RSS
email

Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!

0

Kesucian Harus Diperjuangkan

Renungan Harian Virtue Notes, 7 Maret 2011

Kesucian Harus Diperjuangkan



Bacaan: Lukas 13: 23-27


13:23. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"

13:24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.

13:25 Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.

13:26 Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.

13:27 Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!



Kesucian haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya secara otomatis. Seberapa besar seseorang mencapai kesucian bukan hanya tergantung dari kasih karunia-Nya tetapi juga sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang (ay. 24). Di bagian lain Alkitab, Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Tentu pilihan ini juga berdasarkan respons seseorang.


Sangat menyedihkan, sebab banyak orang Kristen yakin bahwa ia pasti selamat masuk surga hanya dengan sudah merasa percaya. Padahal Tuhan Yesus sendiri mengungkapkan, sekalipun seseorang sudah mengadakan banyak mukjizat, kalau ia tidak hidup dalam kesucian—artinya melakukan kehendak Bapa—ia bisa ditolak Allah (Mat. 7:21–23). Percaya bukan hanya di pikiran saja, tetapi harus ditunjukkan dalam tindakan konkret.


Kita harus memanfaatkan semua potensi yang diberikan Tuhan untuk meraih kesucian. Tuhan memang memberikan talenta yang berbeda kepada setiap orang menurut kesanggupannya (Mat. 25:14–30), tetapi seberapa yang Tuhan berikan harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan sediakan, maka kesempatan itu akan hilang dan tidak ditemukan lagi.


Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, kita harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang dikehendaki Bapa atas hidup kita, lalu berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Orang yang berkerinduan untuk mencapai kesucian yang menyukakan hati Bapa niscaya dapat meraihnya. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat. 5:6)


Ingat, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan ingin mengubah kita, tapi kita harus mau diubah. Karena itu kita harus meresponinya dengan membiasakan hidup suci. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan. Ini akan menggerakkan kita memperhatikan langkah kita setiap detik, menit dan jam, apakah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu kalau kita berbuat salah, mari cepat bertobat dengan memperbaikinya. Jadikan melakukan kehendak Tuhan sebagai kebiasaan, sampai kita tidak perlu memaksa diri.



Kita harus memanfaatkan semua potensi yang diberikan Tuhan untuk meraih kesucian.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Berwatak Ilahi

Renungan Harian Virtue Notes, 6 Maret 2011

Berwatak Ilahi



Bacaan: 1 Korintus 2: 14-16


2:14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

2:15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.

2:16 Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.



Kesucian hidup dapat dicapai seseorang ketika ia memuaskan hati Tuhan. Dengan demikian seorang yang mau memuaskan hati Tuhan akan berusaha untuk mengerti selera Tuhan, yaitu apa yang Tuhan inginkan agar umat lakukan. Mengerti hukum-hukum dan peraturan-peraturan bukanlah jalan untuk mencapai kesucian yang Tuhan kehendaki. Melakukan hukum-hukum membuat seseorang menjadi bermoral dan menjadikan manusia beradab dan santun, tetapi belum membuatnya mampu mencapai kesucian Tuhan.


Dalam hal ini yang dibutuhkan bukanlah mengenal dan menghafalkan hukum-hukum, melainkan kecerdasan roh dari mengenal kebenaran Tuhan yang sejati yang tertulis dalam Alkitab, sehingga kita mengerti kehendak Tuhan: apa yang baik, yang dikenan-Nya dan yang sempurna (Rm. 12:2). Dalam prosesnya, kita akan menjadi tidak serupa dengan dunia ini. Tentu proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sepanjang umur hidup kita adalah pergumulan untuk mencapai kehidupan yang memuaskan hati Tuhan.


Bila proses penyempurnaan ini berlangsung dengan baik dalam kehidupan kita, maka kita akan terbiasa bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan (Flp. 2:5–7). Kebiasaan hidup melakukan apa yang Tuhan kehendaki akan membuat seseorang semakin berwatak Ilahi atau berwatak Tuhan, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, “Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (1Kor. 2:16).


Dengan memiliki watak Ilahi, selera hidup kita akan menjadi selaras dengan Tuhan. Dengan demikian kesucian hidup kita akan tampak bukan pada cara hidup kita yang kasat mata secara lahiriah, seperti patuh atau tunduk kepada hukum atau peraturan; melainkan pada kelemahlembutan dan kasih tulus yang kita pancarkan. Bagaimana kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya, seluruh gerak tubuh dan perkataannya.


Seseorang tidak mudah menyembunyikan watak aslinya. Tanpa harus memperhatikan sikap hidupnya setiap hari dalam waktu yang panjang, dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya pun sudah tampak kualitas kesuciannya. Tetapi tentu untuk peka membaca keadaan orang dengan tepat ini adalah orang-orang yang rohani, atau yang memiliki kesucian lebih daripada orang lain. Orang rohani dapat menilai orang duniawi, tetapi orang duniawi tidak dapat menilai orang rohani (1Kor. 2:15).



Dengan memiliki watak Ilahi, selera hidup kita akan menjadi selaras dengan Tuhan.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Memberi Kesenangan Bagi Tuhan

Renungan Harian Virtue Notes, 5 Maret 2011

Memberi Kesenangan Bagi Tuhan



Bacaan: Matius 12: 50

12:50 Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Dalam Kekristenan, kesucian tidak boleh diartikan secara dangkal. Kesucian bukan hanya melakukan hukum-hukum moral dan dipandang baik di mata manusia, sebagaimana konsep agama-agama pada umumnya. Bagi orang Kristen, kesucian adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa di Surga dalam segala hal.


Ini berarti orang percaya harus mengerti apa saja yang dikehendaki Bapa, serta dengan penuh sukacita, kerelaan dan keseriusan berusaha melakukannya. Kesucian hidup adalah kehidupan yang melakukan kemauan atau keinginan Bapa dalam segala hal, di segala tempat dan di sepanjang waktu hidup ini.


Kehidupan Tuhan Yesus adalah contoh kehidupan dalam kesucian yang dikehendaki oleh Bapa. Dalam kehidupan-Nya Ia melakukan seluruh kehendak Bapa dengan sempurna. Bukan melakukan sebagian kehendak Bapa, melainkan seluruh kehendak Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, “Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Kita harus memiliki kerinduan yang tulus dan kuat untuk menyenangkan hati-Nya, mempersembahkan hidup yang suci bagi pemuasan hati Tuhan semata-mata.


Biasanya orang beranggapan bahwa mencari kesenangan diri bukan sesuatu yang melanggar hukum. Menurutnya, yang penting orang tidak dirugikan atau dilukai. Sekalipun tidak merugikan dan menyakitkan orang lain, bahkan berbuat hal-hal yang dinilai sebagai kebajikan bagi sesamanya, sesungguhnya mereka melakukan semua itu untuk kesenangan dan kebanggannya sendiri.


Berarti kalau seseorang masih mau menyenangkan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah hidup dalam kesucian. Untuk meninggalkan keinginan menyenangkan diri sendiri ini, seluruh filosofi hidup, cita-cita dan keinginan harus kita salibkan. Memang awalnya hal ini sangat sulit dilakukan, tetapi lambat laun akan menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan dan memuaskan jiwa. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bersukacita saat memuaskan hati Penciptanya.


Kepuasan yang kudus seperti ini harus dimiliki oleh setiap orang yang menerima penyelamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Manusia diselamatkan untuk dikembalikan menjadi makhluk yang diciptakan untuk memuaskan hati Penciptanya. Manusia diselamatkan bukan untuk menerima kesenangan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk dapat memberi kesenangan bagi Tuhan.

Kita diselamatkan agar dikembalikan menjadi makhluk yang memuaskan hati Tuhan.


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Kesucian Yang Sejati

Renungan Harian Virtue Notes, 4 Maret 2011

Kesucian Yang Sejati



Bacaan: 1 Petrus 1: 22


1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.



Sesungguhnya kesucian sangat berharga dalam kehidupan kita ini; lebih berharga daripada segala kekayaan, popularitas, kehormatan, gelar, pangkat dan lain sebagainya. Inilah yang seharusnya menjadi kerinduan dan obsesi kita. Kalau kita mengejar hal-hal lain lebih daripada kesucian, itu suatu ketidaksetiaan kepada Tuhan.


Masalahnya sekarang adalah apakah kesucian itu? Kata suci atau kudus dalam teks bahasa Ibrani adalah קדשׁ (qâdosh) yang artinya bukan saja “murni” tetapi juga berarti “dipisahkan dari yang lain guna digunakan untuk Tuhan”. Dalam teks bahasa Yunani, kata yang setara adalah ἅγιος (Klasik: hágios; Koine: háyos) yang juga berarti “dipisahkan” atau “berbeda dari yang lain”.


Dari etimologi kata suci atau kudus ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesucian mengacu pada keadaan yang berbeda dari yang lain dan dipisahkan guna digunakan hanya untuk Tuhan saja. Kesucian bukan hanya menunjuk keadaan tidak bersalah, seperti dalam pemahaman agama lain; bukan pula berarti tidak bersentuhan dengan kehidupan yang dimiliki manusia pada umumnya.


Sering orang suci digambarkan sebagai orang yang menyepi di biara atau di tempat-tempat sunyi dan terpencil, tidak hidup di tengah-tengah masyarakat, tidak menikah, tidak memiliki harta; kegiatan hidupnya hanyalah bertapa, bermeditasi dan melakukan seremonial agama. Justru mereka yang menghindarkan diri dari pergaulan dunia tidak pernah mengenal kesucian yang sesungguhnya.


Bagaimana seseorang bisa dikatakan cakap berenang kalau hanya berenang di kolam kecil, tidak pernah bergumul dalam gelombang laut atau riak sungai? Seseorang tidak bisa dikatakan menang dalam pencobaan jika tidak pernah dihadapkan dengan pencobaan.


Seseorang tidak bisa dikatakan taat kepada Bapa, jika tidak terdapat peluang untuk tidak taat. Seseorang yang tidak pernah menghadapi pencobaan dalam kehidupan secara konkret tidak dapat memahami kesucian yang sesungguhnya. Justru saat diperhadapkan kepada godaan-godaan untuk menuruti hawa nafsunya, seseorang dapat membuktikan apakah ia memilih taat kepada Bapa atau tidak; memilih kesucian atau dosa. Melalui kehidupan konkret di tengah-tengah kemungkinan dan peluang untuk berbuat dosalah kita harus belajar untuk hidup di dalam ketaatan kepada Bapa sepenuhnya, bukan mengikuti keinginan kita sendiri. Dari sini terbangunlah kesucian yang sejati dalam hidup kita.



Di tengah kemungkinan untuk berbuat dosa, kita harus belajar untuk taat kepada Bapa.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Pengharapan Yang Menyucikan

Renungan Harian Virtue Notes, 3 Maret 2011

Pengharapan Yang Menyucikan



Bacaan: 1 Petrus 1: 13-16


1:13. Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.

1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,

1:15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,

1:16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.



Mengapa banyak orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi tidak berniat untuk mencapai kesucian hidup di dalam Tuhan? Mengapa sekalipun Tuhan mengatakan bahwa itu tidak mustahil, tetapi sulit sekali bagi manusia untuk berusaha—apalagi benar-benar—hidup kudus?


Firman Tuhan tegas berkata, “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (ay. 15–16). Nasihat untuk memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah sendiri diawali dengan nasihat agar orang percaya menaruh seluruh pengharapan atas kasih karunia yang akan dianugerahkan kepada orang percaya pada waktu kedatangan-Nya (ay. 13). Ini berarti tidak ada yang lebih kita nantikan dan harapkan daripada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Pada waktu itulah Tuhan akan mengaruniakan kemuliaan bersama dengan-Nya dalam Kerajaan Surga.


Rasul Yohanes juga menulis bahwa setiap orang yang menaruh pengharapannya atas kasih yang dikaruniakan pada waktu kedatangan Tuhan akan menyucikan dirinya (1Yoh. 3:1–3). Dengan demikian bila seseorang tidak mempunyai pengharapan akan kedatangan Yesus, ia tidak mungkin dapat sungguh-sungguh memiliki hasrat untuk hidup suci. Percuma nasihat diberikan kepada orang percaya untuk memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kalau tidak menaruh pengharapan itu di dalam hatinya.


Dunia hari ini telah membuat manusia dipenuhi oleh berbagai pengharapan, terutama pada kekayaan duniawi dan segala kesenangannya. Yang menjadi impian orang adalah uang banyak, rumah besar, mobil mewah, terhormat di mata orang lain, anak sukses dalam studi, jodoh yang sesuai dengan keinginannya dan lain sebagainya. Gairah untuk hidup dalam kesucian telah tersingkir oleh berbagai harapan dan cita-cita fana, semata-mata untuk menikmati hidup dunia hari ini.


Jadi, jawaban dari pertanyaan mengapa banyak orang tidak berniat untuk hidup suci adalah menaruh pengharapan yang salah. Orang yang menaruh pengharapan kepada dunia tidak akan memiliki kerinduan untuk hidup suci. Hanya orang yang menaruh pengharapan kepada Tuhan dan kasih yang akan dikaruniakan kepada orang percaya pada waktu kedatangan-Nyalah yang dapat berkerinduan untuk hidup suci. Di manakah kita menaruh pengharapan kita hari ini?



Pengharapan atas kasih karunia pada kedatangan Tuhan melahirkan kerinduan untuk hidup suci.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Tidak Mustahil

Renungan Harian Virtue Notes, 2 Maret 2011

Tidak Mustahil



Bacaan: Matius 19: 23-26


19:23. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."



Tidak mudah kita menjumpai orang yang berkerinduan kuat untuk memiliki kesucian hidup seperti yang dikehendaki Tuhan. Kesucian hidup dianggap sesuatu yang terlalu tinggi untuk diraih, mustahil dicapai oleh manusia. Bahkan beberapa orang menuduh Tuhan seolah-olah hendak menjebak manusia, bahwa kalau manusia gagal untuk hidup kudus, maka Tuhan memperoleh alasan untuk membuangnya ke dalam api kekal.


Kalau kesucian dianggap sebagai sesuatu yang mustahil untuk dialami, maka Bapa di surga tidak akan berkata: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16, mengutip Im. 11:44–45; 19:2). Perintah Allah ini sejatinya suatu kabar baik, yaitu manusia dimungkinkan untuk bisa mencapai dan memiliki kesucian seperti kesucian Tuhan sendiri. Tuhan Yesus sendiri berjanji bahwa “Bagi Allah, segala sesuatu mungkin” (ay. 26). Sayang sekali ayat ini dan ayat-ayat lain yang senada selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Inilah yang dinamai mendegradasi ayat Alkitab, mengambil ayat serampangan tanpa melihat konteksnya.


Mari kita perhatikan konteks ayat ini. Tuhan Yesus bertemu seorang muda yang kaya, yang akhirnya meninggalkan Yesus ketika Ia menyuruhnya untuk menjual segala miliknya agar dapat mengikut Yesus. Karena itu Yesus berkata, “Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga” (ay. 23–24). Maksud Yesus, orang yang bergantung kepada kekayaan tidak dapat masuk Kerajaan Allah; hanya orang yang bergantung kepada Allah yang dapat masuk. Murid-murid-Nya mengatakan itu mustahil, sebab semua manusia ingin kaya. Tetapi Yesus berkata, Allah sanggup mengubahkan orang, dari bergantung kepada kekayaan menjadi bergantung kepada Allah; dari melakukan kehendaknya sendiri menjadi melakukan kehendak Allah.


Kalau Allah sanggup mengubahkan kita agar bisa hidup suci—hidup melakukan kehendak-Nya—jangan kita mengatakan itu tidak mungkin. Tetapi jangan pula kita menjadi fatalis, seakan-akan Tuhan serta-merta mengubah kita sekalipun kita diam saja. Kita harus meresponinya dengan iman yang benar, yaitu disertai perbuatan.


Maka jangan percaya dengan kesan yang dimunculkan baik secara terang-terangan maupun terselubung oleh beberapa rohaniwan, bahwa hanya merekalah yang bisa hidup dalam kesucian Tuhan. Semua orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus dan mau diubahkan pasti bisa diubahkan-Nya. Mari berkomitmen hari ini juga untuk hidup dalam kesucian-Nya. Itu tidak mustahil.



Semua orang percaya yang mau diubahkan-Nya tidak mustahil untuk hidup dalam kesucian.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
0

Prestasi Tertinggi

Renungan Harian Virtue Notes, 1 Maret 2011

Prestasi Tertinggi



Bacaan: 1 Korintus 9: 24-27


9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.



Prestasi kehidupan yang tertinggi dan termulia yang dapat diraih setiap individu adalah kesucian hidup. Prestasi ini bernilai abadi dan menentukan keadaan kekal seseorang. Prestasi ini lebih berharga dan lebih mulia dari segala prestasi lain yang bisa dicapai oleh manusia.


Kesucian hidup lebih penting dibandingkan kesuksesan meraih gelar studi, pangkat, kekayaan, kehormatan, rumah tangga yang ideal menurut kacamata umum dan berbagai kesuksesan lain yang dikenal dalam kehidupan ini. Kesucian hidup juga lebih penting daripada keberhasilan dalam kegiatan pelayanan pekerjaan Tuhan. Suatu hari nanti akan terbukti bahwa ada orang-orang yang sekarang ini dianggap sukses dalam pelayanan, ternyata ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21–23).


Tidak seperti pengertian banyak orang, kesucian hidup bukan berarti menghindari hal-hal yang dipandang salah menurut moral umum, melainkan hidup dengan melakukan kehendak Bapa. Dengan pemahaman ini, kita bisa memahami mengapa Paulus mengungkapkan pernyataan yang mengejutkan, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:27). Berprestasi dalam kegiatan gereja tidak menentukan apakah orang diperkenankan masuk ke dalam kerajaan-Nya; melakukan kehendak Bapalah yang menentukan.


Segala prestasi yang dikenal manusia pada umumnya adalah kesuksesan yang hanya dinikmati sesaat, selama hidup di dunia ini. Kalau kematian menjemput seseorang, maka semua yang telah berhasil diraihnya tersebut akan ditinggalkan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Maksudnya, apa gunanya seseorang menggunakan semua potensi dengan melibatkan pikiran, perasaan dan kehendaknya secara penuh untuk mencapai kesuksesan dalam hidup, tetapi akhirnya tidak setitik pun dibawa ke kekekalan?


Ironisnya, sebagian besar manusia menghabiskan berpuluh-puluh tahun mengejar apa yang disebut sebagai kesuksesan itu, padahal semua yang dilakukannya itu adalah kesia-siaan, seperti menjaring angin (Pkh. 1:14). Kalau mata mereka tertutup untuk selamanya, mereka pulang ke kekekalan dengan tangan hampa. Bila kita mau menghadap Allah tidak dengan tangan hampa, berjuanglah menjalani kesucian hidup dengan melakukan kehendak-Nya; maka Ia akan menyediakan mahkota abadi bagi kita.



Kesucian hidup menentukan apakah seseorang diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan-Nya.



Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Read more
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lisensi Creative Commons
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.
 
Powered By Blogger