RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Lapar Dan Haus Akan Kebenaran

Renungan Harian Virtue Notes, 1 September 2010
Lapar Dan Haus Akan Kebenaran


Bacaan : Matius 5 : 6

Rata Penuh

5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.


Jikalau ada orang yang merasa dirinya sudah baik dan kemudian dia membandingkan dirinya dengan orang lain dan berkata “Aku lebih baik dari dia,” maka ia tidak ada bedanya dengan orang Farisi. Hanya dengan kelaparan dan kehausan akan kebenaranlah seseorang akan dibukakan mata pengertiannya terhadap kebenaran dan kesucian yang sejati.

Apa artinya “lapar dan haus akan kebenaran”? Sebagaimana manusia lahiriah membutuhkan nutrisi dalam bentuk makanan dan minuman, manusia batiniah kita pun memerlukan nutrisi. Manusia lahiriah kita merasakan kelaparan atau kehausan sebagai tanda bahwa kita harus memberi makan atau minum kepada tubuh kita, atau kalau kita mengabaikannya dalam jangka waktu yang lama, kita akan mati. Demikian pula dengan manusia batiniah kita. Manusia batiniah yang dibangkitkan setelah menerima Kristus akan merasakan kelaparan dan kehausan, dan respons yang benar adalah memberinya makan dengan kebenaran.

Kebenaran di sini adalah δικαιοσύνη (dikaiosinē), yang artinya “akhlak, nilai karakter atau tindakan”. Kalau seseorang sungguh-sungguh haus dan lapar akan kebenaran, dan melangkah untuk mencari pemuasannya, niscaya TUHAN akan membukakan kebenaran dan rahasia-rahasia Firman-NYA supaya orang itu melihat kebaikan macam apa yang dikehendaki TUHAN itu.

Apabila ia tidak mau melakukannya, sebagaimana manusia lahiriah yang mati, maka manusia batiniahnya pun akan mati, binasa selama-lamanya. Ini sudah dapat diketahui sejak manusia itu masih hidup. Dengan mengabaikan rasa lapar dan hausnya, maka manusia batiniahnya tidak akan merasa lapar dan haus lagi, sebab sebenarnya manusia batiniahnya sudah mati. Demikianlah sesungguhnya yang terjadi pada orang sombong yang merasa dirinya sudah baik, sebetulnya ia jauh dari baik; bahkan manusia batiniahnya mati.

Maka selama masih ada kesempatan, mari kita hayati kebenaran ini dan minta kepada TUHAN untuk membuka mata hati pengertian kita, bahwa diri kita masih jauh dari apa yang TUHAN kehendaki. Ini akan menjadi pemicu untuk bertumbuh. Selama kita hidup di dunia ini, kita harus bersedia seperti anak-anak (Mat. 18:3) yang mudah dididik, mudah dibentuk, senantiasa lapar dan haus akan kebenaran.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Bookmark and Share

2 komentar:

Ronny Dee mengatakan...

Tulisan yang menjadi berkat buat saya. Thanks

Renungan Virtue Notes mengatakan...

Selamat diberkati dan juga menjadi berkat buat sesama dengan subscribe di blog ini. :)

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.