RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Pilihan Hidup

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Juni 2010
Pilihan Hidup

Bacaan : Yeremia 1 : 4-12


1:4. Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."
1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."
1:9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
1:10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam."
1:11. Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."
1:12 Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku."

Dalam sejarah pergumulan teologia gereja, hal kehendak bebas (liberum arbitrium) merupakan masalah yang penting. Ini juga diperbincangkan dan menjadi bahan perdebatan seru di dalam filsafat dan agama. Salah sati presuposisi bagi penelitian etika adalah keyakinan bahwa manusia ialah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab. Dua hal ini memiliki ikatan dan unsur pengertian yang sama, sekaligus ada hubungan timbal balik. Manusia disebut sebagai makhluk yang bertanggung jawab apabila manusia hadir sebagai makhluk yang bebas. Manusia sebagai makhluk yang bebas, oleh karena itu ia harus bertanggung jawab. Seandainya tidak demikian, maka tidak mungkin dapat menilai manusia secara etis.

Dari sudut pandangan etika, kebebasan mutlak perlu ada. Kebebasan mutlak di sini maksudnya adalah, bagaimanapun manusia yang menentukan langkah kehidupannya sendiri. Namun di sisi lain, setiap individu telah memiliki keberadaan dasar yang tidak dapat ditolak. Maksudnya, seseorang tidak dapat memilih dilahirkan di mana. Itulah takdir. Seorang Jawa yang lahir di Solo merupakan penentuan TUHAN, tetapi apakah menjadi orang Jawa yang baik atau orang Jawa yang jahat, itu pilihan.

Seperti dalam kisah Nabi Yeremia, TUHAN mengatakan kepadanya bahwa ia telah ditentukan TUHAN sejak dalam kandungan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Jadi TUHAN sudah mengetahui dan menetapkan Yeremia sebagai nabi bagi bangsa-bangsa. Sementara bagi Yeremia, ia tidak mengetahui hal ini, namun yang ia pahami adalah ia harus menjalani kehidupannya sesuai dengan kehendak TUHAN secara total. Hal ini yang membuat ia dapat mendengar suara TUHAN dan berdialog dengan TUHAN.

Serupa dengan kita; kita tidak mengetahui masa depan kita. Bahkan satu detik setelah ini pun tidak. Namun menjadi bagian kita adalah menjalani kehidupan ini sesuai dengan kehendak TUHAN detik demi detik, sampai pada akhirnya. Pertanyaannya adalah : Apakah kita mau?

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.