RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Sendiri

Renungan Harian Virtue Notes, 17 April 2011

Sendiri



Bacaan: Lukas 14: 26-33


14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

14:28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

14:29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

14:30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

14:31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

14:32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.



Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus melepaskan diri kita dari segala milik kita apabila kita mau menjadi murid-Nya. Dalam teks aslinya, “melepaskan” ditulis ποτάσσομαι (apotásomai) yang juga berarti “merelakan pergi” atau “mengucapkan selamat tinggal”. Merelakan kita ditinggalkan oleh semua yang ada pada kita akan berdampak kita lebih mengasihi Tuhan dan membangun hubungan yang eksklusif.


Melepaskan segala milik kita berarti rela menggunakan semua yang kita miliki untuk melayani Tuhan; melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya sekalipun kita harus kehilangan milik kita atau ditinggalkan keluarga kita. Dengan begini kita lebih mudah melepaskan diri dari ikatan dunia yang membutakan mata pengertian kita terhadap kemuliaan Kristus (2Kor. 4:4). Ingat, kita datang tidak membawa suatu apa pun, dan kita juga akan pergi tidak membawa suatu apa pun (1Tim 6:7).


Dengan menghayati kebenaran ini, mulai sekarang kita harus belajar berurusan sendiri dengan Tuhan. Maksudnya, dalam hidup ini kita berurusan dengan Tuhan seolah-olah kita tidak memiliki siapa pun dan apa pun. Kita harus belajar merasakan kesendirian ini; seolah-olah kita tidak memiliki orang tua, tidak memiliki pasangan hidup, anak-anak, saudara dan sahabat.


Sama sekali kita tidak bermaksud membuang mereka dari hidup kita, tetapi kita harus siap untuk melepaskan atau dilepaskan oleh mereka. Suatu hari kita akan menghadap Tuhan sendirian juga, tanpa disertai atau dibantu siapa pun dan tanpa membawa apa pun. Dengan mengerti kebenaran ini justru kita akan lebih mengasihi keluarga dan sahabat kita, sebab kita menyadari bahwa kesempatan bertemu dan bercengkerama dengan mereka tidak lama. Apabila mereka belum diselamatkan, kita akan lebih berusaha bertanggung jawab berbuat sesuatu demi keselamatan abadi mereka, dalam singkatnya hidup kita di dunia ini.


Karena itu marilah kita belajar membangun sendiri hubungan pribadi dengan Tuhan, sebab kualitas hubungan kita dengan Tuhan hari ini menentukan hubungan kekal kita nanti dengan-Nya. Itu bisa kita lakukan sendiri, tidak butuh perantara seperti tokoh rohani, pemimpin gereja atau orang lain. Kita tidak perlu percaya dengan orang yang mengatakan bahwa kita hanya dapat berurusan dengan Tuhan melalui mereka. Itu pembodohan dan manipulasi yang merusak pola hubungan eksklusif manusia dengan Tuhan. Kita tidak perlu bergantung kepada manusia, sebab kita hanya bergantung kepada Tuhan Yesus Kristus.



Kita harus berurusan sendiri dengan Tuhan untuk membangun hubungan eksklusif yang berkualitas dengan-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.