RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Respons

Renungan Harian Virtue Notes, 14 Maret 2011

Respons



Bacaan: Galatia 6: 7-8


6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.



Kalau kita memperhatikan fakta dalam Alkitab, setiap tindakan Tuhan selalu diimbangi juga oleh respons manusia. Ini berarti Tuhan selalu menghendaki manusia meresponi tindakan-Nya. Apabila kita beranggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dikerjakan oleh Tuhan sendiri tanpa membutuhkan respons atau tindakan manusia, maka kehidupan ini menjadi fatalistik dan tidak menarik karena tidak ada tantangan. Tidak perlu ada pergumulan dalam arti sesungguhnya, sebab manusia hanya menerima apa yang telah ditakdirkan baginya. Tidak ada tanggung jawab, sebab manusia tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang tidak disebabkannya.


Alkitab yang berulang-ulang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung-jawab atas setiap tindakannya, dari ucapan mulut, perilaku yang kelihatan sampai sikap batinnya. Manusia adalah makhluk bebas—walau terbatas—yang tetap dituntut untuk meresponi apa yang Tuhan tawarkan kepadanya.


Sebagaimana Alkitab mengatakan, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Ini hukum tabur-tuai yang tidak dapat dibantah. Apabila kita menabur gandum, kita akan menuai gandum, tidak mungkin menuai lalang. Apabila kita menabur jelai, kita akan menuai jelai, bukan rumput. Apabila kita menabur benih yang bagus, kita akan menuai panen yang bagus. Apabila kita menabur banyak, kita akan menuai banyak. Apabila kita tidak menabur, kita tidak akan menuai apa-apa.


Hukum ini jelas menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab terhadap apa yang disebabkannya. Siapa saja yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh (ay. 8).


Berarti manusia yang harus memilih jalannya, taat kepada Tuhan atau memberontak kepada-Nya, dan ia harus memikul akibat keputusannya tersebut. Betapa luar biasanya kenyataan ini, bahwa Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang dapat meresponi panggilan-Nya, bukan hanya boneka atau robot.



Manusia harus bertanggung jawab terhadap respons yang diambilnya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
2

Dipilih Dan Ditentukan

Renungan Harian Virtue Notes, 13 Maret 2011

Dipilih Dan Ditentukan



Bacaan: Efesus 1: 4-5


1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,



Bagaimana cara kita memahami pernyataan Rasul Paulus ini? Dalam kedua ayat ini terdapat dua kalimat yang menjadi sumber perdebatan teologis hebat di sepanjang sejarah gereja. Paulus mengatakan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu sebelum dunia dijadikan, dan Ia juga telah menentukan orang-orang itu dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya.


Penjelasan yang umum kita dengar, dan juga merupakan penjelasan termudah untuk persoalan ini adalah, Allah menentukan siapa manusia yang akan selamat. Kalau jawabannya hanya demikian, maka kita tidak jujur mengakui, bahwa lebih banyak ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa respons manusia dalam menanggapi anugerah Tuhan juga berperan.


Kita tidak perlu terkejut kalau Paulus menyatakan Allah menentukan, sebab sebagai orang-orang yang telah meresponi anugerah Tuhan dan kita telah menjadi anak-anak-Nya, kita sangat yakin bahwa kitalah orang yang dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kekasih-kekasih-Nya.


Untuk memahami kata “dipilih dan ditentukan”, kita tidak boleh memandangnya secara terlalu sederhana; tetapi harus dari berbagai dimensi atau pandangan. Pertama, pemilihan dan penentuan itu tidak boleh diartikan sebagai langkah Tuhan menunjuk siapa yang selamat tanpa pertimbangan apa pun. Tuhan kita adalah Allah yang bijaksana, yang tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Berarti memang Ia menginginkan orang untuk diselamatkan, tetapi tidak mungkin merancang seseorang untuk binasa.


Kedua, hal memilih dan menentukan siapa yang akan diselamatkan adalah urusan Allah yang Mahatinggi. Kita tidak akan mampu menganalisis kebijaksanaan-Nya, sebab itu di luar kemampuan kita mengerti. Maka kita tidak boleh menyamakan kualitas pemilihan Tuhan dengan kualitas manusia.


Dalam kemahakuasaan-Nya, Allah telah bertindak berdasarkan kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Karena itu, seseorang diselamatkan karena pemilihan dan penentuan Allah yang Mahabijaksana, bukan karena Allah memilih sesuka-Nya sendiri tanpa pertimbangan apa pun. Oleh sebab itu kita harus membatasi diri di bagian kita, bahwa yang harus kita lakukan adalah percaya kepada Tuhan Yesus, bertobat, belajar Firman Tuhan, terus bertumbuh dan melayani Tuhan. Dengan melakukannya, kita yakin bahwa kita termasuk orang yang dipilih-Nya.



Kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup menurut kehendak-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Sarana Penyelamatan

Renungan Harian Virtue Notes, 12 Maret 2011

Sarana Penyelamatan



Bacaan: 1 Petrus 1: 18-19


1:18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,

1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.



Allah menciptakan makhluk yang sangat baik, bukan makhluk setengah baik. Itulah gambaran manusia saat pertama kali diciptakan-Nya. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa tidak lagi berkualitas baik. Allah berusaha menyelamatkan manusia, agar manusia kembali berkualitas baik menurut Tuhan.


Pada zaman Perjanjian Barulah Allah membuka peluang manusia untuk kembali menjadi manusia pilihan, menjadi makhluk yang dilayakkan sebagai manusia seperti yang dikehendaki Tuhan sejak semula. Paulus menyebutnya manusia Allah (1Tim. 6:11).


Manusia baru dimungkinkan untuk diproses menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Penciptanya. Proses ini baru terjadi pada zaman Perjanjian Baru, sebab sarana penyelamatan baru tersedia pada zaman Perjanjian Baru. Sarana inilah yang disebut anugerah, sebab sesungguhnya ini pemberian yang sangat mahal, tetapi diberi Allah dengan cuma-cuma karena tidak akan ada manusia yang sanggup membayarnya.


Pemberian Allah yang mahal untuk menyelamatkan kita adalah Anak-Nya sendiri yang turun ke dunia dan mengorbankan diri-Nya. Dengan darah-Nya, kita ditebus-Nya dari cara hidup nenek moyang kita yang sia-sia, dan dimungkinkan untuk diubahkan menjadi manusia pilihan. Tuhan Yesus sudah menjadi teladan bagi kita semua, seperti apa manusia pilihan yang diinginkan Bapa. Karena itu kita yang mau menjadi manusia pilihan harus menerima Injil.


Marilah kita meresponi anugerah keselamatan Tuhan dengan menerima penggarapan-Nya. Anugerah itu menjadi berharga ketika cara kita menerima anugerah harus melalui suatu perjuangan nyata untuk perubahannya. Maka orang yang benar-benar merupakan umat pilihan akan semakin bertumbuh menjadi seperti Tuhan Yesus. Manusia pilihan adalah manusia yang memiliki keberadaan luar biasa yang berbeda dengan manusia yang tidak terpilih. Kalau seseorang mengaku sebagai umat pilihan tetapi tidak memiliki keberadaan yang luar biasa, ia menipu dirinya sendiri.


Seperti saat Adam dan Hawa harus memilih antara taat kepada Tuhan atau memberontak kepada Tuhan, pada zaman Perjanjian Baru ini kita harus memilih, mau menjadi manusia pilihan atau manusia terbuang; di pihak Tuhan atau di pihak setan. Kita tidak bisa tidak memilih. Tidak memilih berarti memilih untuk menjadi manusia terbuang.



Orang yang benar-benar merupakan umat pilihan akan semakin bertumbuh menjadi seperti Tuhan Yesus.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pakaian Pesta

Renungan Harian Virtue Notes, 11 Maret 2011

Pakaian Pesta



Bacaan: Matius 22: 11-13


22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.

22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.

22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.



Dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini, Ia menggambarkan Allah sebagai seorang raja yang mengadakan pesta perkawinan untuk Anak-Nya. Ia mengundang tamu-tamu istimewa untuk menikmati jamuannya, tetapi yang diundang itu tidak mau datang. Kemudian raja memerintahkan untuk mengundang siapa saja yang bisa dijumpai, maka banyaklah tamu-tamu undangan dalam pestanya. Tetapi ketika raja itu menjumpai seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, ia menyuruh hamba-hamba-Nya menangkap tamu itu dan menghukumnya.


Apa arti perumpamaan ini? Allah memanggil orang-orang untuk menjadi manusia pilihan-Nya. Tetapi tamu-tamu istimewa yang dipanggil itu menolak panggilannya. Kemudian para tamu yang datang—yang menerima panggilan-Nya—ada yang datang dengan pakaian pesta yang pantas, tetapi ada yang tidak.


Orang yang tidak memakai pakaian pesta menunjuk kepada orang yang tidak serius menanggapi panggilan/undangan Tuhan untuk menjadi manusia pilihan-Nya. Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk menjadi manusia pilihan, seseorang harus memenuhi persyaratan yang ditentukan Allah.


Memenuhi persyaratan itu sendiri bukanlah usaha manusia yang bisa menyelamatkan, seolah-olah suatu jasa yang dengannya manusia bisa dilayakkan menjadi manusia pilihan tanpa anugerah penebusan melalui darah Tuhan Yesus Kristus. Tetapi memenuhi persyaratan tersebut adalah respons yang merupakan penghargaan dan penerimaan terhadap anugerah yang Tuhan sediakan bagi manusia yang bersedia memberi diri untuk dicintai-Nya.


Pakaian pesta melambangkan kesucian hidup yang dikehendaki oleh Bapa. Pemahaman yang benar tentang Injil akan membawa kita kepada kesucian hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Bapa di Surga, yang melayakkan kita masuk ke dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah. Berarti mengenakan pakaian pesta adalah berusaha mengerti dan melakukan Firman Tuhan untuk mencapai kesucian hidup.


Banyak orang disesatkan melalui pemberitaan nama Yesus beserta kuasa dan kebaikan-Nya, tanpa mengajarkan apa yang dikatakan oleh Injil-Nya. Ini tidak akan dapat membuat seseorang menjadi manusia pilihan, sebab mengenal nama Yesus saja tidak berkuasa mengubah hidup seseorang jika tanpa mengerti apa yang diajarkan-Nya. Ingat, undangan tidak otomatis membuat orang layak masuk pesta perjamuan, tetapi respons yang benar dengan mengenakan pakaian pestalah yang membuat seseorang layak masuk pesta tersebut.



Respons yang benar terhadap panggilan Tuhan adalah mengerti dan melakukan Firman Tuhan, untuk mencapai kesucian hidup.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Sedikit Yang Terpilih

Renungan Harian Virtue Notes, 10 Maret 2011

Sedikit Yang Terpilih



Bacaan: Matius 22: 1-14


22:1. Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:

22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.

22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.

22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,

22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.

22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.

22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.

22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.

22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.

22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.

22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."



Ada orang yang berpendapat bahwa manusia ditempatkan Tuhan pada posisi tidak dapat menolak anugerah Tuhan. Kalau seseorang sudah ditentukan Tuhan untuk selamat, ia tidak dapat menolaknya. Ini membangkitkan ucapan syukur bagi yang selamat. Tetapi di sisi lain, konsep ini pula berarti bahwa manusia juga ditempatkan Tuhan pada posisi tidak dapat menolak hukuman Tuhan. Kalau seseorang sudah ditentukan untuk binasa, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. Ini bisa membangkitkan kemarahan yang mempersalahkan Tuhan: mengapa Tuhan menciptakan manusia untuk dibinasakan dan disiksa dalam siksaan abadi?


Konsep ini tidak benar, sebab menggiring pemikiran takdir mati atas semua ciptaan-Nya. Takdir mati artinya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan telah ditentukan mutlak oleh Tuhan. Manusia hanya menerima apa yang disediakan sebelumnya, dan menerimanya tanpa bisa mengelak. Menerima konsep ini berarti menggambarkan Tuhan sebagai pembuat skenario dari segala sesuatu, termasuk bencana, kejahatan dan neraka abadi bagi yang ditentukan untuk binasa.


Jika Tuhan terlibat dalam semua kejadian dan mengerjakan semua, serta nasib seluruh manusia sudah ditakdirkan-Nya, berarti manusia tidak perlu bertanggung jawab atas hidupnya, karena itu sudah disuratkan oleh Allah, bukan disebabkan olehnya. Tidak adil kalau manusia harus bertanggung jawab atas apa yang tidak disebabkannya.


Bagaimanakah yang benar? Untuk memecahkan hal ini, mari kita perhatikan perumpamaan perjamuan kawin yang dipaparkan oleh Tuhan Yesus. Orang-orang diundang (dipanggil) menghadiri perjamuan kawin, tetapi jelas bahwa respons mereka memiliki peran yang sangat penting untuk menjadi “yang dipilih”.


Yesus berkata, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Artinya, banyak yang mendengar Injil, tetapi tidak semua meresponinya dengan benar. Tanpa respons, Injil hanya menjadi berita kosong yang tidak berarti. Ini berarti menjadi manusia pilihan tidak hanya tergantung pada kedaulatan Allah semata-mata.


Respons yang benar terhadap panggilan Tuhan adalah menerima Injil—perkataan Tuhan. Seseorang tidak bisa; jika menerima Tuhan Yesus, tetapi tidak menerima perkataan-Nya. Justru penerimaan kepada Tuhan Yesus dibuktikan dengan menerima perkataan-Nya. Menerima perkataan-Nya berarti mau mempelajari Firman-Nya dan terus-menerus berusaha melakukannya. Inilah yang membuat seseorang menjadi manusia unggul, yaitu termasuk kumpulan “sedikit yang dipilih”.



Respons yang benar terhadap panggilan Tuhan adalah mempelajari Firman-Nya dan melakukannya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Menentukan Nasib Sendiri

Renungan Harian Virtue Notes, 9 Maret 2011

Menentukan Nasib Sendiri



Bacaan: Kejadian 3: 1-14


3:1. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

3:6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

3:11. Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

3:14. Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.



Tuhan berdaulat memilih orang-orang menjadi manusia pilihan-Nya. Tetapi kedaulatan itu tidak berarti peran manusia sama sekali tidak ada. Bagi kita yang hidup pada zaman Perjanjian Baru ini, kita harus hidup bertanggung jawab menjadi manusia pilihan.


Dalam kenyataan hidup ini, nasib manusia juga ditentukan oleh keputusan dan pilihannya. Adam terusir dari Eden bukan karena Tuhan yang menentukan demikian, tetapi karena Adam memilih sendiri, sehingga harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya.


Kalau Tuhan sendiri yang membuat skenario kejatuhan manusia, atau Ia membuat manusia hanya untuk jatuh, Ia bukanlah Tuhan yang baik. Tetapi kenyataannya kejatuhan manusia bukanlah karena Tuhan, tetapi karena kehendak bebas manusia itu sendiri. Inilah hukum kehidupan, bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas dalam menentukan nasibnya: apa yang ditabur, itu juga yang dituainya.


Dalam hal ini ada misteri kehidupan yang tidak mudah dipecahkan, namun kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa manusia bukanlah makhluk yang disetir oleh Allah sepenuhnya. Ada bagian dalam diri manusia yang membuat manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Manusia bukan makhluk yang mengikuti arus nasib yang menghanyutkannya, dan tidak bisa menghindar dari nasib yang ditentukannya.


Menjadi umat pilihan juga sangat tergantung oleh pilihan, keputusan dan tindakan masing-masing individu. Setiap kita harus memiliki tindakan konkret untuk menjadi umat pilihan. Menganggap semuanya tergantung Allah yang menentukan cenderung membuat orang menjadi pasif—tidak berbuat hal-hal yang membangun pertumbuhan rohani yang melayakkan seseorang menjadi umat Allah—dan itu berbahaya, sebab itu dapat menggugurkan status kita sebagai umat pilihan.


Maka jangan menganggap respons terhadap anugerah untuk menjadi umat pilihan cukup dengan pergi ke gereja dan berbagai kegiatan pelayanan gereja. Itu belum harga yang benar yang dipatok Tuhan. Harganya adalah sepenuhnya meninggalkan cara hidup anak dunia. Orang yang merasa sudah menjadi umat pilihan tetapi tidak mau membayar harganya sesungguhnya belum pernah menjadi umat pilihan; pada akhirnya nanti ia akan terkejut ketika kecerobohannya itu membawa dirinya menjadi manusia yang terbuang.



Manusia bukan makhluk yang mengikuti arus nasib yang menghanyutkannya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Menjadi Manusia Pilihan

Renungan Harian Virtue Notes, 8 Maret 2011

Menjadi Manusia Pilihan



Bacaan: Markus 10: 17-22


10:17. Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"

10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."

10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.



Banyak orang berpikir bahwa kalau mereka sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis mereka sudah menjadi umat Tuhan. Akibatnya, banyak orang merasa tenang jika sudah beragama Kristen, dan menjadi anggota gereja tertentu. “Apa pun yang terjadi toh saya sudah mempunyai tiket ke surga, Tuhan sudah memilih saya, tidak peduli apa yang pernah saya lakukan dan apa yang akan saya lakukan,” pikir mereka.


Alkitab sejatinya tidak mengajarkan demikian. Menganggap diri sudah dipilih Allah hanya karena sudah mendapatkan pengesahan dari gereja tertentu adalah keliru. Sedihnya banyak gereja yang mengajarkan kebodohan ini, sehingga banyak orang yang terjebak dalam kekeliruan yang fatal ini.


Sesungguhnya menjadi umat pilihan Allah bukan karena stempel organisasi, tetapi pengakuan dari Tuhan, sebab Ialah yang memilih kita, bukan manusia. Dan pengesahannya juga tergantung dari respons terhadap anugerah yang ditawarkan Tuhan itu. Responsnya di sini juga haruslah memadai. Nilai respons tersebut harus sesuai dengan kehendak-Nya, sebab Tuhanlah yang menentukan harganya. Dalam hal ini Tuhan tidak sembarangan memilih orang menjadi umat-Nya. Ia memilih orang yang berani membayar harga untuk mengikut-Nya.


Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk mengikut Dia, kita harus menghitung dulu anggarannya (Luk. 14:28). Ketika menghadapi orang kaya yang mau memiliki hidup yang berkualitas, Tuhan menetapkan harga, dan ketika orang itu meninggalkan Dia, membatalkan keinginannya mengikut Yesus, Ia tidak mau mengurangi harganya (ay. 22). Ternyata untuk menjadi manusia pilihan harganya adalah seluruh kehidupan kita.


Pada abad-abad awal saat Kekristenan baru lahir, orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus berani mempertaruhkan segenap hidupnya karena menghadapi aniaya dari pihak-pihak yang menentang Injil. Demikian pula di beberapa negara sampai hari ini, di mana Injil ditolak. Di sini harga mengikut Yesus tampak jelas.


Sayangnya, ketika orang Kristen memiliki kebebasan menjalankan ibadahnya, harga imannya menjadi tidak tampak. Karena itulah orang menganggapnya gratis. Memang anugerah keselamatan Tuhan adalah cuma-cuma, tetapi tidak murahan; sebab respons kita, yaitu cara menerima anugerah itu tidak cuma-cuma. Ada perjuangan yang menuntut segenap hidup ini dipertaruhkan. Ingat, anugerah menjadi murahan kalau keselamatan bisa diterima tanpa perjuangan.



Tuhan tidak sembarangan memilih orang; Ia memilih orang yang berani membayar harga untuk mengikut-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger