RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Memuliakan TUHAN

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Oktober 2010

Memuliakan TUHAN


Bacaan : Matius 15 : 8-9

15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."


“Terpujilah TUHAN,” begitu banyak kalimat ini terdapat dalam kitab Mazmur (misalnya Mzm. 28:16; 31:22; 72:18) dan menjadi bagian dari lagu puji-pujian kita. Banyak orang Kristen memahami ayat-ayat itu sebagai panggilan untuk memuji-muji TUHAN dengan bibirnya, sehingga mereka merasa sudah memuliakan TUHAN dengan menyanyikan lagu-lagu rohani. Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan “memuliakan TUHAN” itu? Pertanyaan ini menjadi penting, sebab pada kenyataannya banyak orang Kristen yang merasa telah memuliakan ALLAH sebenarnya belum memuliakan-NYA sebagaimana mestinya sesuai kehendak ALLAH.


Kata “memuliakan” berasal dari akar kata “mulia” yang artinya “tinggi (kedudukan, pangkat, martabat), luhur, terhormat, agung”. “Memuliakan” berarti “menghormati, sangat menghargai, menjunjung tinggi, memandang luhur”. Dalam bahasa Yunani, kata ini ditulis δόξα (dóksa), dalam bahasa Ibraninya כָּבַד (kâvad). Dalam kata-kata tersebut terkandung unsur yang memberi nilai atau bobot atas sesuatu, sebab juga dapat diterjemahkan sebagai “kecemerlangan”. Jadi memuliakan ALLAH berarti mengakui bahwa ALLAH adalah pribadi yang sepenuh-penuhnya pantas menerima apa yang diucapkan tentang DIA sebagai pernyataan sujud dan hormat.


Dari Mat. 15:8 dapat kita peroleh satu kebenaran bahwa memuliakan ALLAH bukanlah hal yang hanya menyangkut soal bibir atau lidah seperti anggapan banyak orang selama ini. Orang yang sudah cukup merasa puas memuliakan ALLAH bila dapat menyanyikan beberapa lagu atau mengucapkan beberapa kata yang berisi pemujaan kepada ALLAH tanpa disadari telah jatuh ke dalam paham Farisiisme. Dengan tegas TUHAN Yesus mengutip Yes. 29:13, “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.”


Bila cara kita memuliakan TUHAN seperti ini, maka kehidupan ibadah kita sama rendah nilainya dengan kehidupan ibadah agama-agama lain: yang penting formalitas, yang penting liturgi, yang penting upacara, yang penting yang kelihatan, lahiriahnya saja. Sesungguhnya memuliakan TUHAN bukan hanya dengan bibir, lidah dan mulut ini, tetapi jauh lebih penting adalah dengan hati, dengan batin sehingga terpancar dari segenap kehidupan kita. Bukan hanya yang kelihatan, tetapi yang tidak kelihatanlah yang lebih penting, yaitu manusia batiniah kita. Oleh sebab itu orang Kristen seharusnya tidak hanya belajar teknik memuji TUHAN dengan nyanyian dan alat musik, tetapi bagaimana memiliki sikap hati yang memuliakan TUHAN dalam segenap kehidupannya dari hari ke hari.


Memuliakan TUHAN bukan hanya dengan bibir, tetapi jauh lebih penting adalah dengan hati.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.