RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

Domba atau Kambing?

Jum'at, 26 Maret 2010

Bacaan : Matius 25 : 31-46; Yakobus 4 : 6

Kita sering merasa sudah di pihak TUHAN dan membela pekerjaan-NYA serta telah berprestasi dalam pelayanan. Salahkah ini? Mari belajar dari Alkitab, tentang penghakiman terakhir oleh TUHAN Yesus. Digambarkan bahwa domba adalah kelompok orang yang berkenan kepada TUHAN, karena mereka telah melayani TUHAN tepat seperti apa yang dikehendaki-NYA : Menolong sesama manusia. Uniknya kelompok domba tidak merasa melakukan semua ini, karena mereka melakukannya karena komando Roh Kudus, bukan dari kehendak diri mereka sendiri. Perbuatan mereka memperoleh perkenanan dari TUHAN Yesus.

Kelompok kambing pun melakukan hal yang sama seperti kelompok domba. Namun mereka tidak berkenan di hati TUHAN. Mengapa demikian? Bukankah apa yang mereka lakukan persis sama dengan apa yang dilakukan kelompok domba?

Perlu diketahui, yang dimaksud kambing disini bukanlah orang non-Kristen, sebab baik kambing maupun domba sama-sama melayani TUHAN Yesus yang datang sebagai Hakim yang adil pada hari terakhir. Namun perbedaannya adalah pada sikap hati.

1. Kesombongan rohani
Domba menyadari bahwa ia adalah anak tebusan yang sebenarnya tidak layak hidup karena dosa. Maka ia tidak merasa telah melakukan apa pun bagi TUHAN. Sebaliknya, kambing merasa telah melakukan banyak hal, berprestasi dalam pelayanan, dan menolong banyak orang. Sikap hati merasa sudah melakukan banyak hal dalam pelayanan inilah yang membuat TUHAN menggolongkan mereka ke dalam kelompok kambing yang tidak tahu diri dan akhirnya tertolak, bahkan sebelum si kambing berkata-kata TUHAN sudah memisahkan mereka -si kambing- karena TUHAN sudah mengetahui isi hati mereka. Dalam diri orang yang telah merasa melakukan banyak hal dalam pelayanan pasti akan timbul kesombongan rohani. Inilah yang membuat ia tertolak, sebab ALLAH menentang orang yang congkak (Yakobus 4 : 6).

2. Lalai
Seringkali sebagai orang percaya kita lupa untuk hidup seimbang. Maksudnya, selain kita tertib dan disiplin menjalankan aktivitas keagamaan kita, menjaga tutur kata dan perbuatan, seharusnya kita tidak boleh lupa untuk menolong sesama manusia yang memang membutuhkan pertolongan (ada juga sesama manusia yang sebenarnya tidak membutuhkan uluran tangan kita, namun lebih karena malas berusaha saja). Nah seringkali kita lupa. Supaya tidak terlupa, maka patrikan selalu bahwa : Hidup suci itu harus, menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongan pun wajib. Karena kedua hal ini termasuk kehendak TUHAN yang harus kita lakukan.

Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.