RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Anak-anak ALLAH

Renungan Harian Virtue Notes, 11 Oktober 2010
Anak-anak ALLAH


Bacaan : Kejadian 6 : 1-6

6:1. Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2Tebal maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
6:3. Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."
6:4. Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6:6. maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.


Sebagai orang Kristen, kita pasti mengaku sebagai anak-anak ALLAH. Namun pantaskah kita menyebut diri kita anak-anak ALLAH? Rm. 8:14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh ALLAH, adalah anak ALLAH.” Jadi orang yang tidak dipimpin oleh Roh ALLAH pasti bukan anak ALLAH.

Tetapi saat kita membaca kembali Perjanjian Lama, ternyata Kej. 6:1–3 menyebut “anak-anak ALLAH”. Timbul pertanyaan, siapakah anak-anak ALLAH di sini? Apa dasarnya mereka disebut anak-anak ALLAH? Pada waktu itu, ada dua kelompok besar manusia, yaitu keturunan Kain dan keturunan Set (anak Adam pengganti Habel yang telah dibunuh oleh Kain). Keturunan Kain adalah keturunan orang-orang berprestasi dari sudut pandang manusia, namun ternyata pola hidupnya tidak sesuai dengan kehendak TUHAN: poligami, balas dendam, dan lain sebagainya (Kej. 4:17–26). Keturunan Kain tidak hidup dalam pimpinan Roh TUHAN. Di pihak lain, ternyata TUHAN masih menopang keturunan Set dengan menaruh Roh-NYA di dalam diri mereka (Kej. 6:3). Itulah sebabnya keturunan Set disebut anak-anak ALLAH. Sayangnya keturunan Set (anak-anak ALLAH) melakukan kawin campur dengan keturunan Kain (anak Manusia), sehingga mereka mulai hidup dalam keinginan daging dan perbuatan mereka semata-mata melukai hati TUHAN (Kej. 6:5–6). Oleh sebab itu Roh TUHAN undur dari kehidupan manusia. Sejak itu tidak ada manusia yang pantas disebut sebagai anak-anak ALLAH.

Pada zaman anugerah ini, TUHAN membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak ALLAH, melalui hidup dalam pimpinan Roh ALLAH. Roh ALLAH berkenan kembali untuk diam di dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan TUHAN Yesus, bahwa lebih berguna bagi orang percaya, jika DIA pergi. Sebab jikalau DIA tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya, tetapi jikalau DIA pergi, DIA akan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya (Yoh. 16:7).

Kita sungguh beruntung karena kita terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak mendukakan Roh Kudus yang dimeteraikan kepada kita. Jangan sampai peristiwa di Kej. 6 terulang lagi: karena manusia selalu hidup dalam kedagingan dan tidak mau hidup dalam pimpinan Roh Kudus, maka Roh ALLAH undur darinya. Inilah yang disebut sebagai “menghujat Roh Kudus”. Menghujat Roh Kudus berarti menolak karya Roh Kudus yang menuntun orang Kristen untuk hidup sebagai anak-anak ALLAH. Bila kesempatan ini tidak dihargai, maka tidak akan ada lagi kesempatan kedua.


Sediakan diri kita untuk dipimpin Roh Kudus, agar kita pantas disebut anak-anak ALLAH.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightment, dengan ijin penerbit.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.