RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Sikap Terhadap Pluralisme

Sabtu, 8 Mei 2010


Bacaan : Lukas 9 : 51-56

Yesus dan orang Samaria

9:51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? " 9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka . 9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.


Ketika sebuah desa Samaria menolak Yesus-baik sebagai seorang Yahudi maupun karena ajaran-NYA. IA memarahi murid-murid-NYA yang ingin menghancurkan desa tersebut. Ini menunjukkan sikap Yesus yang toleran dan mengasihi bahkan terhadap orang yang menolak-NYA.

Perlu diwaspadai, di kalangan Kristen telah berkembang sikap toleransi yang tidak proporsional terhadap berbagai agama, pandangan, falsafah, dan gaya hidup, yang mengkristal dalam bentuk paham dan pandangan. Paham atau pandangan tersebut sampai mengurangi ketegasan iman Kristen yang jelas mengemukakan bahwa Yesus Kristuslah satu-satunya jalan keselamatan. Berbagai alasan dikemukakan sebagai dasar argumentasi guna melegalkan pandangan yang memungkinkan bahwa keselamatan juga terdapat dalam agama-agama lain. Pandangan ini bisa berujung pada pengkhianatan terhadap kebenaran Injil yang orisinal.

Seorang penulis Kristen mengatakan bahwa toleransi bukanlah teologi, melainkan suatu sikap etika yang tentu harus dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran. Dalam perspektif Kristen, etika toleransi adalah etika yang bersumber pada prinsip-prinsip kebenaran Kristen dan teologi Kristen.

Etika toleransi bertentangan dengan apa yang diusulkan oleh kaum pluralis Kristen, yang membangun falsafah yang sifatnya universal (global), sampai mengorbankan ketegasan mengenai keselamatan. Falsafah pluralis itu didasarkan pada prinsip kebenaran umum yang diakui oleh semua agama di dunia. Dengan pandangan ini, kebenaran absolut dari Alkitab pun disangkal. Bila ini diterima, maka misi penginjilan secara otomatis tidak lagi dibutuhkan, sebab penginjilan pada dasarnya dianggap sebagai perusak harmonisasi hidup bersama dalam masyarakat majemuk.

Selain pluralisme agama, ada juga pluralisme teologis. Pluralisme teologis ialah sikap menerima semua bentuk dan hasil penafsiran tentang iman dalam kehidupan Gereja TUHAN. Teologi yang diupayakan kaum pluralis teologis ini bersumber dari dalam dan dari luar Alkitab. Hasilnya ialah gabungan dari semua "kebenaran" yang ada. Pandangan ini melahirkan sikap relativisme : Menganggap bahwa kebenaran itu pada hakikatnya adalah relatif. Relativisme telah menguasai hampir semua bidang kehidupan dan penelitian, di antaranya di bidang etika dengan etika situasional, dan di bidang agama dengan mencanangkan tidak adanya kebenaran yang mutlak. Berhati-hatilah, sebab ini pandangan yang salah. Ingat, Yesus bertoleransi, tetapi tetap mengatakan bahwa diri-NYA lah kebenaran yang mutlak itu.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.