RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Akibat Buah Terlarang

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Agustus 2010
Akibat Buah Terlarang
Rata Penuh


Bacaan : Kejadian 2 : 8–17


2:8. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
2:10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.
2:11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.
2:12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.
2:13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.
2:14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.
2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
2:16. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."


Dalam kisah Adam dan Hawa, TUHAN membuat suatu larangan, agar Adam dan Hawa tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat yang ada di tengah Taman Eden. Ini tidak bisa dikatakan sebagai hukum dan peraturan seperti yang kita kenal hari ini, sebab hukum dan peraturan yang kita kenal hari ini bertalian dengan ketertiban hubungan antarmanusia, berhubung manusia telah rusak dan menjadi mahkluk yang berbahaya bagi sesamanya.

Buah pengetahuan yang baik dan jahat itu sebenarnya hanya sebuah ukuran atau suatu tanda untuk mengukur ketaatan manusia pada TUHAN atau tidak; apakah manusia tetap memercayai TUHAN dan bersedia menjadi sekutu-NYA. TUHAN sengaja menempatkan pohon itu karena IA ingin manusia rela taat kepada-NYA dari kehendak bebas manusia itu sendiri, bukan karena paksaan. Supaya manusia bisa memilih untuk taat, berarti harus ada pilihan lain untuk tidak taat. Dengan makan buah itu berarti manusia memilih untuk tidak mau taat kepada TUHAN.

Ketika manusia makan buah terlarang itu, manusia jatuh ke dalam dosa. Roh dari ALLAH yang dihembuskan TUHAN (Kej. 2 : 7) menjadi mati (Kej. 2 : 17). Kejatuhan manusia ini membuat manusia kehilangan kemuliaan ALLAH (Rm. 3:23). Artinya manusia menjadi tidak berkualitas: kehilangan kesanggupan untuk mengerti kehendak TUHAN. Kecenderungannya berdosa semata-mata. Martin Luther, mengutip Augustinus, menyebutnya non posse non peccare (tidak bisa tidak berbuat dosa).

Gambar ALLAH yang hilang inilah yang sesungguhnya merupakan tragedi yang sangat mengerikan dan menyedihkan. Selama ini banyak orang berpikir bahwa akibat terbesar dari makan buah terlarang adalah manusia harus bersusah payah bekerja dan berjuang mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya di bumi ini. Sebetulnya itu bukan masalah besar dibandingkan dengan kehilangan gambar ALLAH dan kesanggupan mengerti kehendak TUHAN.

Maka inilah bencana terbesar dalam kejatuhan manusia: kehilangan gambar ALLAH, terpisah dari ALLAH Sang Sumber Kehidupan. Manusia harus mati akibat makan buah terlarang itu. Kalau sesudah mati tidak ada apa-apa, bukan persoalan besar. Tetapi di balik kematian itu ada surga kekal atau neraka kekal, sehingga manusia diperhadapkan kepada kenyataan yang sangat mengerikan: kalau seseorang tidak melakukan kehendak TUHAN, ia terpisah dari TUHAN selama-lamanya dan bagiannya adalah api kekal. Oleh sebab itu jangan sampai kita gagal mengerti kehendak TUHAN dan gagal melakukannya. Keselamatan dalam TUHAN Yesus Kristus menyediakan jalan keluar ini, menghidupkan Roh dari ALLAH yang dihembuskan-NYA dalam manusia. Kita harus meresponi hal penting ini dengan serius.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.




Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.