RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Mengapa Yesus Menangis?

Renungan Harian Virtue Notes, 30 Mei 2010

Mengapa Yesus Menangis?


Bacaan : Yohanes 11 : 32–44

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

11:33. Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:

11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"

11:35 Maka menangislah Yesus.

11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"

11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."

11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"

11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."


Pasti kita sudah akrab dengan kisah TUHAN Yesus membangkitkan Lazarus. Dalam kisah tersebut terdapat ayat yang dalam bahasa aslinya terpendek di seluruh Alkitab: “Maka menangislah Yesus” (ay. 35). Aslinya ditulis
δάκρυσεν ησος” (Edakrüsen ho Yēsūs). Mengapa Yesus menangis? Dengan pengertian yang benar, ayat yang terpendek ini akan menjadi ayat yang sangat kuat.

Penting diketahui, kata yang digunakan dalam ayat ini berbeda dengan kata yang digunakan untuk menggambarkan tangisan Maria dan orang-orang Yahudi (ay. 33). Di sana digunakan kata κλαίω (klaiō) yang artinya “menangis meraung-raung”. Sementara Yesus hanya meneteskan air mata (edakrüsen, dari akar kata δακρύω [dakrüō]), jauh dari kecengengan. Tetapi perlu diakui bahwa setegar-tegarnya TUHAN Yesus, IA pun mempunyai emosi yang bisa tersentuh dan sedih yang termanifestasi dalam tangisan. Tentunya IA tidak sedih karena kehilangan sahabat-NYA, karena IA sangat tahu bahwa IA akan segera membangkitkan Lazarus. Jadi mengapa?

Pertama, Yesus menangis karena IA teringat akan akibat dosa. Sebagai ALLAH Yang Kudus, IA benci terhadap dosa. Menyaksikan bagaimana dosa bisa merusak dan membunuh sangat menyedihkan bagi-NYA. Apakah kita merasakan hal ini juga, bagaimana dosa bisa merusak, dan membuat orang lain mati, bahkan mati tanpa pengenalan akan TUHAN yang benar, sehingga berakibat kebinasaan kekal?

Kedua, IA melihat ketidakpercayaan pada orang-orang yang dikasihi-Nya. IA telah mengatakan bahwa Lazarus akan bangkit, tetapi tidak ada yang percaya. Bahkan Maria, orang terakhir yang diharapkan-NYA untuk percaya, ternyata juga tidak percaya (ay. 32). Demikianlah, Yesus sedih jika kita tidak percaya kepada-NYA. Hati-NYA sakit menyaksikan kita menyangsikan kebenaran Injil-NYA, seperti kebaikan-NYA dalam segala hal, termasuk dalam penderitaan (Rm. 8:28).

Ketiga, IA melihat kemunafikan orang-orang Yahudi yang menangis meraungraung (ay. 33). Ini dibuktikan dengan penggunaan kata “masygul”
(μβριμάομαι, embrimaomai), artinya “marah terhadap kesalahan atau ketidakadilan”. Yesus sedih melihat praktik keagamaan yang munafik, yang tidak menyembah TUHAN dalam roh dan kebenaran, tetapi dalam daging dan kepalsuan.

Masihkah kita melakukan hal-hal yang membuat TUHAN meneteskan air mata-NYA? Masihkah kita terus berdosa? Masihkah kita tidak percaya kepada-NYA dan kepada Injil yang murni? Masihkah kita hanya menjadi Kristen agamawi, dan belum mau menyerahkan sepenuh hidup kita kepada-NYA? Bertobatlah.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.