RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Musafir Yang Mengasihi TUHAN

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Juli 2010
Musafir Yang Mengasihi TUHAN

Bacaan : Markus 12 : 28–31


12:28. Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki Rata Penuhbersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."


Mengapa TUHAN menginginkan orang percaya berjiwa musafir? Itu agar mereka mengasihi TUHAN lebih dari segala hal. Inilah yang terutama dalam hidup Kekristenan (ay. 30). Patut dipahami bahwa TUHAN tidak mau memaksa seseorang untuk mengasihi DIA. IA bukan Pribadi yang murahan. Kasih yang sejati kepada TUHAN harus berangkat dari kesadaran, kerelaan dan ketulusan masing-masing individu.

Kalau kita mengatakan kita merindukan Kerajaan Surga, sebenarnya fokus kerinduan kita bukan terletak pada Kerajaan itu sendiri, tetapi pada kerinduan kepada pribadi TUHAN yang mengasihi kita (Mzm. 73:25–26). TUHAN menghendaki agar orang percaya menjadi sekutu-NYA, dan benar-benar memiliki hubungan yang eksklusif dengan DIA seperti hubungan suami istri (Ef. 5:31–32).

TUHAN merindukan kekasih-kekasih-NYA memiliki cinta sejati kepada-NYA sejak ada di bumi ini, sebelum memasuki langit yang baru dan bumi yang baru. Di langit baru bumi baru, TUHAN Yesus sudah tidak akan ada saingannya lagi untuk dikasihi. Sementara di dunia ini banyak kegemerlapan dunia yang memikat kita, dan kalau kita memilih mencintai TUHAN Yesus dibandingkan dunia ini, barulah kita membuktikan bahwa kasih kita kepada-NYA adalah cinta yang sejati. Jadi kehidupan di dunia ini sebenarnya juga dapat dipandang sebagai kesempatan kita untuk membuktikan bahwa memang kita benar-benar mengasihi TUHAN; tidak hanya dalam perkataan semata saja, namun juga dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik saat di tengah keluarga, kantor, Gereja, di manapun juga.

Banyak orang berpikir bahwa dirinya dapat mengasihi TUHAN dengan mudah secara instan, tanpa proses panjang. Mereka menganggap cukup dengan mengaku percaya kepada Kristus lalu rajin ke Gereja berarti mereka sudah mengasihi TUHAN. Padahal untuk bisa mengasihi Tuhan, seseorang harus mengalami proses.

Kalau seseorang belum membiasakan diri melangkah dan melatih hal ini, sukar sekali bagi orang dapat mengasihi TUHAN dengan benar. Ini memang bukan sesuatu yang mudah. Sama seperti seseorang yang belum pernah mengendarai sepeda, main piano atau keahlian lain, harus belajar dulu untuk bisa melakukannya. Tetapi itu semua bisa dilakukan asal seseorang memiliki komitmen untuk memulai.

Karena itu kita harus memiliki komitmen untuk mulai mengembangkan cinta itu sekarang. Jangan tunggu sampai kita mengalami berbagai kesulitan dalam hidup ini, baru kita mencari TUHAN. Tetapi ingatlah bahwa TUHAN memanggil kita untuk memiliki jiwa musafir, agar kita bisa mengasihi DIA dengan segenap hati kita, dan dengan segenap jiwa kita, dan dengan segenap akal budi kita, dan dengan segenap kekuatan kita. Cinta sejati kepada Kristus adalah harta yang tidak ternilai.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.