Virtue Notes, 25 Juni 2010
Benih Yang Jatuh Di Tanah Yang Berbatu

Bacaan : Matius 13 : 5–6, 20–21


13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.


Dalam perumpamaan tentang penabur, TUHAN Yesus menjelaskan bahwa benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu ialah yang mendengar firman, menerima dengan gembira, namun kemudian murtad ketika ada penindasan dan penganiayaan karena firman itu. Di dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Firman TUHAN jatuh di tanah yang bercampur dengan batu. Masalahnya sebenarnya bukan pada batunya, melainkan karena tanahnya tidak banyak (ay. 5). Jadi benih bertunas, namun karena tidak cukup dalam masuk ke tanah, pada saat kena terik matahari, benihnya mati.

Ini merupakan fenomena orang Kristen baru, yang percaya Injil karena berbagai sebab, seperti perkawinan, mencari kesembuhan, penyelesaian masalah ekonomi, dan sebagainya. Ia menerima Injil sebagai kabar baik yang dapat menyelesaikan masalahnya. Namun ketika berusaha mendalaminya, ia baru menyadari bahwa Injil yang murni itu tidak seharusnya diterimanya dengan gembira, karena ternyata Injil mengharuskannya memikul salib dan menyangkal dirinya. Ketika ia menghadapi aniaya kecil seperti hinaan atau celaan, atau penindasan, ia seperti kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan akibat status Kristennya, ia merasa Kekristenan ternyata terlalu berat untuk dijalaninya. Maka ia pun meninggalkan Kristus.

Berarti tanah yang berbatu ini merupakan orang yang menganggap Kekristenan sama seperti agama-agama lain, yaitu sarana penyelesaian kebutuhan jasmani. Ia tidak sanggup menerimanya sebagai jalan hidup. Ia tidak sanggup menerima Injil yang murni, yaitu Kabar Baik menurut ALLAH, bukan menurut manusia. Akibatnya Firman tidak bisa berakar dalam dirinya.

Untuk mencegah diri kita menjadi tanah yang berbatu, kita harus belajar beberapa hal. Pertama, menyadari bahwa Kekristenan bukan sekadar status di KTP, melainkan menjadi pengikut Kristus, apa pun risikonya.Kedua, menerima Kekristenan sebagai jalan hidup dan bukan agama semata. Kekristenan mengharuskan kita memikul salib dan menyangkal diri. Ketiga, memperbanyak penggalian Alkitab setiap hari agar Firman TUHAN itu dapat berakar dalam diri kita. Penggalian kebenaran Alkitab tidak bisa menjadi sambilan, sebab seperti akar tanaman yang tidak pernah absen menyuplai nutrisi, maka kebenaran itu menyita seluruh hidup kita. Dengan kebenaran yang berakar, ketika panas terik penindasan datang, kita tetap teguh berdiri di pihak TUHAN.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.