RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Si Sulung Yang Terhilang

Renungan Harian Virtue Notes, 22 Oktober 2011

Si Sulung Yang Terhilang



Bacaan: Lukas 15: 25-32


15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.

15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.

15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.

15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."



Anak hilang bukan hanya si bungsu, melainkan juga si sulung. Mari kita pelajari apa kesalahan si sulung, sehingga kita tidak melakukan hal yang sama.


Pertama, si sulung menunjukkan sikap tidak hormatnya dengan tidak mau masuk ke rumah (ay. 28). Ia melecehkan ayahnya di depan hamba-hambanya yang lain. Berarti ia merasa sejajar dengan bapanya, tidak menghormati sebagaimana mestinya. Sikap inilah yang ada pada Lucifer, yaitu mencuri kemuliaan Allah. Kalau kita masih mencuri sekecil apa pun kemuliaan yang pantas bagi Tuhan berarti dalam diri kita ada virus Lucifer ini.


Kedua, si sulung merasa dirinya benar dan tidak memiliki pelanggaran dalam rumah ayahnya. Itulah sebabnya ia mencoba membandingkan kebenaran hidupnya dengan adiknya (ay. 29–30). Orang-orang seperti ini kesucian hidupnya diukur dengan peraturan lahiriah; padahal kebenaran diukur dengan kepekaan terhadap kehendak Allah. Orang yang tidak menguji hatinya sendiri tidak akan pernah mengenali dirinya dengan benar. Mereka merasa dirinya pandai, padahal pandir.


Ketiga, si sulung juga merasa berhak mendapatkan upah. Ia merasa pantas mendapatkan imbalan atas semua yang dilakukannya (ay. 29). Pada dasarnya motivasi pengabdian seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai pelayanan, tetapi orang upahan (bandingkan dengan Luk. 17:10). Ini menggambarkan orang-orang Kristen yang merasa tidak memiliki utang kepada Tuhan. Mereka merasa berhak meminta suatu imbalan dari Tuhan, akibatnya melakukan segala sesuatu harus sebanding dengan yang mereka terima. Orang seperti ini pasti tidak bisa all out.


Keempat, si sulung merasa belum cukup memiliki sukacita dalam persekutuan dengan bapanya. Ini dibuktikan dengan banyak sahabat yang menurutnya bisa mengisi hatinya (ay. 29). Seharusnya orang percaya berprinsip bahwa di luar Tuhan tidak ada kebahagiaan. Bersahabat dengan dunia adalah perselingkuhan, suatu pengkhianatan kepada Tuhan.


Kelima, ia tidak menyadari bahwa semua yang dimiliki bapanya juga dimiliki dirinya; sekaligus pula berarti apa yang dimiliki dirinya juga dimiliki Bapa. Sebagai anak-anak Allah, semua yang dimiliki Bapa juga akan menjadi milik kita. Tetapi ini tidak berarti kita bisa mengklaim milik-Nya, sebab seorang anak yang benar harus seperasaan dan sepikiran dengan Bapa terlebih dahulu, sehingga bahkan merasa tidak berhak memiliki diri kita sendiri (ay. 31). Dengan memahami pikiran dan perasaan Bapa, kita akan dapat sepenanggungan dengan-Nya (ay. 32).



Pelajaran tentang si sulung yang terhilang mengingatkan kita bahwa orang yang baik di mata orang lain ternyata bisa terhilang di mata Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.