RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Kemenangan Yang Sejati

Renungan Harian Virtue Notes, 28 Maret 2011

Kemenangan Yang Sejati



Bacaan: Roma 8: 17-39


8:17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

8:29. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

8:31. Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?

8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

8:36 Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan."

8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.



Kita lebih daripada pemenang (ay. 37). Ungkapan ini kerap disebut-sebut dalam khotbah dan menjadi muatan syair lagu yang digubah oleh komponis lagu-lagu rohani. Tetapi kita biasanya menerima kata “menang” itu tanpa mendalami artinya.


Kata “menang” artinya mengatasi lawan, mengungguli musuh, lulus, menaklukkan. Jadi pemenang artinya orang yang mengatasi lawan, mengungguli musuh, lulus dan menaklukkan lawannya. Kalau demikian, seseorang bisa dikatakan sebagai pemenang kalau sudah bergumul melawan musuh atau menghadapi ujian.


Mari kita perhatikan dengan teliti dan seksama teks ini. Dalam konteks apa Rasul Paulus berbicara mengenai kemenangan? Untuk memahami ini, kita harus memperhatikan tulisannya secara lengkap. Ia mengatakan bahwa kita adalah umat pememang karena kita adalah ahli waris Kerajaan Surga (ay. 17). Oleh kemenangan Yesus di kayu salib, Ia bisa menyediakan langit baru dan bumi baru, yaitu Kerajaan-Nya; tetapi kita harus menderita bersama dengan-Nya untuk mewarisi kemuliaan Kerajaan-Nya itu (ay. 17–18). Untuk menerima warisan itu butuh proses (ay. 28–30) dan itu bukan proses yang sederhana. Dalam proses itu, sangat mungkin orang percaya menghadapi keadaan keuangan yang sulit, penindasan, kesesakan atau penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang. Tetapi hal itu seharusnya tidak membuat orang percaya menjadi murtad meninggalkan Tuhan atau lemah dalam pengiringannya kepada Majikan Agungnya (ay. 35-36).


Jadi keadaan-keadaan yang sulit bukanlah kekalahan. Justru ketika dihadapkan dengan keadaan-keadaan yang sulit itu, kita tetap setia kepada Tuhan, sehingga oleh kasih-Nya kita beroleh kemenangan yang gemilang atas Iblis dan dosa. Dengan demikian kita baru bisa disebut lebih daripada pemenang.


Perhatikan sejarah bangsa Israel. Tuhan tidak sulit untuk menaklukkan Mesir dengan kuasa-Nya, tetapi ternyata Ia menghadapi kesulitan untuk menaklukkan watak atau karakter bangsa itu. Itulah sebabnya Tuhan harus membawa bangsa itu berkelana selama 40 tahun di padang gurun. Ini sama dengan keadaan kita. Tuhan tidak sulit untuk memberkati kita dengan berkat jasmani dan berbagai keberhasilan dalam hidup, tetapi untuk menghancurkan hati kita yang menjadi pangkalan Iblis agar dapat diubah menjadi berkarakter yang menyukakan hati-Nya, kita harus melalui proses yang menyakitkan. Dalam proses yang menyakitkan tersebut kita yakin Kristus tetap mengasihi kita. Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah kita tetap bersedia mengasihi Dia dengan segala pengorbanan kita?



Kita lebih daripada pemenang jika tetap setia mengasihi Tuhan dalam keadaan-keadaan yang sulit.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kemenangan Palsu

Renungan Harian Virtue Notes, 27 Maret 2011

Kemenangan Palsu



Bacaan: Efesus 6: 10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Salah satu topik khotbah yang kerap diperdengarkan adalah kehidupan Kristen sebagai pemenang, dengan mengalahkan dunia. Diajarkan bahwa mengalahkan dunia berarti dapat menghindarkan diri dari masalah-masalah kehidupan. Tanda-tandanya misalnya selalu dengan cepat menyelesaikan masalah dengan kuasa Tuhan, keadaan keuangan yang memadai bahkan berlimpah-limpah, fasilitas yang cukup bahkan mewah, terhormat di mata orang lain, menonjol dalam bidang-bidang kehidupan yang digumuli orang, kalau sakit segera disembuhkan oleh mukjizat Tuhan, dan sebagainya.


Konsep kemenangan seperti ini adalah salah dan dapat menyesatkan. Oleh sebab mengadopsi konsep kemenangan palsu inilah banyak orang Kristen tidak mengerti bagaimana menjalani hidup Kekristenannya. Mereka yang mengalami kesuksesan duniawi merasa sudah benar di mata Tuhan, sementara mereka yang tidak sukses menjadi frustasi dan menyalahkan diri. Lebih konyol lagi mereka bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan, “Mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa Tuhan memberi kemenangan kepada orang lain, tetapi tidak memberi kemenangan kepadaku?” Persungutan seperti inilah yang dilakukan oleh bangsa Israel saat berkelana di padang gurun. Mereka tidak mengerti untuk apa Tuhan membawa mereka ke padang gurun; yang pasti, bagi mereka itu tidak mengenakkan mereka.


Menang atas masalah-masalah kehidupan bukanlah kemenangan yang sejati, sebab masalah-masalah itu semata-mata merupakan dampak atau akibat dari dosa manusia. Kita harus sadar bahwa masalah seperti kemiskinan atau sakit-penyakit bukanlah musuh utama orang percaya.


Alkitab jelas menunjukkan bahwa musuh kita adalah kuasa kegelapan, yaitu si Iblis (ay. 11–12). Tuhan memberikan perlengkapan senjata Allah agar kita dapat melawan Iblis. Senjata-senjata tersebut memungkinkan kita bertahan saat ada penyerangan rohani Iblis terhadap kita. Dengan demikian bahaya Iblis bukanlah saat ia merusak jasmani kita—ekonomi, kesehatan, fasilitas hidup kita—melainkan ketika ia berhasil merusak rohani kita, menghambat pertumbuhan karakter Kristus dalam diri kita. Caranya bisa dengan tipu muslihat melalui berbagai keinginan duniawi. Kalau seseorang menyia-nyiakan karya keselamatan Kristus, maka Iblis menang.


Maka janganlah kita puas dengan kemenangan palsu, tetapi kita harus sadar bahwa kita baru dapat dikatakan menang apabila kita mampu melakukan kehendak Bapa, bertumbuh dalam Kristus, dan tidak jatuh oleh tipu muslihat Iblis.

Bahaya terbesar Iblis adalah saat ia menghambat pertumbuhan karakter Kristus dalam diri kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Harus Belajar

Renungan Harian Virtue Notes, 26 Maret 2011

Harus Belajar



Bacaan: Ibrani 2: 3-11

2:3 bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan

2:4 Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.

2:5. Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.

2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,

2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

Dengan menyadari fakta bahwa Iblis masih kuat dan masih berdaya guna membinasakan manusia, maka kita akan bersikap lebih berjaga-jaga. Kita harus sadar bahwa kita ada dalam peperangan melawan Iblis. Seperti kata Sun Tzu dalam bukunya Seni Berperang (The Art of War), untuk memenangkan 100 pertempuran kita harus mengenal musuh kita dan mengenal diri kita sendiri.


Dengan menganggap Iblis sudah lemah dan tidak berdaya, itu berarti kita tidak mengenal musuh kita. Tetapi lebih parah lagi, banyak orang Kristen bahkan tidak mengenal dirinya sendiri, sebab mereka merasa sudah menang dengan masih ke gereja dan melakukan kegiatan yang tidak melanggar moral. Padahal itu belum dapat dikatakan sudah menang di dalam Tuhan. Ukurannya bukan demikian.


Kita ada dalam sekolah kehidupan. Mari berpikir dalam metafora sekolah ini. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib mengalahkan kuasa kegelapan adalah keberhasilan-Nya untuk bisa memberikan potensi kepada manusia kembali kepada rancangan Allah yang mula-mula. Ini kita bayangkan bagai keberhasilan orang tua dalam bisnisnya, yang memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk bisa mengikuti pendidikan di sekolah yang terbaik dengan biaya yang sangat tinggi.


Di sekolah yang semakin berkualitas, tugas-tugasnya semakin beragam, dan pelajarannya lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan pelajaran di sekolah biasa. Apa tanggung jawab anak-anaknya? Mereka harus belajar dengan baik, karena merekalah yang bersekolah. Memang orang tua yang membayar biaya sekolah, tetapi tidak boleh mengerjakan tugas-tugas sekolah anaknya. Bayangkan apa yang terjadi bila selain membiayai sekolah, ternyata orang tua juga mengerjakan tugas anaknya sementara anak-anaknya bebas jalan-jalan, main game, main futsal dan Internetan. Bisakah anak-anak itu disebut menang?


Nyatanya tindakan anak-anak yang tidak bertanggung jawab itulah yang dilakukan oleh banyak orang Kristen kepada Tuhannya. Mereka menganggap setelah menjadi Kristen, semuanya ditanggung oleh Tuhan Yesus dan mereka langsung menjadi pemenang. Toh Iblis sudah tidak berdaya, sehingga mereka bebas melakukan apa saja dan tidak perlu belajar meningkatkan kesucian hidupnya.


Apabila kita masih berpikir seperti demikian, kita harus bertobat. Anak-anak sekolah baru bisa dikatakan menang apabila mereka mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik serta lulus ujian dengan baik, oleh kemampuannya sendiri. Maka kita masih harus belajar, dididik Tuhan; dan kalau nakal, dihajar oleh-Nya.

Kita harus belajar dalam sekolah kehidupan untuk meningkatkan kesucian hidup kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Masih Sangat Berbahaya

Renungan Harian Virtue Notes, 25 Maret 2011

Masih Sangat Berbahaya



Bacaan: 1 Petrus 5: 8; Efesus 4: 27


1 Petrus 5: 8

5:8. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.


Efesus 4: 27

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.



Salah satu bahaya yang tidak disadari dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini adalah terlalu meremehkan Iblis, menganggap Iblis tidak berdaya lagi, sudah kalah. Lagu-lagu yang dinyanyikan di banyak gereja hari-hari ini memuat syair-syair yang mengesankan bahwa iblis tidak perlu diwaspadai, karena Yesus sudah menang.


Menganggap Iblis tidak berdaya membuat orang Kristen menjadi tidak waspada terhadap gerakan kuasa kegelapan yang cerdik. Rasul Petrus menyatakan bahwa Iblis berjalan keliling, sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1Ptr. 5:8). Kalau Iblis masih berjalan keliling, tentu belum knocked out, belum tergeletak tak berdaya.


Rasul Paulus juga mengingatkan jemaat bahwa orang percaya harus waspada agar tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). “Kesempatan” dalam teks aslinya adalah τόπος (tópos) yang artinya “pangkalan” atau “tempat berpijak”. Berarti Iblis masih bisa berpijak dalam kehidupan orang percaya.


Dalam Efesus 4:17, Paulus juga mengingatkan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang telah mengenal Allah bisa hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Jadi, ada orang-orang Kristen yang telah berubah sebagai orang-orang yang telah mengenal Allah, tetapi oleh karena sesuatu maka ia bisa kembali hidup seperti sebelum mengenal kebenaran.


Dengan demikian harus dimengerti bahwa kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib bukan berarti Iblis telah dibuat-Nya tidak berdaya sama sekali. Para rasul menasihati jemaat agar waspada, sebab Iblis masih sangat berbahaya.


Tuhan Yesus juga menyatakan bahwa bisa terjadi kemungkinan bahwa orang yang telah menerima pelepasan dari kuasa kegelapan dapat kembali dikuasai kuasa kegelapan yang lebih banyak, sehingga keadaannya menjadi lebih parah (Mat. 12:43–45). Peringatan Tuhan jelas, bahwa kuasa kegelapan dapat memobilisasi pasukannya untuk membinasakan kehidupan seseorang.


Maka kita harus sadar bahwa sekalipun Kristus sudah menang, Iblis masih memiliki peluang untuk merebut manusia guna menjadi miliknya, agar suatu hari nanti bersama menghuni kerajaan kegelapan. Oleh karena bahaya ini, Tuhan Yesus berdoa untuk murid-muridnya agar Bapa melindungi mereka dari yang jahat. Tentu doa ini masih berlaku bagi kita sekarang, bahwa kita harus memberi diri hidup dalam tuntunan Bapa di Surga agar tidak terjangkiti kejahatan.



Kita harus waspada, sebab Iblis masih sangat berbahaya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Zona Berbahaya

Renungan Harian Virtue Notes, 24 Maret 2011

Zona Berbahaya



Bacaan: Lukas 16: 19-31


16:19. "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."



Saat seseorang terlepas dari segala miliknya, barulah ia menyadari kebutuhan yang sesungguhnya dalam hidup ini. Inilah yang terjadi pada orang kaya yang dikisahkan dalam cerita Yesus mengenai orang kaya dan Lazarus. Kehausan yang dimilikinya tentu bukan haus akan air, melainkan Tuhan sebagai Air Kehidupan.


Sesungguhnya jiwa manusia didesain untuk menjadi kekasih abadi Tuhan. Manusia adalah makhluk kekal, berarti kalau terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya sama dengan mati, binasa sekalipun jiwanya hidup selama-lamanya sebab ia menjadi tidak bernilai. Sementara yang dimaksud dengan “hidup kekal” adalah hidup yang berkualitas tinggi, hingga bersama Tuhan selama-lamanya.


Tingkatan kualitas untuk memiliki hidup kekal bagi umat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbeda. Kalau seseorang masuk ke dalam zaman Perjanjian Baru, harus berani meninggalkan segala sesuatu agar memiliki hidup yang berkualitas yang dijanjikan Tuhan (Mat.19:27–30).


Hanya segelintir manusia di Perjanjian Lama yang menyadari dan mengalami hal ini, karena itu sungguh suatu anugerah kalau kita diperkenankan hidup pada masa di mana kita bisa dipulihkan menjadi anak-anak Allah. Umat Perjanjian Lama tidak bisa dipulihkan, sebab mereka tidak memiliki hak seperti yang dimiliki umat Perjanjian Baru. Hak ini memuat pelepasan dari pemilikan kuasa kegelapan, anugerah Roh Kudus, Firman Kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus atau Injil, penggarapan Tuhan dan pemeliharaan-Nya.


Raja-raja dan nabi-nabi di Perjanjian Lama rindu mengalami hidup kekal yang diberikan oleh sang Mesias. Kita yang sudah mengenal Sang Mesias, harus mengenal damai sejahtera yang diberikan. Tanpa mengetahui apa yang diperlukan untuk damai sejahtera-Nya, kita tidak akan memperoleh hidup kekal yang dirindukan oleh raja-raja dan nabi dalam Perjanjian Lama.


Mengapa orang tidak tahu apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka? Salah satu penyebab utama adalah percintaan dunia. Orang yang masih menghargai miliknya secara tidak proporsional tidak akan mampu mengerti apa artinya kebutuhan hidup ini. Inilah yang dicontohkan dengan orang kaya dalam cerita ini. Ia menikmati dunia sampai melupakan Tuhan dan tidak memperhatikan keselamatan orang lain. Jangan lupa, cinta akan uang adalah akar segala kejahatan (1Tim. 6:10). Bila kita masih dalam posisi hidup mencintai dunia, kita berada di zona yang sangat berbahaya. Keluarlah dari zona itu, dan utamakan kehadiran Tuhan.



Keluarlah dari zona berbahaya, dan tinggalkan segala sesuatu untuk meraih hidup yang kekal.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kehidupan Yang Dipersembahkan

Renungan Harian Virtue Notes, 23 Maret 2011

Kehidupan Yang Dipersembahkan



Bacaan: Matius 16: 21-23


16:21. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."

16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."



Petrus menegur Yesus saat Ia mengatakan bahwa diri-Nya akan menanggung penderitaan dan dibunuh. Pikiran Petrus logis dari sudut pandang manusia; apalagi kata para motivator yang mengajarkan berpikir positif (positive thinking), mana boleh orang mengatakan hal negatif tentang dirinya sendiri? Tapi reaksi Yesus sangat berbeda. Ia malah mengatakan kepada Petrus, “Enyahlah Iblis!” (ay. 23).


Dari fragmen ini kita belajar bahwa kebenaran Tuhan sering berbeda dengan kebenaran yang dipahami manusia pada umumnya. Maka untuk dapat mewujudkan hidup untuk kemuliaan Tuhan semata-mata, atau hidup bagi Tuhan, kita harus mulai mengenal kebenaran Tuhan yang bertalian dengan tujuan hidup manusia, bahwa hidup ini memang hanya untuk Sang Pencipta kita.


Kita tidak boleh mengikuti pola hidup manusia pada umumnya, yaitu hidup untuk diri sendiri dan orang-orang yang mereka cintai secara terbatas. Inilah irama hidup yang diinginkan kuasa kegelapan untuk dimiliki manusia, sebab seperti Tuhan Yesus menegur Petrus, pikiran manusia yang bukan dari Allah adalah pikiran Iblis. Pikiran Allah akan membawa seseorang kepada tujuan hidup yang benar.


Kalau kita sudah mengerti tujuan hidup yang benar dan menerimanya dengan sukacita, kita tidak perlu memaksa diri untuk berusaha mengingat bahwa semua yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, tetapi irama hidup kita sudah merupakan gerak melakukan segala sesuatu hanya bagi Tuhan.


Ciri-ciri dari kehidupan seperti ini adalah pertama, berusaha mengerti dan melakukan Firman Tuhan. Kedua, saat menjalankan profesi, akan berusaha meletakkan kegiatan dalam terang Firman Tuhan. Otomatis kita tidak akan melakukan pekerjaan atau profesi yang bertentangan dengan etika kehidupan. Ketiga, selalu melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan. Keempat, tidak menyukai hiburan-hiburan dunia seperti yang dicari oleh anak-anak dunia. Kelima, merasa puas dengan fasilitas hidup yang telah dimilikinya; tidak lagi menjadi korban iklan dan semangat konsumerisme tanpa batas (afluenza). Keenam, tidak lagi terikat dengan penampilan lahirah, yang biasanya dihiasi dengan baju modis dan perhiasan. Ketujuh, berusaha menemukan tempat yang konkret dalam pelayanan pekerjaan Tuhan; berusaha berperan dalam pelebaran Kerajaan Allah, pelaksanaan Amanat Agung Tuhan dan proses penyempurnaan orang percaya bagi Tuhan.


Mari kita belajar untuk rela mempertaruhkan seluruh hidup kita tanpa batas bagi Tuhan, sehingga ini bukan menjadi beban, melainkan suatu kehormatan.



Kalau kita mengerti tujuan hidup yang benar, melakukan segala sesuatu hanya bagi Tuhan harus menjadi irama hidup kita.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Selalu Untuk-Mu

Renungan Harian Virtue Notes, 22 Maret 2011

Selalu Untuk-Mu


Bacaan: 1 Korintus 10: 31


10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.



Dalam suatu acara pendalaman Alkitab, seorang pemuda mengemukakan suatu pertanyaan, “Bagaimana hidup untuk kemuliaan Tuhan, hidup bagi Tuhan?” Ia mengaku, barangkali dari banyak kegiatan hidupnya setiap hari, hanya satu atau dua kegiatan hidupnya saja yang dilakukannya dengan memikirkan Tuhan, atau menunjukkan kegiatan itu untuk-Nya. Biasanya kegiatan-kegiatan itu yang disebut “kegiatan rohani”, seperti berdoa, membaca Alkitab, membaca renungan harian atau pergi ke gereja. Pertanyaan jujur pemuda ini menunjukkan pergumulannya untuk mewujudkan hidup bagi Tuhan atau hidup untuk kemuliaan-Nya.


Kalau mau jujur, sebenarnya pertanyaan ini juga ada dalam benak banyak orang; bukan hanya orang muda, melainkan termasuk orang tua. Banyak orang belum mengerti, bagaimana merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan baik itu. Sayangnya banyak dari mereka tidak pernah mempersoalkannya dengan serius, karena menganggapnya abstrak. Lebih parah lagi kalau ada orang yang menganggapnya mustahil untuk dilakukan.


Barangkali kita pernah berpikir, “Enak saja hidup bagi orang lain; bagi diri sendiri saja masih kurang.” Kalau ini masih tebersit dalam pikiran kita, kita harus segera bertobat dan berubah. Jika tidak, kita tidak akan mengalami bagaimana memiliki hidup yang benar, hidup yang berkualitas tinggi, hidup yang akan berkelanjutan di langit dan bumi baru.


Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya saja yang akan berlanjut di kekekalan. Orang yang hidup bagi dirinya sendiri, dengan rumus “Selalu untukku” tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Mereka selalu membuka mata, mengangakan mulut, ingin memuaskan hasratnya dan meraih sebanyak-banyaknya.


Kalau masih mengejar keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, mustahil seseorang dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budinya. Keinginan daging artinya mencari kepuasan diri dalam dagingnya, keinginan mata artinya hasrat memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani, dan keangkuhan hidup adalah pengharapan untuk kehormatan dari orang lain.


Di manakah posisi kita hari ini? Jika belum pada posisi yang benar, segeralah berbalik dan bertobat. Besok kita akan mempelajari bagaimana ciri-ciri hidup yang hanya bagi Tuhan dan mempersembahkan segalanya bagi Tuhan, sehingga dalam kehidupan kita ada asas, “Selalu untuk-Mu”.



Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan saja yang akan berlanjut di kekekalan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger