RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Bertanggung Jawab Terhadap Anugerah

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Juni 2010

Bertanggung Jawab Terhadap Anugerah


Bacaan : Matius 18 : 21–35

18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."


Dalam perumpamaan TUHAN Yesus mengenai pengampunan, Ia menunjukkan bahwa orang yang akhirnya tidak diampuni adalah orang yang tidak mengerti ia telah menerima pengampunan begitu besar. Ia tidak mau mengampuni temannya yang berutang hanya 100 dinar, sedangkan ia telah menerima penghapusan utang 10.000 talenta. Satu talenta adalah 6000 dinar, kurang lebih upah kerja normal 16,5 tahun pada saat itu.

Gambarannya di masa kini, kita digaji Rp 3 juta sebulan, tetapi karena kita berbelanja sesuka hati kita dengan berbagai kartu kredit—katakanlah itu mungkin— kita berutang Rp 6 trilyun. Sanggupkah kita membayarnya? Lalu TUHAN Yesus datang dan membayar lunas semua utang kita tersebut. Masakan kita masih mau menagih orang yang berutang Rp 10 juta kepada kita, padahal utang kita yang Rp 6 trilyun telah dihapus oleh TUHAN? Mengampuni memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi kalau seseorang mengerti dan menghayati pengampunan dari TUHAN, maka pastilah ia dapat mengampuni sesama. Angka-angka di atas dapat memberikan gambaran bagi kita. Itulah sebabnya TUHAN berkata, “Kalau kamu tidak mengampuni, maka TUHAN juga tidak mengampuni” (Mat. 6:14–15).

Setelah utang kita dihapus oleh TUHAN, bolehkah kita belanja semau gue lagi? Tentunya tidak. Kita harus membelanjakan kartu kredit kita untuk kepentingan TUHAN yang telah menyelesaikan utang kita. Anugerah keselamatan itu diberikan TUHAN bersamaan dengan tanggung jawab yang harus dipikul juga. Masalah dosa memang telah diselesaikan-NYA, tetapi bukan berarti orang percaya berhenti bergumul. Justru setelah memperoleh keselamatan, orang percaya memulai suatu pergumulan yang baru, yaitu mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Pergumulan itu adalah agar kita memiliki kesediaan dan kapasitas menerima anugerah. Mengerjakan keselamatan maksudnya adalah agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Apakah ini mungkin? Mengapa tidak? TUHAN yang memberi perintah, tentu IA juga yang akan memberi kesanggupan untuk dapat melakukannya.

Mari kita belajar bertanggung jawab terhadap anugerah dengan menghayati kasih TUHAN bagi kita, sehingga kita bisa melakukan kasih yang sama. Kita telah diampuni, maka kita mengampuni. TUHAN telah menyerahkan nyawa-NYA bagi kita, maka kita menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita. IA menuntut kita mengasihi-NYA lebih daripada siapa pun dan apa pun. Status yang tinggi tuntutannya pun tinggi.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.