RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Kesadaran Baru

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Desember 2011

Kesadaran Baru



Bacaan: Yohanes 3:1-9


3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.

3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"

3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"



Oleh karena seseorang tidak akan bisa mengalami perubahan dalam jiwanya secara mendadak, untuk mengalami perubahan, harus ada usaha terus-menerus guna perubahan tersebut. Perubahan jiwa atau pewarnaan jiwa harus terjadi secara bertahap dan berkesinambungan; tidak bisa seketika. Tahapan-tahapan tersebut merupakan proses yang sangat alami, bukan melalui suatu mukjizat.


Jangan sampai kita tidak mau mengerti atau tidak mau tahu tentang hal ini, sebab ini berbahaya. Kalau kita puas dengan keberagamaan yang telah kita miliki, padahal kita masih berkedaan jauh dari apa yang diinginkan Tuhan, bisa jadi kita belum mengalami kelahiran baru. Jika kita merasa telah berubah, tetapi perubahannya bukan ke arah yang dikehendaki Allah, kita juga harus mencurigai diri kita sendiri. Jika kita merasa mengalami pembaruan, tetapi di mata Allah sesungguhnya justru pengrusakan, bisa jadi kita membinasakan diri kita sendiri.


“Kamu harus dilahirkan kembali,” demikian Yesus berkata kepada Nikodemus (ay. 7). Kalau kita seorang Malaysia yang ingin menjadi warga negara Indonesia, kita harus memenuhi ketentuan hukum Indonesia untuk menjalani naturalisasi. Kalau kita ingin menjadi warga negara Kerajaan Allah, juga ada ketentuan hukum Kerajaan Allah yang harus kita penuhi. Untuk mengalami kelahiran baru, bukan proses yang instan dan terjadi sekejap mata. Pemikiran bahwa kelahiran baru adalah sesuatu yang ajaib adalah keliru. Ada persyaratannya.


Pemikiran yang salah tentang kelahiran baru yang ajaib dan instan membuat seseorang tidak merasa bertanggung jawab untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Mereka merasa sudah mengalami kelahiran baru karena sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, padahal kelahiran baru adalah keadaan baru dari warna jiwanya; cara berpikir atau memandang hidup ini yang baru. Jadi, kelahiran baru pada dasarnya adalah kesadaran baru. Kalau cara pandang seseorang belum berubah, berarti ia belum mengalami kelahiran baru. Dalam hal ini banyak orang Kristen telah tersesat, tidak mengenali dirinya dengan benar. Mereka merasa sudah lahir baru, padahal belum sama sekali.


Jadi apakah persyaratan untuk mengalami kelahiran baru itu? Persyaratannya adalah mengalami pertumbuhan pengertian akan kebenaran, dan mengalami pertobatan terus-menerus sampai cara kita memandang dunia berubah sama sekali, dan menjadi tidak sama dengan dunia ini (Rm. 12:2).



Kelahiran baru adalah kesadaran baru yang memberikan cara pandang yang baru.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pohon Kehidupan

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Nopember 2011

Pohon Kehidupan



Bacaan: Kejadian 3: 22-24


3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.

3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.



Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih salah satunya, tidak mungkin memilih dua-duanya. Ini sebetulnya sejajar dengan pilihan yang harus dipilih oleh manusia pertama, yaitu memilih makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat atau buah pohon kehidupan.


Mengapa disebut sebagai pohon kehidupan? Pohon kehidupan adalah pohon yang buahnya membuat seseorang tidak mati (ay. 22). Mati di sini maksudnya adalah terpisah dari hadirat Tuhan selamanya. Jadi pohon kehidupan adalah satu dari dua pohon yang merupakan makanan jiwa yang disediakan oleh Allah di Taman Eden.


Itukah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Tentu pernyataan Tuhan Yesus ini tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa; yang disebut manusia adalah semua manusia yang pernah hidup, sejak zaman Adam hingga manusia terakhir kelak.


Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menempatkan beberapa kerub untuk mencegah manusia mengambil buah pohon kehidupan, sebab mereka sudah memilih untuk mengisi jiwanya dengan hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Allah. Pohon kehidupan ini baru akan tersedia kembali bagi orang-orang yang diperkenankan masuk ke dunia yang akan datang (Why. 22:2).


Karena tidak makan buah pohon kehidupan, maka manusia mengalami kematian. Jiwanya tidak dapat diperbaiki, kecuali dengan menghidupkan kembali roh manusia yang mati akibat dosa. Syukur kepada Allah, sebab Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk tujuan itu. Tetapi Ia tidak hidup hanya untuk mati di kayu salib; Ia juga mengajar. Ia ingin mendidik kita. Mengapa? Sebab manusia memiliki jiwa, yang kualitasnya tergantung dari apa yang ditanamkan di dalamnya.


Jadi bagi orang yang diselamatkan pun tidak mungkin jiwanya bisa menjadi sempurna dalam sekejap; sebab pada dasarnya pikiran, perasaan dan kehendak manusia baru bisa eksis lengkap melalui pertumbuhan. Sangatlah logis kalau manusia pertama juga diasuh oleh Allah dengan mengisi jiwanya dengan hal-hal yang benar sesuai dengan standar kebenaran-Nya. Kalau seorang anak manusia dibesarkan oleh orangutan, maka ia berperilaku seperti orangutan. Kita yang selama ini sudah dibesarkan oleh dunia ingin menjadi seperti Bapa, tentu tidak instan; kita harus merelakan diri melalui proses pembelajaran yang panjang.



Kita harus menyediakan diri mengalami pembelajaran supaya bisa mencapai kesempurnaan yang diinginkan Bapa.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Rumput Palsu

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Desember 2011

Rumput Palsu



Bacaan: Yohanes 10:1-5


10:1 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;

10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."



Adam dan Hawa di taman Eden masih perlu mengalami peningkatan. Keadaan mereka belum sempurna secara utuh. Kita mengetahui hal ini sebab kalau Adam dan Hawa diciptakan sudah sempurna dan tidak bisa mengalami peningkatan lagi, berarti Allah telah gagal dalam menciptakan manusia, karena mereka jatuh dan memberontak kepada-Nya. Kalau Allah menciptakan manusia yang tidak bisa jatuh, artinya manusia tidak diberi kehendak bebas, sebab tidak diberi pilihan untuk menentukan sendiri. Untuk itu Ia tidak akan memperingatkan manusia untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.


Jadi tatkala Tuhan memperingatkan agar manusia jangan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat tersebut, manusia dipanggil untuk tidak mengisi pikirannya dari sumber yang lain. Manusia harus membangun pikiran moral dari sudut pandang Tuhan. Berarti kita melihat bukti bahwa Allah tidak gagal dalam menciptakan manusia; Ia berhasil membuat makhluk yang berkehendak bebas sehingga bisa menaati-Nya dan mengasihi-Nya dari hati mereka sendiri.


Dengan memahami bahwa manusia pertama ternyata juga harus mengalami proses pertumbuhan secara moral, maka kita sebagai umat pilihan lebih menyadari tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengenakan kodrat ilahi. Tanggung jawab inilah yang sering diabaikan oleh banyak orang Kristen. Mereka menganggap bahwa menjadi anak Tuhan berarti langsung berkat secara otomatis.


Orang mengira dengan mengaku percaya kepada Kristus, mereka mengantongi tiket untuk memasuki rumput yang hijau dan air yang tenang. Banyak orang tidak teliti memperhatikan, bahwa mereka yang menemukan rumput yang hijau adalah domba yang baik. Domba yang tidak baik, yang tidak mengenal suara gembala, adalah domba yang terhilang. Domba yang hilang mencari rumput lain, sebab tidak puas terhadap rumput yang disediakan oleh gembalanya. Rumput yang disediakan oleh Gembala yang baik dianggap kalah hijau daripada rumput lain yang disediakan oleh gembala yang jahat, sama seperti Hawa yang tergoda untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 3:6). Padahal rumput yang lain itu adalah rumput palsu, berwarna hijau tetapi terbuat dari plastik.


Jangan kita mencoba mencari rumput palsu. Kita harus berprinsip bahwa rumput yang benar adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Itulah satu-satunya kebahagiaan kita. Agar bisa membedakan rumput yang asli dan rumput yang palsu, kita harus terus belajar kebenaran Tuhan.



Kita bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengenakan kodrat ilahi.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Rahasia Di Balik Nama Buah

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Desember 2011

Rahasia Di Balik Nama Buah



Bacaan: Kejadian 2: 9-17


2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

2:10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

2:11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.

2:12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.

2:13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.

2:14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."



Ternyata ada rahasia di balik nama buah yang dilarang Tuhan untuk dikonsumsi oleh manusia pertama di Eden. Menarik sekali untuk mengamati nama buah tersebut, yaitu פְִּרי ×¢ֵ×¥ ×”ַדַּ×¢ַת טוֹב וָרע (perî éts hadda‘ath tov wârâ‘). Artinya “buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Mengapa namanya begitu panjang? Tentu ini bukan sekadar nama, tetapi nama itu sendiri mengandung pesan untuk ditangkap.


Logikanya, nama sebuah buah tentu tidak perlu panjang-panjang dan cukup menunjuk suatu identitasnya, seperti buah zaitun, ara, jeruk, apel dan lain sebagainya. Kalau ada nama buah misalnya “buah kurang tidur membahayakan kesehatan”, tentu itu merupakan sebuah gambaran terhadap fakta tertentu. Demikian pula dengan nama buah yang dilarang untuk dimakan oleh Tuhan, adalah buah yang mengandung pengertian atau pengetahuan. Kalau manusia mengonsumsi pengetahuan yang baik dan jahat yang tidak boleh dikonsumsi, berarti ia melanggar kehendak Tuhan.


Ada dua jenis buah di taman Eden, sesuai dengan yang diinformasikan Alkitab. Jenis pertama adalah berbagai buah-buahan yang baik untuk dimakan, dan jenis kedua adalah dari dua pohon yang ditempatkan Tuhan di tengah Taman Eden, yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (ay. 9). Pohon jenis pertama tadi merupakan konsumsi jasmani, atau untuk tubuh manusia. Tetapi pohon jenis kedua tadi tidak dikonsumsi oleh tubuh; kita harus lebih memahaminya sebagai makanan untuk jiwa.


Daud juga memahami dua jenis makanan ini. Dalam Mazmurnya ia menulis tentang rumput yang hijau dan air yang tenang sebagai konsumsi tubuh (Mzm. 23:2), tetapi juga ada hidangan yang disediakan di depan lawan kita (Mzm. 23:5) yaitu makanan jiwa.


Dengan dua buah untuk konsumsi jiwa ini, manusia pertama di Eden diperhadapkan kepada pilihan, apakah mengonsumsi buah pohon kehidupan, yaitu kebenaran yang Tuhan ajarkan, atau mengkonsumsi buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yaitu kepalsuan yang diajarkan oleh kuasa kegelapan. Luar biasa bahwa pergumulan manusia pertama bukan sekadar makanan jasmani melainkan makanan jiwa. Dalam hal ini pergumulan Adam merupakan pergumulan mengenai apa yang akan mengisi jiwanya. Hari ini kita juga masih mengalami pergumulan yang serupa: buah apa yang kita makan untuk konsumsi jiwa kita?



Pergumulan Adam untuk menentukan apa yang mengisi jiwanya merupakan gambaran mengenai pergumulan kita sekarang.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tuntutan Yang Lebih Tinggi

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Desember 2011

Tuntutan Yang Lebih Tinggi



Bacaan: Matius 5:48


5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."



Sebelumnya kita telah melihat bahwa orang-orang non-Kristen juga dapat menjadi orang-orang yang mengalami pembentukan karakter dan perubahan diri untuk menjadi cemerlang (Ayb. 23:10). Itu terjadi bagi mereka yang tidak menerima keselamatan dalam Yesus Kristus.


Kalau mereka yang tidak mengenal Kristus dapat memenuhi Taurat, baik yang tertulis sebagai kitab maupun dalam loh hati, dan bisa menjadi baik, terlebih lagi kita. Di dunia yang akan datang, mereka mungkin diperkenankan menjadi anggota masyarakatnya; tetapi kita diperkenankan menjadi anggota kerajaan. Itulah sebabnya standar bagi kita bukanlah sekadar baik, melainkan sempurna.


Untuk ini setiap kita harus menganggap bahwa panggilan untuk menjadi sempurna ini adalah hal yang wajar. Kalau tuntutan ini kita pandang wajar, maka kita akan lebih bersemangat untuk mencapainya. Kita dihindarkan dari mental block, berupa perasaan bahwa kita tidak bisa mencapainya, padahal belum mencobanya. Itu namanya kalah sebelum berperang.


Penjelasan pada hari-hari sebelumnya hanya ingin membandingkan kehidupan orang Kristen yang sejati dengan mereka yang hidup di luar Injil. Kalau mereka bisa mencapai kesalehan hidup sedemikian tingginya, maka kita harus memiliki kualitas hidup yang jauh lebih tinggi dari kualitas hidup mereka.


Sebagai calon pejabat di Kerajaan Allah, kita dituntut untuk memiliki iman yang sempurna, berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dituntut untuk memiliki kasih yang sempurna, yaitu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7) sebab Allah kasih adanya (1Yoh. 4:8).


Dengan hal ini tampaklah betapa tinggi tuntutan yang dikenakan kepada semua orang percaya. Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi orang Kristen yang sejati, sebab mereka harus sempurna seperti Bapa di Surga. Memang bagi orang Kristen yang sejati, yang mau melalui proses sekolah kehidupan untuk mencapai kesempurnaan ini, tidak ada lagi penghukuman (Rm. 8:1). Tetapi kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita di takhta pengadilan Kristus untuk memperoleh apa yang patut kita terima. Hendaklah dengan renungan ini kita semakin terpacu untuk menjadi orang Kristen yang sejati, dengan lebih serius mengikut Dia.



Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk lebih daripada sekadar baik; kita dituntut untuk sempurna.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tidak Bisa Memaksa

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Desember 2011

Tidak Bisa Memaksa



Bacaan: Kejadian 4:6-7


4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?

4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."



Selama ini banyak orang Kristen berpendirian bahwa orang-orang yang tidak menjadi umat pilihan Allah—baik orang Yahudi, umat pilihan Allah secara jasmani, dan orang Kristen, umat pilihan Allah secara rohani—tidak bisa berbuat baik. Semua orang yang jatuh ke dalam dosa tidak bisa berbuat baik sama sekali. Pandangan ini sangat naif dan picik, sebab kenyataannya Ayub yang bukan orang Yahudi dan bukan orang Kristen pun memiliki kesalehan yang lebih dari orang lain pada zamannya. Dapatkah kita membantah pernyataan Alkitab bahwa Ayub seorang yang saleh dan jujur? Orang saleh seperti Ayub sebagai kekasih Tuhan mustahil tidak masuk dunia yang akan datang. Dunia yang akan datang adalah milik Tuhan yang diperuntukkan bagi semua orang yang tertulis dalam kitab kehidupan.


Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, apakah Iblis memaksa mereka untuk berbuat jahat? Perhatikan kisah Kain, anak Adam. Manakala Kain berniat menjahati adiknya, Tuhan tidak tinggal diam. Dengan kesabaran, Ia berkata kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”


Dari sabda Tuhan ini jelaslah bahwa sekalipun sudah jatuh ke dalam dosa, Kain sebenarnya masih bisa menghindarkan dirinya dari kesalahan fatal, yaitu tindakan pembunuhan. Kain masih bisa berkuasa atas dosa dan memilih untuk melakukan apa yang baik. Namun Kain menolak untuk mendengarkan Tuhan, dan akhirnya membunuh adiknya.


Perbuatan Kain tersebut bukan hasil paksaan Iblis. Sebagaimana Tuhan tidak bisa memaksa Kain untuk berbuat baik, Iblis juga tidak bisa memaksa orang untuk berbuat jahat. Semua perbuatan, baik maupun buruk, merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri.


Taurat yang tertulis dalam hati manusia (Rm. 2:12–15) seharusnya menyanggupkan seseorang berbuat yang baik menurut ukuran manusia Perjanjian Lama. Itulah sebabnya di akhir zaman nanti ada penghakiman berdasarkan perbuatan (Why. 20:12). Ini berbeda dengan orang percaya, yang menghadap takhta pengadilan untuk menerima apa yang pantas diterimanya (2Kor. 5:10) berdasarkan standar pengikut Kristus, yaitu kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48). Ini berarti setiap orang menetapkan nasibnya sendiri dari tindakan dan pilihannya.



Baik Tuhan maupun Iblis tidak memaksa manusia; setiap manusia bertanggung jawab atas tindakan dan pilihannya sendiri.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Semua Orang Mengalami Pencobaan

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Desember 2011

Semua Orang Mengalami Pencobaan



Bacaan: 1 Korintus 10:13


10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.



Ayub mengalami pencobaan yang sangat berat dalam hidupnya, namun melalui segala pencobaan itu, Tuhan meningkatkan kualitas hidup Ayub. Dengan demikian kita tahu bahwa Tuhan juga memproses orang-orang non-Yahudi untuk memiliki kelayakan di hadapan Tuhan—tentu dengan ukuran manusia Perjanjian Lama.


Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Perhatikan, dikatakan kekuatan manusia, bukan kekuatan anak Tuhan. Ini menunjukkan bahwa semua manusia juga mengalami pencobaan, bukan hanya orang-orang percaya. Jika kita memperhatikan kehidupan orang-orang lain di sekitar kita, pada kenyataannya mereka juga mengalami berbagai persoalan hidup yang disebut sebagai pencobaan. Masalahnya adalah bagaimana setiap individu memperlakukan sesamanya di tengah segala pergumulan hidupnya.


Misalnya, dalam Luk. 16:19–31 dikisahkan tentang seorang kaya yang mendapat pencobaan, yaitu kehadiran seorang pengemis bernama Lazarus di depan rumahnya. Bagaimana ia memperlakukan Lazarus, itulah yang memberi nilai atas hidupnya. Sayang sekali ia tidak memperlakukan Lazarus dengan baik, sehingga tidak pernah menikmati kenyamanan di balik kuburnya.


Si orang kaya ini berbeda dengan orang-orang yang digolongkan Tuhan sebagai domba dalam Mat. 25:31–46. Mereka menolong orang lapar, bertelanjang, di penjara dan lain sebagainya. Perlakuan mereka terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan atau orang-orang yang menderita tersebut disejajarkan dengan perlakuan mereka terhadap Tuhan. Harus diperhatikan dengan seksama di sini bahwa diperkenankannya mereka untuk bisa bersama dengan Tuhan bukan karena iman, melainkan karena perbuatan baik atau kasih. Tentu ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mendengar Injil.


Jadi kita tahu bahwa Tuhan juga menggarap orang-orang di luar Yahudi dan juga di luar Kekristenan melalui segala pencobaan. Tuhan yang adil memperlakukan mereka dengan adil; sekalipun Ayub bukan orang Yahudi dan tidak pernah mengenal Kristus yang hadir ribuan tahun sesudahnya pun kita dapat berkata bahwa Ayub pun masuk surga. Tentu di dunia ini masih banyak Ayub-ayub lain yang bertebaran di segala tempat; masakan kita tidak bertemu mereka di dunia yang akan datang kelak?



Tuhan yang adil memperlakukan semua manusia dengan adil, dan menggarap mereka juga melalui segala pencobaan.



Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger