RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Damai Yang Berbeda

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Juli 2010
Damai Yang Berbeda

Bacaan : Matius 10 : 34–39


10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


Bila berbicara mengenai damai, sebenarnya banyak orang yang tidak tahu apa yang dimaksud dengan damai itu. Kata damai tentu yang sudah sangat kita kenal. Kata ini berarti “keadaan di mana tidak ada perang”, sinonimnya tenteram, tenang atau aman. Keadaan damai umumnya kerap dihubungkan dengan keadaan hidup tanpa persoalan, ancaman dan kesukaran. Dengan konsep ini orang berusaha menempatkan diri dalam kondisi tidak bermasalah.

Saat negara kita dilanda berbagai krisis, semua anggota masyarakat menjerit karena kondisi ekonomi sangat sulit. Sebagian orang berusaha meninggalkan negeri ini untuk menjadi warga negara lain, misalnya Amerika atau Australia. Mengapa? Sebab mungkin mereka memimpikan suatu keadaan masyarakat dan ekonomi yang baik, sehingga mereka dapat merasakan damai menurut model mereka. Apakah damai seperti ini yang kita butuhkan?

Pada dasarnya, TUHAN Yesus tidak datang untuk menciptakan damai seperti konsep yang diharapkan oleh manusia secara duniawi. Bila konsep yang diharapkan anak TUHAN seperti ini, berarti terdapat benturan visi dengan TUHAN. Akhirnya kita akan menjadikan Yesus sebagai TUHAN, Juru Selamat, dan Raja versi kita, seperti yang kita mau. Raja yang menyenangkan kita, yang memberikan segala yang kita ingini. Sebagai akibatnya kita akan gagal menyambut karya keselamatan ALLAH dalam Yesus Kristus. Kegagalan tersebut karena keselamatan yang diharapkan hanya berupa solusi menghadapi persoalan fana dunia ini.

Apabila pengertian kita mengenai damai adalah seperti yang diajarkan dunia, yaitu memiliki fasilitas dan kondisi hidup yang nyaman tanpa masalah, itu menjadi sekadar mimpi belaka, karena hidup ini tidak mungkin tidak bermasalah—baik masalah kita sendiri maupun masalah orang lain. Harapan mengenai damai seperti ini tidak seirama dengan TUHAN Yesus. Ia berkata, “Aku datang bukan membawa damai, tetapi pedang” (ay. 34). Pedang di sini diterjemahkan dari kata μάχαιρα (mákhaira), yakni gambaran keadaan dunia yang bermasalah dan makin bermasalah. TUHAN Yesus mengizinkan berbagai bencana menimpa bumi, agar manusia disadarkan bahwa mereka adalah makhluk yang terbatas dalam segala hal dan membutuhkan dunia lain yang lebih baik, bukan dunia ini, yang akan menjadi lautan api. Dengan kesadaran mengenai hal ini kita akan meraih damai yang benar, yaitu manakala kita merindukan kekekalan bersama TUHAN di langit yang baru dan bumi yang baru.
Read more
0

Mencari Masalah

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Juli 2010
Mencari Masalah

Bacaan : Roma 8 : 12–18


8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.
8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.
8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
8:17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.


TUHAN mengizinkan kita bergumul dengan masalah sampai bisa mengatasinya dan dibentuk menjadi pribadi yang berintegritas tinggi. Jadi, apabila kita tidak memiliki masalah, kita harus mulai mencari “masalah”, yaitu membantu memikul beban yang dihadapi orang lain. Inilah yang disebut sebagai “menjaga saudara” kita. Di kala tidak bermasalah, kita mencari masalah untuk kita pikul, yaitu menyelesaikan pekerjaan BAPA (Kis. 1:8). Di sini kita menemukan fakta bahwa orang yang mengikut TUHAN Yesus justru mencari masalah orang lain yang TUHAN percayakan untuk turut dipikulnya bersama. Memang tidak semua kesulitan orang dapat kita pikul, tetapi TUHAN pasti memberikan sejumlah proyek pekerjaan-NYA secara khusus kepada hamba-hamba-NYA.

TUHAN Yesus menyatakan bahwa orang yang mau mengikut DIA harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 16:24). Dengan pernyataan ini IA hendak menunjukkan bahwa untuk mengikut-NYA, kita harus mengenakan pola hidup yang berbeda. Menyangkal diri artinya menanggalkan pola dan gaya hidup manusia pada umumnya, kemudian mengenakan pola dan gaya hidup warga Kerajaan Surga sebagai gantinya. Hukum kehidupan orang percaya adalah no crown without cross (tiada mahkota tanpa salib).

Rasul Paulus tegas berkata bahwa hanya orang yang menderita bersama dengan DIA akan dimuliakan bersama-sama dengan DIA (Rm. 8:17). Selanjutnya ia juga menyatakan bahwa penderitaan yang kita alami mengerjakan kemuliaan kekal (Rm. 8:18). Inilah yang tidak dipahami banyak orang. Mereka berpikir bahwa mengikut TUHAN Yesus akan membuat hidup jasmani mereka nyaman tanpa gangguan. Nyaman di dalam jiwa kita, ya, sebab IA memberi damai sejahtera, tetapi kita harus berani memasuki pergumulan untuk meneruskan karya keselamatan-NYA agar sampai ke ujung bumi.
Read more
0

Masalah Bukan Masalah

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Juli 2010
Masalah Bukan Masalah

Bacaan : Yakobus 1 : 2–8


1:2. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila Rata Penuhkamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.


Bila kita berpikir bahwa hidup ini dapat dijalani tanpa masalah, maka kita sendiri bermasalah, sebab memiliki pola berpikir yang salah. Perlu dipahami bahwa hidup kita tidak mungkin tidak bermasalah, sebab dunia ini sudah jatuh dalam segala masalah. Dengan pemahaman ini bukan berarti kita mengharapkan hidup yang sulit. Kita harus berjuang menghadapinya dengan tekun, giat dan bertanggung jawab.

Orang Kristen yang dewasa tidak akan mudah minta pertolongan TUHAN agar mengangkat masalahnya; justru sebaliknya ia akan berusaha menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan semua potensi yang telah dikaruniakan TUHAN kepada dirinya. Ini bukan berarti kita tidak mengharapkan pertolongan TUHAN; sebab TUHAN tidak akan menolong kita, kalau kita tidak menolong diri kita sendiri. Kita harus sangat yakin bahwa TUHAN pasti menolong kalau persoalan yang kita hadapi memang diluar kesanggupan kita, memang bukan menjadi bagian kita untuk melakukannya. Dalam hal ini, kita tidak berharap TUHAN menolong, kalau masih ada di dalam wilayah tanggung jawab kita, kalau memang menjadi bagian kita untuk melakukannya. Jadi memang adalah porsi kita untuk melakukan yang terbaik dalam hal-hal yang memang menjadi bagian kita, mengenai hasilnya akan menjadi seperti apa itu adalah otoritasnya TUHAN.

Dengan menggumuli masalah hidup kita tersebut, TUHAN hendak mengajar kita untuk bertanggung jawab dan membentuk kita menjadi pribadi yang berintegritas tinggi. Ingat, di surga nanti kita bukan hanya duduk-duduk santai, makanminum-tidur saja. Di sana kita akan bekerja melayani TUHAN sepanjang masa. Oleh sebab itu yang diperkenankan melayani TUHAN adalah orang-orang yang berintegritas tinggi, tekun, giat, rajin berkerja dan produktif.

Jangan berpikir TUHAN dengan mudah mengubah hidup kita tanpa mengajak kita bergumul untuk bertanggung jawab dan meningkatkan integritas kita. Bagaimana seseorang dapat belajar menjadi dewasa dan bertanggung jawab, kalau masalahnya selalu dengan serta-merta diselesaikan TUHAN dengan mudah dan ajaib? Orang yang tidak pernah mengalami konflik dan pergumulan tidak akan bertumbuh dewasa. Ia tidak mengerti bagaimana hidup yang bertanggung jawab di dunia ini. Pribadi-pribadi seperti ini bukanlah pribadi yang kokoh.

Dengan demikian, kita tahu bahwa masalah yang TUHAN izinkan untuk kita alami bukanlah masalah lagi, tetapi pelajaran berharga yang membawa berkat abadi. Yakobus menunjukkan kepada kita, bahwa kita harus merasa bahagia, sekalipun kita menghadapi berbagai pencobaan dan masalah. Ini berarti berkat TUHAN bukan hanya sesuatu yang dirasa enak atau nyaman saja. Kesulitan pun bisa merupakan berkat TUHAN, asal kita tahu bagaimana meresponinya.
Read more
0

Mengapa Keluar Dari Masalah?

Renungan Harian Virtue Notes, 11 Juli 2010
Mengapa Keluar Dari Masalah?

Bacaan : Matius 16 : 24–26


16:24. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?


Secara manusiawi setiap kita akan berusaha menghindarkan diri dari masalah, baik masalah ekonomi, sakit-penyakit, rumah tangga yang berantakan, dan sebagainya melalui usaha dan kerja keras yang bertanggung jawab. Namun apakah usaha itu ditujukan untuk menikmati damai kita sendiri dan bukannya untuk TUHAN? Banyak orang berkata, “Kami mau hidup damai-damai saja, pokoknya cari aman.” Pernyataan ini pasti berarti menginginkan suatu kehidupan yang tidak bermasalah. Segalanya berjalan lancar, sehingga kita bisa menikmati apa yang disangkakan sebagai kebahagiaan. Dalam hal ini, bahkan seseorang ber-TUHAN pun hanya dalam rangka menghindarkan diri dari masalah.

Kalau kita menghindarkan diri dari masalah hanya untuk menikmati kebahagiaan bagi kita sendiri atau hanya untuk keluarga, orang dekat dan bukannya untuk TUHAN, maka kita menjadi orang yang egois. Kita tidak dapat membagi diri kita dengan orang lain. Maka sebenarnya kita tidak melayani TUHAN, bahkan sebaliknya kita memanfaatkan TUHAN untuk kesenangan kita sendiri. Inilah yang TUHAN Yesus jelaskan sebagai orang yang “menyelamatkan nyawanya” (ay. 25). TUHAN Yesus tegas mengatakan bahwa orang seperti ini akan kehilangan nyawanya.

Orang yang mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri tidak mungkin mengabdi kepada TUHAN. Baginya, TUHAN pun diharapkan dapat mengabdi kepadanya. Kalaupun ia mengambil bagian dalam pelayanan sosial atau kegiatan gereja, sebetulnya itu bukan karena dorongan kasih kepada TUHAN, tetapi usaha “menyuap” TUHAN agar hidupnya diberkati atau setidaknya agar terhindar dari api neraka. Pelayanan seperti ini tidak akan berkualitas, sebab yang diserahkannya kepada TUHAN bukan segalanya, melainkan sekadar “remah-remah” dalam rangka investasi, agar TUHAN memberikan lebih banyak berkat jasmani kepadanya. Orang-orang seperti ini bergereja tetapi tidak ber-TUHAN, tampak ber-TUHAN padahal tidak rohani.

Kita harus selalu menguji, apakah kita berusaha untuk menghindar dari masalah semata, atau sudahkah kita menyadari bahwa bila ingin efektif bagi TUHAN, kita harus tidak bermasalah. Jika hidup kita tidak bermasalah, kita dapat melayani TUHAN tanpa gangguan. Ini semua adalah pelayanan bagi TUHAN secara tidak langsung. Seharusnya kita ber-TUHAN bukan dalam rangka menghindarkan diri dari masalah, tetapi karena TUHAN adalah satu-satunya ALLAH yang benar, yang dikenal dalam pribadi Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Kita menikmati damai sejahtera dari diri-NYA sendiri, dan bukan mencari berkat atau pertolongan-NYA semata.
Read more
0

TUHAN Tidak Perlu Berterima Kasih

Renungan Harian Virtue Notes, 10 Juli 2010
TUHAN Tidak Perlu Berterima Kasih

Seri : Membalas Kebaikan TUHAN

Bacaan : Lukas 17 : 7-10

17:7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."


Dalam Luk. 17:7–10 terdapat kisah mengenai hamba yang bekerja kepada seorang majikan. Majikan tersebut adalah gambaran dari TUHAN, dan hamba tersebut adalah gambaran dari kita. Setelah hamba tersebut melakukan suatu pekerjaan, tidak dikesankan sama sekali bahwa tuannya patut berterima kasih kepadanya (Luk. 17:9). Ini menunjukkan bahwa TUHAN tidak perlu berterima kasih kepada kita, sebab kita memang diciptakan oleh TUHAN untuk melayani DIA. Kita telah ditebus oleh darah Yesus Kristus, sehingga kita bukan milik kita sendiri (1 Kor. 6:19–20).

Orang Kristen yang dewasa akan merasa dan mengakui bahwa ia berutang kepada TUHAN. Sebagai orang yang berutang ia tidak pantas menuntut apa pun dari TUHAN, sebaliknya ia merasa dituntut untuk berbuat sesuatu bagi TUHAN yang telah menanam kebaikan dalam hidupnya. Kita adalah orang yang berutang, seperti budak yang telah dibeli oleh tuan yang baru. Dulu kita adalah budak setan yang diseret ke dalam lautan api kekal, sekarang kita telah menjadi milik TUHAN oleh penebusan darah TUHAN Yesus Kristus untuk dibawa ke dalam Kerajaan-NYA.

Sayang sekali, dewasa ini para pemberita Firman yang tidak mengerti kebenaran banyak mengajarkan bahwa kita boleh menuntut TUHAN, boleh mengklaim janji-janji-NYA. Padahal TUHAN tidak perlu dituntut atau menerima klaim dari manusia, yang sebenarnya tidak memiliki hak apa pun atas kedaulatan TUHAN. Lagi pula, IA tidak akan pernah mengingkari janji-NYA. IA Pribadi Agung yang berintegritas sempurna; tidak perlu dibujuk, diingatkan, apa lagi dipaksa. IA bertanggung jawab atas umat-NYA. Kita tidak perlu dan tidak boleh meragukan TUHAN, apalagi mencurigai-NYA. Sebaliknya kita patut mencurigai diri sendiri, apakah kita mengerti dan menghayati budi baik TUHAN yang tak ternilai dan kita berhasrat untuk membalas-NYA?

Menyadari kebenaran ini, marilah berusaha membalas kebaikan TUHAN dengan melayani DIA semampu-mampunya, segiat-giatnya, sekuat tenaga dan all out sepanjang hidup kita. Dalam pengabdian kepada TUHAN, tidak perlu kita menuntut upah, bahkan ucapan terima kasih, sebab sebanyak apa pun yang dapat kita lakukan, tak akan dapat mengimbangi kebaikan yang telah TUHAN berikan. Dalam hal ini TUHAN Yesus mengajar kita untuk mengatakan bahwa kita adalah hamba yang tidak berguna, yang hanya melakukan apa yang harus kita lakukan (Luk. 17:10). Tidak berguna di sini maksudnya bahwa sebenarnya tanpa kita, TUHAN pun dapat menyelesaikan-NYA sendiri. Kalau TUHAN berkenan kita layani, tidakkah itu anugerah?
Read more
0

Melayani TUHAN Selamanya

Renungan Harian Virtue Notes, 9 Juli 2010
Melayani TUHAN Selamanya

Seri : Membalas Kebaikan TUHAN

Bacaan : Matius 18 : 23-24

18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.


Hutang kita kepada TUHAN adalah utang kehidupan kekal. Seharusnya kita dibuang ke dalam lautan api dan terpisah dari hadirat TUHAN selama-lamanya, tetapi TUHAN Yesus telah menebus kita dengan darah-NYA sehingga kita terbebas dari api kekal.

Kita tidak dapat membalas kebaikan TUHAN. Apa pun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang TUHAN telah lakukan bagi kita. Dalam Mat. 18:24 dikisahkan seseorang yang berutang 10.000 talenta. Satu talenta merupakan suatu jumlah yang besar, yaitu sejumlah 6000 dinar. Upah seorang pekerja pada waktu itu 1 dinar per hari, jadi 6000 dinar adalah upah pekerja selama hampir 17 tahun. Jadi 10.000 talenta setara upah pekerja selama 164.383 tahun! Ini berbicara bahwa apa yang ditanam TUHAN dalam diri kita adalah sesuatu yang mahal dan berharga. Investor Agung itu menginvestasikan modal-NYA yang besar dalam hidup kita, yaitu dengan darah yang ditumpahkan di bukit Golgota untuk membeli atau menyelamatkan kita.

Bagaimanapun kita tidak akan dapat membalas kebaikan TUHAN seimbang dengan apa yang IA telah berikan kepada kita. Bahkan hidup sejuta tahun melayani TUHAN di dunia pun belum dapat mengimbangi kebaikan TUHAN kepada kita. Ada satu langkah yang dapat kita lakukan untuk mengimbangi kebaikan TUHAN yang telah terima, yaitu dengan melayani TUHAN selama-lamanya di Kerajaan-NYA nanti. Untuk ini perlu dijelaskan bahwa Kerajaan Surga bukanlah tempat untuk hanya duduk-duduk tanpa kerja. Surga adalah sebuah aktivitas kehidupan, seperti yang kita alami di bumi. Pola ini tampak jelas ketika TUHAN menciptakan manusia pertama, bahwa mereka harus bekerja. Firdaus bukan tempat untuk tidur-tiduran saja, melainkan ruang kerja manusia pertama. Kerajaan Surga adalah ruang kerja manusia yang diselamatkan dalam Yesus Kristus.

Dalam kekekalan itulah kita dapat membalas kebaikan TUHAN dengan melayani DIA selama-lamanya. Tetapi tidak semua orang akan diperkenankan membalas kebaikan-NYA. Hanya orang-orang yang sekarang ini membalas kebaikan TUHAN dengan melayani DIA lah yang akan diperkenankan untuk melayani-NYA di dalam Kerajaan-NYA nanti. Hidup di dunia ini merupakan sebuah pilihan, apakah kita akan melayani TUHAN selamanya di Kerajaan Surga atau melayani setan dalam kerajaan kegelapan selama-lamanya. Oleh sebab itu panggilan untuk melayani TUHAN, hendaknya tidak ditanggapi sebagai beban, tetapi kesempatan untuk lolos dari api kekal dan masuk dalam pelayanan bagi Sang Maha Raja di Surga.
Read more
0

Menanggalkan Naluri Kemanusiaan

Renungan Harian Virtue Notes, 8 Juli 2010
Menanggalkan Naluri Kemanusiaan

Seri : Membalas Kebaikan TUHAN

Bacaan : 2 Korintus 5 : 14-15

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.
5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.


Kita telah belajar bahwa setiap orang percaya berutang kepada TUHAN, dan satu-satunya cara membalas kebaikan TUHAN adalah dengan hidup oleh Roh. Hidup oleh Roh artinya hidup dalam penurutan terhadap kehendak Roh TUHAN, bukan dalam kendali diri sendiri lagi. Orang yang hidup dalam kendali Roh TUHAN pasti hidup bagi kepentingan TUHAN. Dalam kesaksiannya yang lain, Paulus mengatakan bahwa orang yang sudah ditebus oleh darah TUHAN Yesus adalah orang yang mati bagi dirinya sendiri dan hidup bagi TUHAN (2Kor. 5:14–15).

Tidak hidup menurut daging berarti tidak lagi hidup dalam naluri kemanusiaan. Naluri kemanusiaan adalah pola pikir dan cara hidup yang biasa dimiliki semua orang. Naluri kemanusiaan yang membelenggu manusia ini adalah bersekolah, lalu kuliah, mencari nafkah, menikah, memiliki berbagai fasilitas (rumah, mobil dan lain sebagainya), memiliki keturunan, membesarkan anak, mencarikan jodoh untuk anak, membesarkan cucu dan akhirnya mati. Bila cara hidup seperti ini membelenggu kehidupan seseorang maka ia menjadi korban lingkungan, kualitas hidupnya rendah. Apa bedanya dengan hewan? Ironisnya, justru inilah pola kehidupan yang dimiliki orang pada umumnya. Dorongan yang ada dalam kehidupan orang-orang seperti ini adalah bagaimana mempertahankan hidup dan bila cukup mampu adalah bagaimana meraih kehormatan.

Orang yang sungguh-sungguh mau membalas kebaikan TUHAN akan bersedia menanggalkan pola pikir dan cara hidup yang dianggap wajar oleh orang pada umumnya dan mengenakan cara hidup baru yaitu “hidup oleh Roh”. Hidup dalam penurutan yang mutlak kepada BAPA di Surga. Gerak hidupnya adalah melakukan kehendak BAPA dan menyelesaikan apa yang direncanakan BAPA bagi untuk turut digenapi oleh kita. Jika kita mau membalas kebaikan TUHAN, kita tidak akan mengingini apa yang diingin anak-anak dunia. Cita rasa hidup kita telah berubah menjadi cita rasa hidup bangsawan Surgawi. Memang cara hidup ini akan tampak berbeda, sampai kelihatan agak aneh dalam pandangan orang pada umumnya.

Orang yang mematikan naluri kemanusiaannya adalah orang yang tidak lagi memiliki cita-cita dan visi dari diri sendiri. Apa yang ingin dilakukannya selalu dikonfirmasikan dengan TUHAN. Ia tidak akan melangkah sebelum benar-benar mendapat komando dari TUHAN untuk melangkah. Dalam hal ini doa Bapa Kami terpenuhi, yaitu “Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga” (Mat. 6:10). Inilah yang dapat dikatakan sebagai “mengalir” dengan TUHAN.
Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger