RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Kejujuran

Renungan Harian Virtue Notes, 11 Nopember 2010

Kejujuran


Bacaan: Yohanes 1:19-28

1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.


Pada suatu kesempatan perkenalan di suatu pertemuan, seorang bapak memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengacara yang bekerja di kantor hukum terkenal di kota asalnya. Dan ia bercerita bagaimana sibuknya ia menangani kasus-kasus yang sedang marak terjadi di tengah masyarakat kota. Tidak disangka, penulis juga mempunyai teman yang menjadi rekan kerja sang pengacara di kantor tersebut. Pada kesempatan lain, tatkala bertemu dengan sang teman, penulis menanyakan apakah ia kenal dengan bapak tersebut. Saudara, jawaban yang penulis dengar sangatlah mengejutkan: ternyata bapak tersebut bekerja sebagai satpam di kantor pengacara itu.

Hari ini kita membaca mengenai kesaksian Yohanes tentang dirinya sendiri. Ada hal menarik yang kita temui untuk kita pelajari, yaitu, kejujuran Yohanes Pembaptis sebagai utusan. Ia tidak memanfaatkan kedudukannya tersebut. Ketika orang bertanya apakah ia Elia, Yohanes menjawab bukan. Ditanya apakah ia nabi yang akan datang, ia menjawab bukan. Ditanya apakah ia Mesias, apa lagi? Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Semestinya Yohanes Pembaptis adalah orang yang cukup terkenal, karena ia anak imam Zakharia. Bahkan kelahirannya pun sangat dahsyat, sangat spekatakuler. Saat itu Elisabet sudah tidak mungkin memiliki anak, dan bahkan Zakharia sempat menjadi bisu akibat tidak percaya akan kehamilan istrinya. Masyarakat tentu tahu dan masih ingat peristiwatersebut. Namun kalau saat itu orang masih bertanya, “Siapakah engkau?” ini berbicara mengenai “Apa panggilanmu?”, “Apa kedudukanmu?”, bukan soal identitas sosial. Ia menuding dengan tegas, “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa engkau dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” (Mat.3:7).

Ini suatu pelajaran yang sangat berharga. Kalau Tuhan memakai kita dan membuat kita luar biasa, kita harus menjaga diri. Bila kita menjadi terkenal, terhormat, dan diunggulkan, berhati-hatilah. Jangan pernah mengambil keuntungan di balik semua keagungan, kehormatan dan keunggulan yang kita miliki. Kita harus sadar bahwa kita hanya utusan, yang tak mungkin lebih besar dari Dia yang mengutus kita. Yesus sendiri berkata, “Bapa-Ku lebih besar dari pada-Ku….” (Yoh. 14:28) Mari belajar dari Yohanes Pembaptis, yang tidak lupa siapa dirinya dan apa statusnya. Sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan, “Katakanlah, ‘Aku hanyalah hamba yang tidak berguna, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.’” (Luk. 17:10)


Kita harus jujur dan tidak boleh mengambil keuntungan di balik keagungan, kehormatan dan keunggulan yang kita miliki.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.