RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Mengapa Tujuh Puluh Tahun?

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Nopember 2011

Mengapa Tujuh Puluh Tahun?



Bacaan: Mazmur 90: 10


90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.



Mengapa Tuhan hanya memberi waktu hidup kita 70 tahun, dan jika kuat, 80 tahun? Bisakah dengan singkatnya waktu yang tersedia ini kita bisa mencapai apa yang diharapkan-Nya? Mengapa Tuhan tidak memberi waktu lebih panjang? Bukankah dengan usia lebih panjang kita bisa mencapai hal yang lebih banyak atau lebih besar bagi Tuhan, atau bisa mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi?


Kita melihat banyak orang Kristen yang usianya sudah di ambang liang kubur masih belum menunjukkan tanda-tanda mengenakan kodrat ilahi, bahkan tampak kuat sekali kedagingan dan keduniawiannya. Buktinya adalah manakala seseorang tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka telah miliki dan capai. Biasanya mereka ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, bila mungkin, memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, sebab itu memberi nilai tinggi bagi dirinya. Sedihnya, mereka tidak khawatir atas fakta tersebut, justru sebaliknya malah membanggakannya. Dan mereka yakin Tuhan akan menerima mereka, padahal dimata-Nya mereka tidak berminat untuk mencari Tuhan. Yang dicarinya adalah berhala, yaitu harta dan kemuliaan duniawi, bukan perkara-perkara yang di atas (Kol. 3:1–3).


Ternyata dalam pertimbangan Tuhan, Ia menilai dalam 70 tahun sebetulnya kita sudah bisa mencapai level yang dapat memuaskan hati-Nya. Kita tidak butuh waktu 200 atau 900 tahun untuk itu. Di sini kuncinya adalah menghargai waktu yang tersedia dan berusaha mengisinya dengan efektif dan efisien untuk mencapai target yang diinginkan-Nya. Dengan singkatnya tahun umur hidup kita itu, kita harus tertantang dan terpacu untuk mengejar apa yang bernilai abadi.


Lalu mengapa kita kurang menghargai waktu yang ada, dan sulit untuk mengisinya dengan usaha mencapai kesempurnaan? Jawabannya adalah karena kita tidak memiliki ketidakpuasan yang kudus. Ketidakpuasan yang kudus artinya, selalu merasa belum mencapai level yang memuaskan hati Tuhan. Tidak pernah bertahan di level kenyamanan rohani, tetapi selalu berfokus kepada mencari perkenanan hati Tuhan lebih dari segala hal.


Mari kita menumbuhkan sikap ini, yaitu tidak puas atas level kerohanian kita. Sebaliknya untuk urusan duniawi, kita harus merasa puas, kita harus merasa cukup. Tidak bisa kita mengejar dua-duanya sekaligus, sebab tidak ada orang yang bisa mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Kita harus memilih, memuaskan Tuhan tetapi kehilangan dunia, atau memuaskan daging tetapi kehilangan Tuhan. Pilihlah dengan bijaksana sebab waktunya hanya 70 tahun.



Orang yang haus dan lapar kebenaran adalah orang-orang yang hidupnya berfokus untuk mencari perkenanan hati Tuhan lebih dari segala hal.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Berjuang Menemukan Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 16 Nopember 2011

Berjuang Menemukan Tuhan



Bacaan: Matius 5: 6


5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.



Konsep mengenai Tuhan yang keliru yang telanjur dimiliki seseorang akan menghambat pertemuan dengan-Nya. Jika konsep ini dipertahankan, ia tidak pernah menemukan Tuhan selamanya. Maka marilah dengan rendah hati kita melakukan introspeksi, apakah konsep kita selama ini salah, dan kita benar-benar sudah mengenal-Nya?


Para pembicara yang memberi kesan bahwa mengenal Tuhan itu sangat mudah biasanya membangun ajarannya bukan berdasarkan landasan Alkitab, melainkan dari pengalaman pribadi. Dalam pengalaman hidup sebagai pelayan Firman, penulis sering bertemu orang yang termasuk cakap berbicara mengenai Tuhan, namun sebetulnya belum mengenal-Nya sebab masih terbelenggu konsep yang salah.


Ciri-ciri dari konsep mengenai Tuhan yang benar adalah konfirmasi dari-Nya mengenai kebenaran. Kehausan yang tulus akan Tuhan pasti akan dijawab-Nya, sebab sabda-Nya bahwa orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan. Tetapi seseorang baru dapat dikatakan haus dan lapar kalau belum kenyang. Karena itulah jika kita merasa tidak memiliki apa-apa, justru kita bisa menemukan Tuhan. Ia akan memberikan kita pengalaman nyata yang dapat meneguhkan pengenalan akan Tuhan yang benar. Pengalaman demi pengalaman yang benar dengan Tuhan akan membangun sikap hidup yang benar secara permanen di hadapan Tuhan; artinya tidak akan berubah lagi.


Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang perlu berjuang, bukan makhluk yang hidup santai-santai saja. Jadi Ia menginginkan kita untuk berusaha menemukan-Nya dalam perjuangan yang harus terus bergulir sampai Tuhan Yesus datang kembali. Disebut perjuangan, sebab manusia baru bisa mengenal Tuhan jika mengisi hidupnya dengan kebenaran dan meninggalkan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup.


Sesungguhnya Allah sudah memberikan kesempatan yang sangat besar untuk menemukan-Nya dengan benar. Pengenalan yang benar mengenai satu-satunya Allah yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub, serta satu-satunya Juruselamat yaitu Yesus Kristus Tuhan kita (Yoh. 17:3) akan membangun pengalaman bersama-Nya yang benar yang akan menambah kehausan akan Tuhan. Kita akan tetap merasa haus, merasa bahwa pengenalan dan pengalamannya masih sangat kurang. Pertemuan dan pengalaman dengan Tuhan akan membangun hubungan eksklusif yang akan terus berlanjut di Kerajaan Bapa di Surga.



Kehidupan ini adalah perjuangan untuk menemukan Tuhan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kehausan Akan Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Nopember 2011

Kehausan Akan Tuhan



Bacaan: Mazmur 42: 2-3


42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?



Keindahan hidup ini terletak pada usaha kita untuk menemukan Tuhan dalam gerak kehidupan kita masing-masing. Hal pertama yang harus kita miliki untuk bisa berusaha menemukan Tuhan adalah memiliki kehausan akan Tuhan. Kehausan ini berupa kebutuhan mendesak untuk menemukan Tuhan, seperti rusa yang haus merindukan sungai yang berair.


Kehausan seorang anak Tuhan yang benar pasti disertai penghargaan setinggi-tinggi terhadap Tuhan sebagai sesuatu yang bernilai lebih dari nyawa kita sendiri. Dengan demikian, waktu, tenaga, harta dan apapun menjadi tidak berarti. Kerinduan bertemu dengan Tuhan dan mengalaminya setiap hari ini adalah kerinduan akan langit dan bumi yang baru. Dengan ini kita akan sadar bahwa dunia ini bukan rumah kita, sehingga rela melepaskan keterikatan dengan apa pun. Pekerjaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa merupakan prioritas utama.


Sikap hati yang dibutuhkan untuk membangun kehausan yang benar untuk menemukan dan mengalami Tuhan adalah merasa seolah-olah kita belum mengenal dan memahami Dia sama sekali. Jangan merasa kita sudah memiliki konsep mengenai Tuhan. Dengan sikap seolah-olah belum mengenal-Nya dengan benar itu, kita membakar kerinduan untuk mengenal-Nya dan bertemu dengan-Nya. Kita berkata, “Tuhan, aku tidak mengenal-Mu secara benar, tetapi aku ingin bertemu dengan Engkau dan mengalami-Mu.” Datanglah dengan hati nurani yang bersih dan tulus.


Dengan menganggap kita belum tahu, barulah kita bisa mengalami Tuhan dengan benar, sebab kita tidak tercemar konsep-konsep mengenai Tuhan yang marak beredar dewasa ini, yang sesungguhnya banyak yang sudah menjurus kepada kesesatan. Banyak orang diajari konsep bahwa Tuhan adalah penyedia berkat jasmani, pembawa kemakmuran, dan bisa dimintai apa pun jika Ia sedang senang kepada kita. Konsep ini bukannya membawa orang kepada keselamatan kekal, malahan bisa membinasakan; sebab bukan Tuhan yang ditemuinya, melainkan hantu.


Tidak peduli apakah kita seorang Kristen baru atau seorang yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, namun jika selama ini kita masih tercemar pandangan yang keliru tentang Tuhan, marilah kita mulai dari awal lagi untuk belajar mengenal-Nya. Dengan itu pasti kita dapat menemui-Nya dan mengalami-Nya, dan menyadari betapa indahnya hidup bersama Tuhan.



Hal pertama yang harus kita miliki untuk bisa berusaha menemukan Tuhan adalah memiliki kehausan akan Tuhan



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pelabuhan Hidup

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Nopember 2011

Pelabuhan Hidup



Bacaan: Matius 11: 28-30


11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."



Mengapa banyak orang tidak bisa menikmati keindahan hidup ini? Mereka mengalami stres dalam beban kesulitan hidup setiap hari; wajahnya tidak memancarkan keceriaan. Mereka merasa selalu ada dalam penjara persoalan yang tidak pernah berhenti.


Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena mereka tidak memiliki pelabuhan hidup. Pelabuhan hidup, atau tempat perhentian, adalah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai “kelegaan” (ay. 28), atau dalam bahasa asli, anapáfso. Pelabuhan hidup itu tidak lain adalah Siapa yang berkata, “Marilah kepada-Ku,” yaitu Tuhan Yesus sendiri.


Ciri-ciri dari orang yang menjadikan Tuhan sebagai pelabuhan hidupnya adalah berusaha untuk selalu menemukan Tuhan dalam pengalaman hidupnya setiap hari. Mungkin hal ini sulit untuk dibayangkan, tetapi cobalah untuk melakukannya. Melalui pengalaman konkret, kita akan memahami hal ini; membaca atau mendengar teori saja tidak cukup.


Bagi orang yang menjadikan Tuhan pelabuhan hidupnya, keindahan kehidupan bukan terletak pada kenikmatan semua fasilitas dunia ini, bukan pula pada kenikmatan daging ini. Keindahan hidup yang salah tersebut akan menjadi candu yang mengikat seseorang sehingga seseorang tidak pernah bisa terlepas dari padanya, sebab ia sudah jatuh cinta dengan dunia.


Maka orang yang berusaha bertemu Tuhan dan mengalami-Nya akan membangun percintaan dengan Tuhan, tetapi bila tidak, berarti ia membangun percintaan dengan dunia. Percintaan dunia itulah yang membuat seseorang merasa letih lesu dan berbeban berat. Sama dengan panggilan Yesus kepada orang Israel yang letih lesu dan berbeban berat sebab mengingini kemerdekaan jasmani dari Roma; Ia menyatakan kepada mereka bahwa kelegaan yang sesungguhnya adalah jika mereka memperoleh kemerdekaan atas dosa, bukan atas Roma.


Orang Kristen yang mencintai Tuhan dan dewasa tidak menganggap masalah-masalah jasmani sebagai sesuatu yang membuat hidup ini tidak indah. Justru sebaliknya, mereka menganggap masalah-masalah jasmani itu sebagai alat Tuhan untuk mendewasakan mereka. Inilah kunci untuk bisa menikmati kehidupan yang indah. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan jasmani harus menjadi sarana bagi kita untuk menjalani sekolah kehidupan guna menemukan dan mengenakan kebenaran Tuhan.



Keindahan kehidupan adalah jika kita bertemu dengan Tuhan melalui pengalaman hidup setiap hari.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Menghargai Setiap Menit

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Nopember 2011

Menghargai Setiap Menit



Bacaan: Efesus 5: 14-17


5:14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,

5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.



Setiap orang memperoleh waktu yang sama: tetap 24 jam setiap hari, 60 menit setiap jam, 60 detik setiap menit. Kalau kita hendak mempercepat persiapan kekekalan dalam kehidupan ini, jangan menganggap waktu yang ada itu kurang—sebab kita tidak bisa mempercepat atau memperlambat waktu—tetapi mengisi lebih banyak waktu yang berguna untuk persiapan memasuki kekekalan. Kuncinya adalah bagaimana menghargai setiap detik dan menit yang Tuhan sediakan. Tentu ini tidak berarti mengurangi waktu untuk studi, karier, bekerja mencari nafkah dan berbagai tanggung jawab lain yang harus dipenuhi; tetapi berarti kita harus mengalokasikan waktu untuk belajar kebenaran.


Seperti dimaksudkan oleh Paulus bahwa waktu bisa menghidupkan dan bisa pula membinasakan, sehingga hendaknya kita selalu memperhatikan perjalanan hidup setiap hari, sebab setiap hari Tuhan menyediakan berkat-berkat rohani yang tidak terbeli oleh apa pun; momentum-momentum yang sangat berharga, langka dan bisa tidak terulang lagi. Untuk ini dibutuhkan kesungguhan setiap individu.


Banyak orang sudah merasa bersungguh-sungguh telah menekuni imannya, padahal belum, atau tidak sama sekali. Terdapat pula orang-orang Kristen yang merasa belum serius mengembangkan imannya, tetapi tidak merasa ada di zona berbahaya. Ia merasa bahwa keadaan kerohaniannya belum dalam taraf berbahaya, sehingga tetap bertahan dalam kondisi seperti itu. Sementara seseorang bertahan dalam zona kenyamanan rohani yang berbahaya ini, Iblis terus menggarapnya secara intensif agar terjerat dalam kebodohan sehingga tidak pernah bisa bangkit untuk selamanya.


Maka bagi kita, langkah yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa kita hidup ada dalam perjalanan waktu yang ketat. Oleh karena itu kita harus menghargai setiap menit yang dipercayakan Allah kepada kita. Waktu hidup harus diprogram dengan benar. Singkirkan dan abaikan hal-hal yang tidak akan mendatangkan keselamatan abadi, dan gantilah itu semua dengan berdoa dan menyediakan waktu untuk belajar Suara Kebenaran. Suara Kebenaran dapat diperoleh melalui berbagai media, baik cetak—renungan dan majalah Truth, multimedia (radio dan TV) dan Internet. Selalu kembangkan kehausan akan Tuhan dalam diri kita. Supaya bisa lebih terbantu, kita harus bergaul dengan orang-orang yang takut akan Tuhan. Lebih lengkap lagi kalau kita turut mengambil bagian dalam pelayanan bersama orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan benar-benar mengusahakan keselamatan jiwa orang lain.



Hargai setiap menit yang dipercayakan Allah kepada kita melalui memprogram waktu hidup dengan benar.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Penyesatan Terselubung

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Nopember 2011

Penyesatan Terselubung



Bacaan: Filipi 3: 2


3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,



Paulus mengingatkan kita atas bahaya penyesatan terselubung dalam gereja. Di zaman itu bahaya terbesarnya adalah pengajar-pengajar palsu yang menekankan ritual agamawi ala Yahudi. Injil telah disimpangkan, mereka mengajarkan bahwa sekalipun seseorang percaya kepada Yesus, namun ia harus disunat, dan melakukan ritual-ritual Yahudi lain agar diselamatkan. Hasilnya ia dapat beroleh berkat-berkat jasmani yang dijanjikan kepada umat Perjanjian Lama.


Hari ini dalam bungkusan yang berbeda penyesatan yang serupa masih terjadi, bahkan semakin parah. Sebab di gereja-gereja pun diajarkan bahwa mencari Tuhan itu sama dengan mencari berkat-Nya, tentu yang dimaksud adalah berkat jasmani. Bergereja dan ber-Tuhan bertujuan agar usaha dan bisnis, kesehatan, keluarga dan berbagai aspek kehidupan lainnya lancar. Hasilnya tidak sedikit juga jemaat awam yang telah hanyut dibawa kepada kehidupan anak-anak dunia yang sangat jauh dari standar kebenaran Tuhan.


Kita juga sedih melihat ada juga rohaniwan yang memanfaatkan kebodohan orang Kristen ini menjadi sumber nafkah atau dukungan untuk ambisi manusiawi membesarkan organisasi yang dibungkus secara kulit luar dengan pelayanan bagi Tuhan. Mereka mengajarkan bahwa pemimpin gereja adalah VIP-nya Tuhan, tidak tertandingi jemaat, dan tidak boleh dilawan, sebab tidak mungkin salah. Mengikuti mereka berarti lebih mudah diberkati secara jasmani dan lebih mudah masuk surga. Penekanan soal ritual juga belakangan muncul kembali dalam bungkus baru.


Liturgi gereja yang ditekankan pada pujian dan penyembahan menyampaikan pesan bahwa hanya itulah saat seorang Kristen bisa memuji dan menyembah Tuhan. Ritual lain seperti persembahan / persepuluhan dan Perjamuan Kudus juga diajarkan sebagai kewajiban agar Tuhan menyayangi mereka, memulihkan keadaan jasmani mereka, memberi kelimpahan berkat duniawi. Visi-visi bermuatan janji pemulihan, kelimpahan, berbuah-buah—tidak jelas buah yang dimaksud—penggandaan berkat, promosi kedudukan dan lain sebagainya selalu disampaikan.


Ini semua sejatinya penyesatan, sebab seperti anjing kembali kepada muntahnya (2Ptr. 2:22), mereka mengajarkan agar orang Kristen kembali kepada kubangan percintaan dunia, melupakan kekekalan dan pertumbuhan dalam pengenalan akan Tuhan. Jangan sampai terjebak, sebab sekalipun menggunakan ayat-ayat Alkitab, mereka tidak menggali kekayaan Injil dengan benar, bahkan menekankan pengalaman pribadi dan kultus individu yang menggantikan Tuhan sebagai puncaknya.



Waspadalah terhadap penyesatan terselubung yang menekankan keduniawian dalam bungkusan rohani.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kenyamanan Yang Membinasakan

Renungan Harian Virtue Notes, 11 Nopember 2011

Kenyamanan Yang Membinasakan



Bacaan: 1 Korintus 9: 24-27


9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.



Bahaya besar jika kita membiarkan diri kita terbuai dalam zona kenyamanan rohani, sehingga lupa untuk mencari dan menemukan Tuhan secara benar. Hati-hati jika kita merasa bahwa diri kita sudah bijaksana, cukup umur, memiliki banyak pengalaman dan prestasi kehidupan, apalagi kalau ditambah banyak uang. Kenyamanan seperti ini dapat membutakan kita terhadap kebenaran yang murni. Kebijaksanaan yang kita rasakan ini malah membuat kedewasaan iman kita miskin, sehingga Allah menyembunyikan hikmat-Nya (Mat 11:25).


Itulah sebabnya Tuhan Yesus menuntut agar orang-orang yang mengikut Dia melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat 19:21). Orang-orang yang merasa dirinya sudah mapan cenderung terjebak dalam keangkuhan terselubung, sehingga tanpa merendahkan diri dan melepaskan segala keterikatan, nilai diri yang dimilikinya akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh menuju kedewasaan iman dalam Tuhan. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka, sehingga akhirnya mereka jatuh dan binasa.


Jangan hanya menganggap bahaya kenyamanan ini hanya membayangi orang-orang awam. Rohaniwan gereja seperti pendeta, majelis dan aktivis yang merasa sudah memiliki standar kerohanian yang baik juga bisa dibutakan oleh kedudukan dan jabatan gerejawi yang melekat dalam diri mereka. Mereka menganggap dirinya sudah menjadi orang Kristen yang tidak tercela, namun standarnya hanyalah kehidupan keberagamaan, bukan mencapai target yang dicanangkan Bapa.


Orang-orang ini bagaikan petinju yang naik ring tetapi tidak ingin menang, sehingga bertinju sembarangan; atau pelari yang ikut perlombaan, tetapi larinya santai-santai saja seperti tidak ada yang dikejarnya. Kalau diibaratkan sebagai pembalap mobil, ia merasa hanya perlu mengemudi dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, tidak perlu mempercepat lajunya. Baginya kalau kecepatan ditingkatkan, menyusahkan dirinya, dan perjalanan menjadi kurang menyenangkan. Tidak ada yang dikejar; kalau santai-santai saja, ia bisa melakukan banyak hal dan berhenti beristirahat sesukanya. Ia tidak menyadari bahwa perjalanannya bisa diakhiri setiap saat, ada sasaran atau target yang harus dicapai, yaitu tiba di tujuan pada waktu yang ditentukan. Jika ia sadar, maka ia tidak akan santai. Ia akan berfokus kepada tujuannya, dan menggunakan strategi, seperti petinju yang cerdas.



Tinggalkan zona kenyamanan rohani dan berfokuslah kepada tujuan yang ditentukan Allah.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger