RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Bukan Untuk Pamer

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Oktober 2010
Rata PenuhBukan Untuk Pamer


Bacaan : Markus 6 : 1–6

6:1. Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6:6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.


Kita percaya bahwa TUHAN memiliki kuasa melebihi segala kemampuan apa pun dan siapa pun. Semasa hidup-NYA di bumi ini, Yesus melakukan banyak mukjizat. Tetapi itu bukan untuk gagah-gagahan atau memamerkan kuasa TUHAN, melainkan sebagai wujud kasih-NYA kepada umat pilihan-NYA yang ditindas bangsa Romawi, sekaligus sebagai tanda bahwa IA berasal dari ALLAH (Yoh. 3:2).

Dengan membuat orang Yahudi percaya bahwa Yesus datang dari ALLAH, barulah IA dapat mengajar orang-orang Yahudi, dan pengajaran-NYA bisa didengar. Bayangkan saja, orang-orang Yahudi mengenal Yesus sebagai tukang kayu, anak Yusuf dan Maria. Bahkan saudara-saudaranya pun ada bersama-sama dengan mereka. Di Nazaret, tempat asal-NYA sendiri pun TUHAN Yesus ditolak.


Jadi jelaslah bahwa mukjizat itu perlu dalam pelayanan TUHAN Yesus, sebab bagaimana orang-orang Yahudi mau mendengar pengajaraan Injil Kerajaan Surga oleh seorang tukang kayu dari kota kecil, apabila tidak ada keajaiban yang menyertai-NYA? Ini harus kita pahami dan terima dengan lapang hati, agar kita tidak menuntut apa yang dilakukan TUHAN Yesus di Palestina dua ribu tahun lalu juga harus terjadi di tempat kita hari ini. Keadaan TUHAN Yesus pada waktu itu sangat berbeda dengan keberadaan kita hari ini.

Misalnya, kita sudah mengetahui kisah TUHAN Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Apakah itu untuk pamer kuasa TUHAN? Tidak. Pada saat itu memang tidak mungkin menyediakan makanan dalam jumlah besar dengan segera. Itu kondisi yang tidak normal; tak boleh kita tuntut -sekali lagi- kita menuntut kejadian serupa terjadi dalam kehidupan kita yang dalam kondisi normal.

Ini sejajar dengan apa yang dialami bangsa Israel di padang gurun. Di padang gurun TUHAN memberikan mereka manna dari Surga, tetapi sesampainya di Kanaan, mereka harus mulai menanam gandum. TUHAN ingin mereka belajar hidup bertanggung jawab. Kalau kita hari ini kita bisa bekerja, membeli makanan, bisa menjaga kesehatan, maka tidak pantas kita menuntut TUHAN melakukan mukjizat. Seharusnya kita hidup bertanggung jawab, agar kita bertumbuh dewasa dalam kebenaran. Mukjizat adalah hak istimewa-NYA sebagai tanda, terutama bagi orang yang belum percaya. Bukan untuk pamer, apalagi untuk membanggakan diri.


Mukjizat adalah hak TUHAN; hidup bertanggung jawab adalah kewajiban kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.