RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Kemerdekaan Dari Tubuh Maut

Renungan Harian Virtue Notes, 22 Oktober 2010

Kemerdekaan Dari Tubuh Maut


Bacaan : Roma 8 : 18–25

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,
8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.


Ketika bangsa Israel masih tinggal di Mesir dan menjadi budak, mereka bersungut-sungut, mengeluh dan menantikan kemerdekaan. Tetapi saat keluar dari Mesir, sebagian dari mereka ternyata lebih betah di Mesir, karena mereka tidak sanggup menghadapi risiko hidup di luar Mesir. Karenanya kita temukan adanya sekelompok orang Israel yang bersungut-sungut ketika mereka berada di padang gurun menuju tanah Kanaan.

Dunia ini ibarat Mesir, bukan tempat yang ideal bagi kita. Dunia sudah jatuh ke dalam dosa, dan tidak menjanjikan. Mata hati kita harus tertuju pada negeri yang dijanjikan TUHAN. Dunia ini bukan tempat permanen kita (Yoh. 17:16). Umat pilihan yang sejati adalah yang tidak menganggap “Mesir” (dunia) ini adalah negerinya.

Seperti halnya Abraham. Walau ia memiliki kesempatan untuk kembali ke Ur-Kasdim, ia lebih memilih untuk mencari negeri yang dibangun dan direncanakan oleh Allah (Ibr. 11:15–16), padahal itu suatu pergumulan. Pergumulan seperti ini dirasakan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan sebuah kehidupan yang berkenan kepada TUHAN. Inilah pola anak TUHAN yang benar, yang pikirannya tidak lagi tertuju pada hal-hal duniawi. Masalah-masalah hidup tidak menjadi masalah utama atau besar, sebab kita melihat ada masalah lain yang jauh lebih besar. Masalah yang patut kita anggap besar adalah bagaimana terlepas dari ikatan dunia ini termasuk ikatan daging yang kuat ini dan mengenakan manusia baru.

Dalam beberapa bagian dalam Alkitab, kita temukan beberapa pernyataan Paulus yang mengatakan bahwa tubuh yang kita kenakan ini merupakan belenggu atau bisa dikatakan penjara (Rm. 7:21–23: “7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. 7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, 7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” ). Sekilas, ini sukar untuk dipahami. Apakah Paulus memiliki pola kehidupan dan kejiwaan yang berbeda dengan manusia pada umumnya? Tidak. Harus kita akui bahwa kehidupan Paulus merupakan pola hidup yang menjadi contoh (prototipe) kehidupan anak TUHAN yang seharusnya.

Paulus sangat tertekan menghadapi tubuh dosa yang dikenakannya. Itulah sebabnya ia sangat rindu tubuhnya diubahkan dalam kemuliaan tubuh baru. Rindukah kita untuk diubahkan dengan tubuh kemuliaan? Atau kita masih nyaman dengan tubuh fana ini? Inilah janji yang diberikan-NYA—baik kepada TUHAN Yesus Kristus maupun kepada kita—yaitu kemuliaan bersama DIA. Kemuliaan bersama dengan TUHAN Yesus bukan saja menerima mahkota di dalam kerajaan-NYA, tetapi kita juga terbebas dari tubuh maut ini.


Dibandingkan dengan melepaskan ikatan dunia ini, masalah hidup tidak menjadi besar.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.