RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

KAU-lah Segalanya

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Oktober 2010

KAU-lah Segalanya



Bacaan : Mazmur 73 : 25–26


73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.

73:26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.



Dahulu saat penulis tengah duduk di bangku gereja, rasanya hanyut dan terbuai dalam alunan liturgi. Pikiran tertuju dalam perenungan kepada TUHAN. Rasanya TUHAN adalah segalanya bagi diri penulis saat itu. Tetapi anehnya begitu keluar dari pintu gereja, semua lenyap. Itu pun terjadi bahkan ketika penulis sudah mengambil bagian dalam pelayanangereja. Pernahkah Saudara mengalami hal seperti ini juga?


Mengucapkan “TUHAN, KAU lah segalanya bagiku,” begitu mudah diucapkan saat kita hanyut dalam penyembahan di gereja atau persekutuan doa. Tetapi pernahkah kita mendalami lebih jauh, benarkah kita telah menjadikan-NYA segalanya? Mengertikah kita apa arti kalimat tersebut? Saat keluar dari gereja dan kembali dalam kegiatan sehari-hari, sering kita tidak menjadikan TUHAN segalanya.


Jika kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu—katakanlah sepeda motor baru—maka bayangan sepeda motor tersebut akan terpatri dalam pikiran kita siang dan malam, dan dalam semua kegiatan harian kita, yang terbayang hanya sepeda motor tersebut. Demikian juga dengan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, siang dan malam yang teringat hanya wajah si dia. Apa pun jadi nikmat jika bersama si dia. Kita bisa memperlakukan seseorang atau sesuatu seperti itu, sedangkan kepada TUHAN rupanya kita tidak memperlakukan-NYA seperti itu. Saat kita berseru, “TUHAN, aku tidak dapat hidup tanpa ENGKAU!” biasanya yang kita maksudkan adalah kita tengah dalam keadaan tertekan, krisiskesehatan, perasaan, atau ekonomi, dan kita hendak meminta TUHAN menolong kita. Apakah itu berarti IA sungguh-sungguh segalanya bagi kita?


Ya, kita manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, tetapi kita juga harus menyadari bahwa dalam diri kita ada rongga kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun kecuali oleh DIA, Sang Pencipta. Sudah waktunya kita tidak menempatkan TUHAN sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan jasmani kita, tetapi DIA lah kebutuhan kita. Pribadi-NYA lah yang paling kita ingini, bukan kuasa-NYA, bukan berkat-NYA. Tempatkanlah DIA pada tempat yang terhormat dan termulia. Seperti Asaf berkata dalam mazmurnya, “Selain ENGKAU tidak ada yang kuingini di bumi.” Sungguh suatu kehormatan bahwa kita bisa mengenal TUHAN Semesta Alam dan diperkenankan bersekutu dengan-NYA. Dan kemuliaan yang disediakan-NYA bagi kita di langit dan bumi baru sungguh tiada terkira, apa lagi yang kita inginkan? Dengan memahami hal ini barulah kita dapat berkata, “KAU lah segalanya bagiku.”



Menjadikan TUHAN segalanya berarti sungguh-sungguh menempatkan TUHAN pada tempat yang terhormat dan termulia dalam kehidupan kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.