RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Dikhususkan Bagi Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 18 Pebruari 2011

Dikhususkan Bagi Tuhan



Bacaan: 1 Petrus 2: 9-10


2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.



Tidak seperti umat Perjanjian Lama yang membutuhkan Tuhan untuk perlindungan dan segala berkat jasmani-Nya untuk kehidupan mereka, umat Perjanjian Baru tidaklah demikian. Sebagai umat Perjanjian Baru, kita dikhususkan bagi Tuhan sebagai imamat yang rajani, yaitu pelayan-pelayan atau hulubalang-hulubalang yang melayani Sang Maharaja (ay. 9).


Menurut Perjanjian Lama, imamat merupakan tugas dan tanggung jawab suku Lewi yang dikhususkan bagi Tuhan. Mereka tidak perlu mendapat bagian milik pusaka di antara suku-suku bangsa Israel, sebab milik pusaka suku Lewi adalah Tuhan sendiri (Ul. 10:9). Mereka menjadi imam-imam bagi Tuhan.


Demikian pula kita sebagai orang percaya harus berpikir demikian. Dalam Perjanjian Baru, imamat tidak lagi dikhususkan bagi suku Lewi, tetapi semua orang percaya merupakan imam-imam. Sebagai imam, kita boleh datang kepada Tuhan tanpa perantara. Namun di sisi lain, imam tidak memiliki hak milik, dan harus hidup sepenuhnya bagi Tuhan. Bukan berarti tidak perlu bekerja, berkeluarga dan beraktivitas. Kita melakukannya, tetapi hanya untuk kemuliaan Tuhan (1Kor. 10:31).


Manakala kita tiba di wilayah cara hidup imamat ini, barulah kita mengerti nikmatnya kehidupan. Kita tidak merasa memiliki kesenangan lain dalam hidup ini selain melayani Tuhan. Inilah yang ditunjukkan Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Dalam teks Terjemahan Lama, kata “makanan-Ku” di sini diterjemahkan “rezeki-Ku”. Ini sama dengan nafkah, sumber kehidupan, kegemaran hidup atau sesuatu yang membuat seseorang memiliki kehidupan. Di sini pelayanan dan pengabdian bagi Tuhan bukanlah kewajiban lagi, tetapi kebutuhan. Seakan-akan kita mau berkata, “Aku tidak bisa hidup tanpa melayani Engkau Tuhan. Pelayanan inilah kehidupanku.”


Dengan demikian, marilah kita sadari bahwa Tuhan berarti bagi kita, sebab di dalam Dialah kita memperoleh kehidupan, yaitu melayani-Nya. Ingat, bukan karena kita bisa memanfaatkan Tuhan, tetapi karena Tuhan berkenan memakai kita sehingga turut serta mengambil bagian dalam menggenapi rencana dan kehendak-Nya.


Inilah maksud-Nya menciptakan mahkluk manusia. Manusia diciptakan untuk Pencipta-Nya, bukan untuk dirinya sendiri. Kita harus bisa berseru, “Tuhan tolong agar jangan sampai aku hidup untuk diriku sendiri, tetapi untuk Engkau yang menciptakan aku. Tanpa melayani-Mu, lebih baik aku tidak pernah menjadi manusia.”



Tuhan berarti bagi kita, sebab di dalam Dialah kita memperoleh kehidupan, yaitu melayani-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Agar Aku Berarti Bagi-Mu

Renungan Harian Virtue Notes, 17 Pebruari 2011

Agar Aku Berarti Bagi-Mu



Bacaan: Filipi 1: 21


1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.



Sering kita dengar orang berkata, dan mungkin juga kita katakan, “Tuhan Yesus, Engkau berarti bagiku.” Kedengarannya sederhana, namun harus kita persoalkan, mengapa Ia berarti bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ada jembatan untuk membuka pikiran kita menemukan jawabannya yang tepat.


Coba kita pikirkan, mengapa jam tangan berarti bagi kita? Mengapa pulpen berarti bagi kita? Mengapa komputer berarti bagi kita? Mengapa mobil berarti bagi kita? Jawabannya sederhana, yaitu karena benda-benda tersebut berfungsi sesuai dengan maksudnya dibuat. Sesuatu menjadi berarti kalau berfungsi sesuai dengan maksud penciptanya. Kalau begitu apakah kita bisa bertanya, “Apakah Tuhan sudah berfungsi bagi kita?” Ternyata tidak bisa begitu, sebab bukan kita yang menciptakan Tuhan; Tuhanlah yang menciptakan kita. Kitalah yang harus bertanya dan memikirkan, apa fungsi kita bagi rencana dan kehendak-Nya.


Dalam berurusan dengan Tuhan, banyak orang hanya mempersoalkan apa fungsi, manfaat dan kegunaan memiliki Tuhan. Ini juga sering dipromosikan oleh pembicara Kristen tertentu di mimbarnya. Itu cara berpikir yang salah, sebab sejatinya sama saja dengan pola berpikir orang yang pergi ke dukun. Inilah yang menyesatkan banyak orang beragama.


Seharusnya sebagai objek ciptaan Tuhan, kitalah yang harus bertanya kepada-Nya, “Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu, Tuhan?” Sama seperti jam tangan, pulpen, mobil dan berbagai peralatan lain, semuanya diciptakan untuk maksud-maksud tertentu bagi kepentingan manusia. Bukan manusia yang berkata kepada pulpennya, “Bagaimana agar aku berarti bagimu?” tetapi pulpenlah yang harus tahu diri dan mempersoalkan apa yang membuatnya berarti bagi manusia.


Jadi, saat kita berkata kepada Tuhan, “Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu, Tuhan?”, berarti kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup menurut kehendak-Nya. Hanya manusialah yang mempersoalkan hal ini, binatang tidak. Jadi, kalau manusia tidak mempersoalkan hal ini, kualitas hidupnya bukanlah kualitas hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Keselamatan dalam Yesus Kristus harus bisa membawa seseorang pada pernyataan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Sampai pada taraf hidup ini, seseorang barulah bisa berkata, “Kau berarti bagiku Tuhan, sebab dengan menemukan tempatku untuk melayani-Mu aku menemukan keindahan hidup ini. Kalau aku tidak menemukan tempatku untuk melayani-Mu, lebih baik aku tidak pernah ada.”



Kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup menurut kehendak-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Makna Yang Baru

Renungan Harian Virtue Notes, 16 Pebruari 2011

Makna Yang Baru



Bacaan: Mazmur 42: 2-6


42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"

42:5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!



Dalam Mazmur 42, Pemazmur menggambarkan umat Allah seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Pernyataan ini merupakan suatu gambaran betapa tergantungnya umat kepada Tuhan. Umat Perjanjian Lama merindukan Tuhan, karena membutuhkan pertolongan-Nya dari segala ancaman yang menghadang mereka dan karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Tuhan menjadi andalan mereka yang harus dimintai pertolongan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.


Sampai hari ini, kata-kata puitis dalam kitab Mazmur masih menjadi kalimat doa orang Yahudi di Tembok Ratapan (Wailing Wall). Tentu ayat dalam Mazmur 42 ini juga digunakan sebagai kalimat doa mereka. Sewaktu masih muda, penulis juga suka menggunakan ayat-ayat ini sebagai kalimat doa.


Juga sampai hari ini, banyak orang Kristen masih menggunakan kata-kata Mazmur sebagai kalimat doanya dan menjadikan ayat-ayat dalam kitab Mazmur sebagai landasan imannya. Ini patut diwaspadai, sebab dengan hal ini, orang Kristen bisa menyamakan standar iman orang Yahudi—umat Perjanjian Lama—dengan umat Perjanjian Baru. Seharusnya tidak demikian, sebab standar iman umat Perjanjian Baru jauh lebih tinggi dibandingkan standar iman umat Perjanjian Lama.


Tentu kita masih menggunakan kitab Perjanjian Lama umumnya dan Mazmur khususnya, sebab di dalamnya termuat banyak pelajaran rohani atau hikmah yang berharga. Tetapi kita harus memaknainya dengan cara yang berbeda dengan cara orang Yahudi memaknainya.


Ketika kita mengatakan bahwa kita seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, kita harus sadar bahwa ketergantungan kita kepada Tuhan bukanlah karena hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, sebab itu semua telah disediakan oleh Tuhan (Mat. 6:32). Dengan demikian, kita bisa hidup tanpa kekhawatiran sama sekali, sebab Bapa telah menyediakan apa yang kita butuhkan. Yang penting bagi kita adalah berusaha atau bekerja keras untuk meraihnya.


Maka pernyataan “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair” harus dimaknai baru. Maknanya adalah, kita membutuhkan Tuhan karena Dialah Pencipta kita. Kita baru menjadi berarti kalau menemukan fungsi kita dalam rencana atau kehendak-Nya. Dia berarti bagi kita, kalau kita menyadari bahwa hanya Dialah kesukaan hidup ini—tidak ada kesukaan yang lain. Dia berarti bagi kita, kalau kita menyadari betapa mengagumkan hikmat dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya untuk kita lakukan.



Kita baru berarti jika menemukan fungsi dalam rencana Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kemenangan Yang Sesungguhnya

Renungan Harian Virtue Notes, 15 Pebruari 2011

Kemenangan Yang Sesungguhnya



Bacaan: Wahyu 3: 19-21


3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.



Dengan menjadi orang yang dikenan Bapa, maka kita akan dapat menerima kemuliaan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Inilah sukses kehidupan yang dikehendaki Bapa untuk dialami oleh umat pilihan-Nya. Firman-Nya, “Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (ay. 21).


Jangan kita merasa sebagai pemenang—seperti yang sering dinyanyikan dan digembar-gemborkan—sebelum kita melakukan kehendak Bapa seperti Tuhan Yesus, dan memperoleh perkenanan Bapa. Menjadi pemenang bukan hal murahan. Jangan karena sudah menjadi orang Kristen, dan Kristus sudah menang, lalu kita secara otomatis menang juga. Kita baru boleh mengatakan diri kita pemenang, jika kita benar-benar sudah menang. Maka untuk mengetahui apa ukuran kemenangan itu, kita harus menilik kehidupan Kristus, sebagai teladan yang sudah menang.


Kegagalan Adam pertama untuk melakukan kehendak Bapa sehingga diusir dari taman Eden (Kej. 3) sungguh memilukan dan menyakiti hati Bapa. Adam kedua yaitu Tuhan Yesus Kristus bergumul dengan sangat berat dan serius untuk bisa melakukan kehendak Bapa (Ibr. 5:7–9). Ia berhasil menang; Ia taat kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan sampai mati di kayu salib. Kemenangan ini merupakan contoh yang harus juga kita ikuti.


Kalau Tuhan Yesus mengatakan, “Ikutlah Aku,” itu juga berarti Ia mengundang kita mengikuti gaya hidup-Nya, sampai pada tingkat sukses menjadi pemenang. Itulah sebabnya dikatakan dalam Alkitab bahwa orang percaya harus menjadi serupa dengan Dia, agar Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Menjadi yang sulung artinya Ia terlebih dahulu menang, dan memberi contoh untuk diteladani. Ingatlah bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, yaitu menjadi Adam yang dikenan-Nya, bukan Adam yang mengecewakan hati-Nya.


Kabar baiknya, sebagai orang percaya, kita diberi anugerah untuk memiliki kehidupan tersebut. Kalau Allah memberikan kita kesempatan yang tiada ternilai ini, maka seluruh kehidupan ini harus ditujukan untuk hal ini. Meraih kemenangan bukan terjadi secara otomatis, juga tidak secara mistis dengan kuasa adikodrati; tetapi harus dengan usaha keras, serius dan melibatkan seluruh kehidupan ini.



Kita harus meneladani Kristus, agar kita menang dan dikenan Allah, dan dimuliakan bersama dengan Kristus.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Harga Mati

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Pebruari 2011

Harga Mati



Bacaan: Matius 19: 16-22


19:16. Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

19:17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."

19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,

19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"

19:21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.



Kepada orang muda kaya yang bermaksud memiliki hidup kekal (hidup yang berkualitas tinggi), Tuhan Yesus menetapkan harga mati yang tidak boleh dikurangi. Agar bisa sempurna atau dikenan-Nya, Tuhan memintanya meninggalkan semua harta miliknya dan menggantinya dengan mengikut Yesus.


Orang muda kaya tersebut rupanya tidak bersedia memenuhi apa yang dikehendaki Tuhan. Matius mencatat bahwa ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Apakah Yesus lalu berpikir, “Sayang, orang kaya jangan sampai pergi” lantas memanggilnya untuk berbalik kembali kepada-Nya, dan bersedia mengurangi “harganya?” Tidak. Yesus tidak berkenan kepadanya. Ia membiarkan orang muda itu pergi untuk binasa. Di sini tampak jelas bahwa Tuhan tidak mau kompromi dengan manusia yang tidak bersedia tunduk kepada-Nya secara mutlak.


Perkenanan Bapa adalah standar hidup yang harus dimiliki setiap anak Tuhan; tidak bisa dikurangi. Bapa bukan pedagang yang mau tawar-menawar dengan pembeli demi barangnya laku atau terbeli. Ia sudah menetapkan harga, dan Ia tidak menginginkannya ditawar sama sekali. Manusia mau “membelinya”, silakan; kalau tidak mau, ya silakan.


Harga mati ini berarti standar “dikenan Bapa” yang ditetapkan Tuhan adalah mutlak dan permanen. Dalam hal ini, Tuhan belum tentu menerima orang yang merasa dirinya baik, atau bahkan dinilai baik oleh semua orang, sebab kebaikan di mata diri sendiri dan orang lain bukanlah harga yang diterima Bapa. Jadi jangan sekali-kali merasa sudah dikenan Bapa karena merasa diri sebagai orang baik atau dinilai sebagai orang baik oleh manusia lain. Itu subjektivitas manusia belaka. Kebaikan harus dipandang dari mata Bapa, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya.


Oleh sebab itu kita harus sungguh-sungguh berusaha setiap hari untuk memiliki kehidupan yang dikenan-Nya. Usaha itu tidak boleh setengah-setengah atau asal-asalan, tetapi harus dengan segenap hati, jiwa, ketaatan dan seluruh akal budi kita. Tanpa didasari segenap kehidupan kita, kita tidak mungkin sampai kepada target yang dikehendaki Bapa. Kalau ini dapat diraih orang dengan mudah, maka akan ada banyak orang yang berhasil; tetapi ini bukan sesuatu yang mudah, sebab seperti kata Alkitab, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat. 22:14). Kesediaan berusaha untuk meraih target ini merupakan respons yang benar terhadap keselamatan yang disediakan Tuhan bagi kita; jika kita tidak bersedia, berarti kita menyia-nyiakan keselamatan itu (Ibr. 2:3).



Kita harus sungguh-sungguh berusaha memiliki kehidupan yang dikenan-Nya dengan segenap kehidupan kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Dinikmati Tuhan Dalam Segala Hal

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Pebruari 2011

Dinikmati Tuhan Dalam Segala Hal



Bacaan: Matius 7: 21:23


7:21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"



Kepada orang-orang yang tidak dikenan Tuhan sekalipun telah bernubuat, mengusir setan dan mengadakan mukjizat demi nama-Nya, Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (ay. 23). Kata “mengenal” di sini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mengetahui siapa mereka, sebab Ia Mahatahu, tetapi lebih bermakna “mengenal karena menikmati dan mengalami”. Demikianlah makna yang kita peroleh dari kata “mengenal”, yang dalam bahasa aslinya ditulis γινώσκω (yinóskō) dan secara eufemistis digunakan untuk “hubungan suami-istri”, sejajar dengan יָדַע (yâda`) dalam bahasa Ibrani.


Ini berarti apabila Bapa berkenan kepada kita, maka kita dapat dinikmati oleh Bapa dan Bapa mengakuinya, bahwa Bapa mengenalnya. Tuhan mengatakan bahwa pribadi yang dikenal-Nya ialah yang melakukan kehendak Bapa (ay. 21), sebab itulah Bapa berkenan kepadanya. Itulah ukuran apakah seseorang dikenal-Nya atau tidak.


Orang Kristen yang belum dewasa biasanya hanya bisa dan ingin menikmati Tuhan dan berkat-Nya; tetapi orang Kristen dewasa harus dapat dinikmati Tuhan. Ia mau menikmati kita bukan hanya pada waktu mengikuti liturgi, menyanyi dan memuji-muji Tuhan di gereja, sebab ibadah yang benar adalah menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Ini berarti Tuhan mau menikmati orang percaya di sepanjang waktu dan di segala tempat.


Tuhan bukan hanya menikmati senyum, tawa riang kita atau pada waktu kita melakukan sesuatu yang umumnya dianggap sebagai kebajikan; tetapi juga tatkala kita marah, sedih, berduka dan sebagainya. Tentu ini kemarahan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sebab Ia juga menginginkan seorang pemimpin atau orang tua bisa marah pada tempatnya, yaitu marah yang membangun dan bukan pelampiasan emosional. Tidak semua kemarahan itu dosa.


Apabila Tuhan mau mengalirkan perasaan-Nya melalui kita, kita pun harus bisa mengekspresikannya dengan bersih. Sebenarnya Ia mau tampil dalam gelanggang kehidupan ini melalui kehidupan orang percaya. Bila kita mengerti kehendak-Nya dan terus berjalan dalam kehendak-Nya setiap hari, maka kita mampu memperagakan apa yang dikehendaki-Nya untuk diperagakan oleh kita.


Berkenaan dengan hal ini, Paulus menyatakan, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19–20). Hanya bila kita memperagakan kehendak Tuhan Yesus dalam hidup kita, barulah kita dapat mencapai target yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu dikenan-Nya.



Orang Kristen yang belum dewasa ingin menikmati Tuhan; tetapi orang Kristen dewasa harus dapat dinikmati Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Dikatakan Hidup, Padahal Mati

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Pebruari 2011

Dikatakan Hidup, Padahal Mati



Bacaan: Wahyu 3: 1-6


3:1. "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

3:2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.

3:3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.

3:4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.

3:5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.

3:6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."



Dengan pergumulan yang sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang dikenan Tuhan, setiap hari kita akan membuka mata pikiran untuk memahami bahwa segala kegiatan gereja yang bersifat seremonial bukanlah hal yang utama. Pernyataan ini bukan berarti tidak perlu lagi mengadakan acara-acara dalam gereja, tetapi segala acara yang tidak membuahkan kehidupan yang dikenan Bapa adalah tipuan iblis yang membahayakan umat Tuhan di dalam gereja.


Tidak sedikit orang yang terjebak dalam kegiatan gereja yang tidak berdaya guna menjadikan Bapa berkenan kepada mereka. Kegiatan-kegiatan tersebut serupa dengan yang dilakukan oleh berbagai agama di dunia, misalnya bazar amal, berbagai jenis perlombaan, sampai kegiatan yang kelihatannya sangat rohani seperti pekerjaan misi. Kegiatan-kegiatan ini bukannya tidak boleh dilakukan atau salah, tetapi apabila tidak disertai dengan pertumbuhan rohani yang berarti, di mana seseorang semakin dikenan Bapa di Surga, maka iblis pun tidak merasa perlu bersusah payah menghalangi orang Kristen melakukan berbagai kegiatan tersebut. Akan tetapi iblis akan sangat terganggu dan akan berusaha keras menghalangi kalau seorang anak Tuhan bertumbuh menjadi pribadi yang dikenan Bapa.


Dalam satu pernyataan-Nya, Tuhan Yesus bersabda kepada jemaat di Sardis, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” (Why. 3:1) Teguran ini tentu ditujukan kepada orang Kristen yang aktif dalam berbagai kegiatan gereja atau kegiatan rohani, bukan ditujukan kepada orang Kristen yang tidak beraktivitas rohani. Teguran ini ditujukan kepada orang Kristen yang merasa sudah “hidup” atau merasa menjadi orang Kristen yang benar, padahal ia “mati”, bukan orang yang dikenan Bapa.


Teguran ini juga harus mengejutkan kita, sebab fakta ini bisa terjadi dalam kehidupan Kekristenan kita. Jangan sampai kita merasa sudah menjadi anak Tuhan yang baik, padahal tidak. Harus diingat, bahwa iblis lebih cerdas dan licik dari yang diduga banyak orang. Untuk mengantisipasinya, kita harus selalu memiliki hubungan yang sebagaimana mestinya dengan Tuhan, yaitu melalui Firman kebenaran dan doa. Melalui sarana ini Tuhan akan membuka pikiran kita untuk mengenali keadaan kita seperti Tuhan mengenalinya. Bagi kita yang sungguh-sungguh mau mengoreksi diri dengan jujur, Tuhan akan membuka pikiran kita agar kita dapat mengetahui seperti apa penilaian-Nya atas diri kita.



Melalui Firman kebenaran dan doa, Tuhan akan membuka pikiran kita agar kita mengenali keadaan kita seperti Tuhan mengenalinya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger