RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Memenangkan Jiwa Yang Sejati


Renungan Harian Virtue Notes, 10 April 2012
Memenangkan Jiwa Yang Sejati


Bacaan: Roma 9:1-3

9:1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,
9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.
9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.


Melakukan apa yang diingini Tuhan tidak cukup dengan perilaku yang tidak melanggar hukum, juga bukan saja baik di mata manusia tetapi juga terhormat, agung di mata Allah dan pasti memberkati semua orang. Filosofinya bukan “yang penting tidak merugikan orang lain”, tetapi bagaimana memberkati sesama. Memberkati sesama artinya bukan sekedar memberi mereka pakaian, makan cukup dan terlindungi, tetapi bagaimana mereka bisa bersama-sama dengan kita masuk Kerajaan Bapa di Surga. Hal inilah yang diingini oleh Bapa, sebab satu jiwa manusia selamat malaikat di Surga bersukacita. Tentu malaikat tidak akan bersukacita kalau Bapa tidak bersukacita. Betapa indahnya kalau kita memperjuangkan kepuasan hati Bapa ini. Rumusnya adalah orang yang mengasihi seseorang adalah orang yang menyediakan nyawanya bagi orang tersebut. Kalau kita mengasihi Tuhan kita akan mempertaruhkan apa yang kita miliki demi kepentinganNya.



Kepentingan Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa. Keselamatan jiwa-jiwa ditentukan oleh pengertiannya terhadap kebenaran. Itulah sebabnya arah pelayanan kami sudah mulai berubah sejak kami mengenal kebenaran ini, bukan hanya sekedar membuat berbagai kegiatan untuk menambah jumlah jemaat atau mengadakan kegiatan penginjilan ke berbagai daerah serta membantu pendeta dan jemaat yang tidak mampu. Tetapi bagaimana meneruskan kebenaran yang memerdekakan ini kepada semua orang sampai ke ujung bumi.




Sayang sekali, banyak orang berpikir bahwa memenangkan jiwa sama dengan menjadikan seseorang sebagai anggota salah satu gereja. Hal ini dikesankan demikian oleh sebagian pemimpin gereja dan persekutuan, sebab jumlah jemaat yang besar mendatangkan keuntungan materi atau paling tidak kesenangan hati. Itulah sebabnya mereka puas dengan jumlah jemaat tetapi tidak mengupayakan mengajar mereka kebenaran guna melayakkan menjadi anak-anak Allah. Yang dilakukan adalah bagaimana anggota gerejanya bertambah banyak, karena itu merupakan ‘baju kehormatan’ seorang pendeta atau pemimpin agama. Hal ini sebenarnya juga telah menyesatkan kami dulu, sebelum kami mengenal kebenaran yang murni. Tetapi sekarang setelah Tuhan membuka banyak kebenaran, menyadarkan kami untuk memindahkan fokus hidup dan pelayanan. Apapun harus dipertaruhkan supaya satu demi satu mereka menjadi layak disebut sebagai anak-anak Allah, yaitu dengan cara mengajarkan kebenaran agar mereka menuju kesempurnaan Kristus. Inilah pelayanan yang benar.



Jadilah pelaku dan penyambung lidah kebenaran dimanapun anda berada, itulah pelayanan yang benar.


Diadaptasi dari  Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Read more
0

Memperkuda Tuhan


Renungan Harian Virtue Notes, 9 April 2012
Memperkuda Tuhan


Bacaan: Mazmur 73:12-20

73:12 Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!
73:13 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
73:14 Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.
73:15 Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.
73:16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,
73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.
73:18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.
73:19 Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!
73:20 Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.


Mudah untuk mengatakan bahwa ketenangan hanya diperoleh dalam Tuhan. Tetapi tahukah kita: bagaimana memperoleh ketenangan dalam Tuhan itu. Jangan membayangkan ketenangan dalam Tuhan adalah ketika memperoleh pertolongan dari Tuhan atas segala masalah yang terjadi dalam hidup kita. Kita menyatakan memiliki ketenangan dalam Tuhan, karena Tuhan dijadikan andalan untuk bisa lolos dari segala masalah dan memperoleh pemenuhan dari segala kebutuhan. Ini sikap yang salah terhadap Tuhan. Bahkan ini sikap yang tidak menghormati Tuhan. Sebab sikap ini berarti sikap memanfaatkan Tuhan atau “memperkuda” Tuhan.


Memperoleh ketenangan dalam Tuhan bukan karena Tuhan berkuasa menghindarkan kita dari masalah dan dengan kekuatan-Nya dapat memenuhi segala kebutuhan kita. Memperoleh ketenangan dalam Tuhan artinya bisa menikmati Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan? Pertama, sadari betapa rentannya hidup kita ini. Hari ini kita sehat, besok belum tentu keadaan kita seperti sekarang. Hari ini masih hidup, kita tidak berani memastikan apakah besok masih hidup. Hari ini kita memiliki segala sesuatu, besok kita tidak memiliki segala sesuatu. Hari ini menghirup udara kebebasan, besok sudah di terali besi. Kita hidup di dunia yang serba tidak menentu. Adalah bodoh kalau kita berharap bisa tidak mengalami kesulitan atau sedikit mengalami masalah dalam hidup ini. Segala kesulitan pasti ada, tetapi semua itu diubah Tuhan menjadi sarana untuk membentuk dan mendewasakan kita. Kedua, sadari bahwa manusia hidup berkisar hanya tujuh puluh tahun. Setelah itu, semua yang dimiliki harus ditanggalkan. Bukan hanya itu saja, tetapi setelah itu harus menghadapi tahta pengadilan Allah. Ketiga, sejatinya sukacita di dalam Tuhan adalah sesuatu yang riil, bukan sekedar dipercakapkan dan dirasakan sesaat dengan perasaan dalam liturgi gereja.



Tentu hal ini bukan sesuatu yang otomatis bisa terjadi atau berlangsung mudah dalam hidup kita. Orang yang tidak mengerti kebenaran diatas ini akan semakin jauh dari Kerajaan Allah. Iblis dalam kelicikannya membuat mereka merasa sudah ada di dalam kehidupan Kristen yang benar. Mereka merasa sudah menjadi orang Kristen yang wajar dan normal di mata Allah. Padahal sebenarnya mereka tergiring ke dalam pembuangan abadi, sebab mereka tidak dikenal oleh Tuhan.



Ketenangan sejati bukan karena Tuhan selalu menolong kita ketika dalam kesulitan, tetapi ketika kita hidup bersama Tuhan dalam segala keadaan.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. 
Read more
0

Harta Bukanlah Sumber Ketenangan


Renungan Harian Virtue Notes, 8 April 2012
Harta Bukanlah Sumber Ketenangan


Bacaan: Mazmur 73:25-26

73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.
73:26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.


Sering kita mendengar orang berkata bahwa yang penting hidup dalam ketenangan. Ketenangan yang dimaksud pasti keadaan dimana tidak ada perselisihan, tidak ada ancaman dan masalah yang mengganggu jiwa. Pada umumnya atau bahkan bisa dikatakan hampir semua orang berusaha untuk memiliki kehidupan seperti itu. Jalan yang dipahami oleh hampir semua orang untuk mencapai ketenagan seperti itu adalah uang atau kekayaan materi, karena kekayaan materi dipandang sebagai kekuatan yang prima di dunia hari ini. Uang bisa membeli aparat, uang bisa membeli keputusan hakim, uang bisa mengubah hukum, uang bisa membeli kedudukan, uang membuat seseorang terhormat dan disegani orang, uang bisa membeli dukungan politik dan lain sebagainya.



Tidaklah heran kalau fokus manusia tertuju kepada usaha bagaimana memiliki uang sebanyak mungkin. Semakin banyak uang, maka diperkirakan bisa menjadi lebih tenang, atau semakin besar kemungkinan untuk memiliki ketenangan. Menurut Firman Tuhan bisa dipastikan orang seperti itu tidak akan pernah memperoleh ketenangan dalam arti yang sesungguhnya. Tuhan Yesus berkata agar kita berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu” (Luk 12:15). Perkataan Tuhan Yesus ini tidak mungkin meleset. Orang yang menggantungkan kekuatannya pada uang pasti akan binasa, artinya terpisah dari Allah. Kalau Tuhan berkemurahan kepada orang-orang tertentu, maka Tuhan menegor orang tersebut dengan berbagai tegoran atau pukulan yang membuat ia sadar dan bertobat, tetapi kalau Tuhan membiarkan orang tersebut tanpa pukulan yang menyadarkan dirinya berarti orang itu pasti binasa. Hal ini dikemukakan dalam Mazmur 73:1-20.




Kalau Tuhan menegor dengan atau melalui suatu keadaan dimana uang tidak bisa menyelesaikan masalah bahkan sering menjadi sumber masalah berarti Tuhan menghendaki kita pulang kembali dalam pelukan persekutuan dengan diri-Nya. Oleh sebab itu di perayaan Paskah tahun ini, mari kita bertobat, kita jangan menunggu ditegor Tuhan dengan tegoran yang berat barulah mau mengakui bahwa hidup manusia tergantung pada Tuhan. Walau hari ini kita merasa bisa hidup tanpa Tuhan, tetapi harus memandang Tuhan dan mengakui bahwa kita tidak bisa hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan. Kita harus selalu bergantung kepada Tuhan dalam segala hal dan mengakui bahwa segala kekuatan yang dapat kita miliki tidak bisa menjadi tempat perlindungan.



Ketenangan sejati bukanlah pada harta dunia ini, tetapi hidup dengan Tuhan.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Keinginan-keinginan Yang Membinasakan


Renungan Harian Virtue Notes, 7 April 2012
Keinginan-keinginan Yang Membinasakan


Bacaan: Galatia 5: 24-25

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,



Perjuangan untuk menjadi budak Tuhan adalah perjuangan dalam mengisi pikiran, apakah pikiran kita diisi oleh hal-hal duniawi atau kebenaran Firman Tuhan. Paulus mengatakan bahwa Hawa diperdaya oleh ular dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. Sewaktu masih di Eden, Iblis memakai ular; sekarang ia memakai pembicara di mimbar yang tidak mengenal kebenaran. Dalam hal ini kita mengerti mengapa mengenai si penyesat ini Paulus berani mengatakan tegas, “Terkutuklah mereka!” (Gal. 1:6-10). Perhatikanlah hal ini dengan serius. Tidak perlu takut dianggap menghakimi, dan tidak perlu bertoleransi berlebihan karena tradisi Timur sehingga sering membiarkan “ular-ular” berkeliaran menyesatkan dan membinasakan banyak orang.



Kalau boleh jujur, semua yang kita ingini dari dunia ini akan lenyap seperti uap. Namun ironisnya, hidup manusia terus bergulir dan bergerak demi suatu cita-cita, rencana-rencana pribadi, serta keinginan-keinginan yang tidak pernah berhenti. Inilah penyesatan hebat yang sedang dilakukan oleh kuasa kegelapan. Keinginan (ἐπιθυμία, epithymÍa) daging, keinginan mata dan keangkuhan (ἀλαζονεία, alazonīa) hidup bukan berasal dari Bapa. Dan orang yang melakukan hal-hal tersebut akan binasa (1Yoh. 2:15-17). Merekalah orang-orang yang semasa hidup di dunia ini hanya digerakkan dari satu keinginan ke keinginan yang lain tanpa sungguh-sungguh mau mengerti apa yang diingini Allah dalam hidupnya.


Bila kita melakukan kehendak Allah atau yang diingini Allah, berarti kita menjadi budak-Nya. Sejatinya keinginan-keinginan dalam pikiran manusia adalah belenggu bagi dirinya. Ini akan sangat sulit dilepaskan kalau dibiarkan mengakar bertahun-tahun, karena pikiran itulah yang menggerakkan hidup manusia. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan menghendaki kita mengalami pembaruan pikiran dari hari ke hari. Pembaruan pikiran itu dimaksudkan agar kita mengarahkan pikiran kepada kehendak Bapa, sebab inilah target yang dikehendaki Bapa untuk dapat kita capai. Tentu untuk target ini kita diberi-Nya kemampuan untuk dapat mencapainya. Inilah kabar baik, anugerah Tuhan yang tidak terbeli dengan uang.



Waspadalah terhadap pemberitaan di mimbar gereja yang seolah-olah benar, padahal ular. Semua pemberitaan yang menggiring umat Tuhan agar bersahabat dengan dunia adalah ular (Yak. 4:4). Untuk bisa menang melawan ular, kita harus berani memasuki perhentian Tuhan (Mat 11:28-29). Orang yang masuk perhentian Tuhan berarti mematikan keinginan (epithymÍa).



Berhentilah dari berbagai keinginan, maka kita akan masuk ke tempat perhentian Tuhan yang melegakan.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. 
Read more
0

Kemerdekaan Yang Sejati


Renungan Harian Virtue Notes, 6 April 2012
Kemerdekaan Yang Sejati


Bacaan: Galatia 5:1

5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.



Bagaimanakah sebenarnya kebebasan atau kemerdekaan itu? Sebab sering kita mendengar pembicara di mimbar berbicara mengenai kebebasan atau kemerdekaan dalam Kristus, tetapi sebenarnya tidak ada kejelasan mengenai proses kemerdekaan tersebut. Kita dinyatakan sudah merdeka tetapi kita tidak mengalami dan merasakan sesuatu yang luar biasa dari kemerdekaan itu. Kalau begitu apa bedanya kita dengan mereka yang ada di luar anugerah keselamatan Tuhan Yesus Kristus? Jangan sampai terjadi penipuan terhadap jemaat. Jemaat dinyatakan sudah merdeka padahal belum benar-benar merdeka. Bagaimanakah kemerdekaan dalam Kristus itu sebenarnya?


Memang Tuhan Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa manusia. Penebusan itu memerdekakan. Seperti seorang budak yang telah digadaikan atau dijual sehingga menjadi milik seorang tuan. Sekarang tuan pemilik aslinya membelinya kembali dan memberi kesempatan apakah budak tersebut mau dimiliki oleh Tuannya sendiri atau tidak. Kalau budak pada umumnya diperjualbelikan oleh orang lain, tetapi kalau hal itu dikenakan pada manusia yang memiliki kehendak bebas masalahnya menjadi berbeda. Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang harus dimiliki Tuhan sebagai “budak-Nya” diberi kebebasan apakah ia mau menjadi budak Tuhan atau menjadi milik kuasa lain.


Manusia di taman Eden menghadapi perjuangan apakah memberi diri menjadi budak Tuhan atau budak setan. Ternyata manusia disesatkan oleh iblis sehingga ia menjual diri dan gagal menjadi budak Tuhan. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk membeli kembali manusia milik-Nya tersebut. Sekarang setelah Ia membeli kita, kita diberi kebebasan untuk menjadi milik Tuhan atau milik setan. Kembali perjuangan yang pernah terjadi di Eden juga terjadi dalam kehidupan kita. Kalau kita merasa otomatis sudah merdeka padahal belum, betapa menyedihkan. Untuk menjadi milik Tuhan atau budak Tuhan, kita dituntut untuk berjuang dengan serius. Itulah sebabnya Paulus dalam tulisannya mengatakan: Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (Gal 5:1).


Jadi, kalau diajarkan bahwa kebebasan itu otomatis dimiliki oleh orang Kristen, itu adalah ajaran yang sesat. Tuhan Yesus memang telah mati di kayu salib untuk membeli kita, tetapi selanjutnya apakah kita mau dimiliki Tuhan atau tidak tergantung respon setiap individu.


Untuk mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya, kita harus meresponi keselamatan dalam Tuhan Yesus.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. 
Read more
0

Kesempatan Mahal


Renungan Harian Virtue Notes, 5 April 2012
Kesempatan Mahal


Bacaan: Efesus 5:14-17

5:14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.


Betapa lebih bijaksananya kalau setiap pagi begitu kita bangun tidur, kita berkata, “Syukur aku masih hidup”. Mengapa? Sebab berarti kita masih memiliki kesempatan untuk lebih menghormati dan mengasihi Bapa. Hari yang baru adalah hari untuk belajar bagaimana menghormati satu-satunya Pribadi yang pantas dihormati. Inilah letak mahalnya waktu yang disediakan bagi manusia yang akan kembali ke dalam tanah. Satu hari harganya tidak ternilai, sebab satu hari yang dimiliki seorang anak manusia memiliki dampak di keabadian yang tiada tara. Kemuliaan menjadi anak Allah bersama dengan Bapa di Kerajaan-Nya adalah sesuatu yang tak bisa dibeli dengan apapun. Hanya anugerah dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang memungkinkan kita meraihnya. Oleh sebab itu, kita harus menjadikan kemuliaan itu menjadi milik yang pasti dengan meresponi anugerah Tuhan, yaitu belajar mengasihi dan menghormati-Nya.


Ingat, iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh. Usaha untuk mengasihi dan menghormati Tuhan bukanlah jasa, melainkan suatu sikap penghargaan terhadap anugerah keselamatan yang diberikan-Nya. Satu hari yang diberikan Tuhan merupakan kesempatan untuk menunjukkan usaha yang serius untuk mengasihi dan menghormati-Nya. Sebaliknya, satu hari menjadi tidak berharga, bahkan menjadi bencana, kalau tidak digunakan untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa. Satu hari yang disia-siakan bisa mengakibatkan keterpisahan dengan Bapa selamanya.



Firman Tuhan menasihati agar kita bangkit dari tidur. Artinya, sadar sepenuhnya terhadap fakta hidup ini. Harus mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat, artinya hari yang tidak digunakan untuk belajar menghormati dan mengasihi Bapa adalah hari-hari yang membawa kebinasaan; itulah sebabnya disebut “jahat”.



Kata jahat dalam teks aslinya adalah πονηρός (ponērós). Kata ini muncul pula dalam Doa Bapa Kami, pada kalimat “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Ponērós merujuk pada kejahatan dalam pikiran, yaitu hasrat yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan adalah kejahatan, sebab manusia hidup memang hanya untuk melakukan keinginan Penciptanya. Sayangnya, hampir semua orang tidak mau mengerti hal ini; mereka hidup hanya untuk memuaskan keinginannya sendiri. Jangan terus memelihara kejahatan dalam pikiran itu; ingatlah, hari ini harganya tiada ternilai



Setiap waktu yang kita miliki adalah mahal, pergunakan sebagai kesempatan untuk mengasihi Bapa.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. 
Read more
0

Keturunan Allah


Renungan Harian Virtue Notes, 4 April 2012
Keturunan Allah


Bacaan: Kisah Para Rasul 17:28-29

17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
17:29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.


Sadarkah Saudara bahwa kita ini keturunan Allah? Alkitab sendiri mengatakan demikian. Pengertian bahwa manusia adalah keturunan Allah memiliki arti yang sangat penting. Manusia disebut anak Allah bukan secara simbolis atau sebutan semata-mata; sesungguhnya demikianlah kenyataannya. Sejatinya roh yang ada pada manusia adalah roh yang keluar dari diri Allah (Kej. 2:7). Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk atau entitas lainnya. Penjelasan ini sama sekali tidak bermaksud melecehkan Allah atau merendahkan derajat-Nya; sebaliknya, dengan pemahaman ini justru kita memuliakan Allah yang menciptakan dan menempatkan manusia sebagai anak-anak-Nya. Di dalam hal ini manusia harus memperlakukan Allah sebagai Bapa yang patut dihormati secara pantas, dipatuhi secara mutlak, dan dilayani dengan segenap hati. Manusia memang diciptakan hanya untuk itu. Dan manusia menerima dirinya sebagai anggota dari keluarga Allah, bagian dari hidup Allah sebagai Bapanya. Dengan demikian kita akan selalu berdiri di pihak-Nya.

Dengan kesadaran ini, kita dipanggil untuk dapat menghargai diri kita sendiri secara pantas. Inilah yang menjadi langkah awal kita untuk mengasihi diri kita sendiri secara benar, seperti yang dikehendaki Tuhan. Dengan mengasihi diri sendiri secara benar, kita pun dapat mengasihi sesama dengan benar pula. Bagaimana mungkin kita mengasihi diri kita sendiri, kalau kita tidak menyadari betapa berharga dirinya sendiri tersebut? Keberhargaan diri manusia terbukti dengan kesediaan Bapa mengorbankan Putra-Nya untuk menyelamatkan kita. Ia sangat merindukan atau mengingini kita; itulah sebabnya dalam Yak. 4:5 dikatakan, “Bukan tanpa alasan kalau Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu.” Kata diingini di sini dalam teks aslinya berakar kata ἐπιποθέω (epipothéō) yang artinya hasrat yang sangat kuat atau nafsu.


Sungguh, ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dengan pemahaman ini maka kita akan memiliki dimensi pandangan hidup yang sangat berbeda dengan sebelum kita mengerti hal ini. Sampai pada penerimaan dan penghayatan di level tertentu, kita tidak akan terikat dengan harta dunia dan tidak akan mudah jatuh dalam dosa pelanggaran terhadap kehendak Allah. Dengan menyadari kondisi manusia yang dahsyat ini—bahwa kita adalah keturunan Allah—tidak heran bila Allah mengingini manusia untuk mengerti kehendak Allah: apa yang baik, yang dikenan-Nya dan yang sempurna. Inilah sebenarnya maksud semula Allah menciptakan manusia. Tuhan Yesus menyelamatkan kita untuk memulihkan rancangan ini.


Kita benar-benar adalah keturunan Allah, maka hendaklah kita melayani Bapa kita dengan benar.


Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. 
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger