RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Destroyed And Be Rebuilt

Renungan Harian Virtue Notes, 21 Januari 2011

Destroyed And Be Rebuilt



Bacaan: Yohanes 2: 18-22


2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"

2:19 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."

2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.

2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.



Setelah menyucikan Bait Allah, orang-orang Yahudi menantang Tuhan Yesus agar Ia memberikan tanda bahwa ia berhak bertindak demikian. Jawab Yesus, “Runtuhkan Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (ay. 19) Dalam ayat tersebut kata yang benar adalah “runtuhkan”, bukan “rombak”, sebab kata Yunani yang digunakan adalah λύω (lyō). Seperti dalam terjemahan bahasa Inggris International Standard Version, “Destroy this sanctuary, and in three days I will rebuild it.”


Yohanes menjelaskan bahwa yang dimaksud Yesus adalah tubuh-Nya sendiri (ay. 21) dan itu digenapi-Nya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Namun perkataan Yesus ini memang juga berarti bait Allah akan diruntuhkan, dan akan dibangun kembali di dalam Kristus. Maksudnya, keberagamaan gaya lama diruntuhkan, dan diganti dengan hidup baru di dalam Kristus.


Dengan demikian Kekristenan bukanlah agama yang melakukan perbaikan-perbaikan atas moral manusia, tetapi membuat seseorang hidup baru (Ef. 4:24). Hidup baru yang kita miliki akan membawa kita kepada klimaks, yaitu “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19–20). Jadi, yang penting bukanlah sudah berapa lama kita menjadi Kristen, atau apakah kita rajin ke gereja, tetapi apakah kita mengenakan hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus.


Hidup baru tidak cukup ditandai dengan “budaya baru” sebagai orang Kristen—pergi ke gereja, mengenal lagu rohani dan melakukan kegiatan gerejani. Kalau hanya seperti itu, sama saja dengan keberagamaan gaya lama di bait Allah yang fisik di bumi, padahal Tuhan mengatakan itu sudah dihancurkan. Hidup baru ditandai dengan kerinduan terhadap kerajaan Surga, hidup berkenan kepada Tuhan, dan melayani Tuhan dengan segenap hidup. Kalau ciri-ciri seperti ini belum tampak dan belum menguat dalam hidup kita, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita hidup baru di dalam Tuhan?


Agar hidup baru dapat kita bangun, kita harus meruntuhkan hidup lama kita, melepaskan manusia lama kita. Ya, seperti tubuh fisik Kristus yang runtuh dan didirikan kembali, hidup kita yang lama juga harus runtuh, supaya hidup yang baru bisa didirikan. Meruntuhkan hidup lama kita sangat ditentukan oleh diri kita sendiri, apakah kita mau atau tidak. Sebagai manusia baru, kita harus bersedia menjadi seperti bayi yang selalu mengingini susu murni (1Ptr. 2:2), dan harus bersedia menjadi seperti orang kecil atau anak kecil (Mat. 11:25-27, Mat. 18:3).



Seperti tubuh fisik Kristus yang runtuh dan didirikan kembali, hidup kita yang lama juga harus runtuh, supaya hidup yang baru bisa didirikan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.