Dapatkan Renungan Virtue Notes Langsung ke Email Anda!
Kain Kotor
Menyelenggarakan Kehidupan
Bacaan : 1 Petrus 1 : 13-25
Rasul Petrus mengajar kita untuk memahami bahwa tidak semua cara hidup kita yang kita anggap halal dan tidak berdosa adalah sesuatu yang juga benar di mata TUHAN. Membicarakan hal ini sudah melewati hal-hal pelanggaran moral yang selama ini kita kenal sebagai dosa, walaupun tidak tepat demikian. Namun justru kita harus mencurigai diri kita ketika masuk dalam suatu fase aman dan mungkin nyaman, bahwa kita tidak melakukan pelanggaran moral, namun masih dalam pola pikir untuk menyelenggarakan kehidupan yang aman, tenteram dan damai di dunia.
Sekedar contoh, fenomena mudik saat Lebaran. Motivasi yang melatarbelakangi para pemudik sebagian besar karena ingin merayakan Lebaran di kampung halaman, sembari berbagi rejeki dan menunjukkan kepada orang tua, serta warga di kampung akan keberhasilan kita selama bekerja di rantau.
Kita tidak sedang menghakimi fenomena ini salah atau benar. Namun jika kita tahu bahwa TUHAN akan menghakimi kita menurut perbuatan kita, mengapa kita masih bersikeras untuk meyakini bahwa hidup layak, terhormat, kaya, berpangkat, cukup secara materi, bahagia sampai tua dan semua parameter indah ini yang menjadi standar hidup kita? Itu sesuatu parameter yang salah, yang sudah ditebus TUHAN oleh kematian-NYA di kayu salib dan TUHAN meminta kita untuk mengarahkan harapan dan iman hanya kepada-NYA. Petrus menyebut bahwa pola pikir kenyamanan lahiriah adalah cara hidup yang sia-sia warisan dari nenek moyang. Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan mencari TUHAN. Namun mencari TUHAN untuk apa? Perlindungan? Keamanan? Atau kenyamanan? Sebab seharusnya kita mencari TUHAN dan berusaha untuk dimiliki oleh TUHAN, sebab memang kita sudah tidak berhak memiliki hidup kita sendiri.
Hidup ini harus hanya menjadi laboratorium TUHAN untuk mendidik kita menjadi warga Kerajaan Surga yang sejati, bukan hidup hanya untuk hari ini. Iman dan pengharapan kita hanya pada kehidupan yang akan datang, bukan hidup yang sementara ini. Itulah hakikat menjadi bangsawan surgawi.
Keberhasilan Umum
Tanpa Kematian Tidak Ada Kebangkitan
Bacaan : Roma 6 : 5-14
Aslan, sang Singa dalam buku The Chronicles of Narnia : The Lion, the Witch and the Wardrobe karya C.S. Lewis mengorbankan dirinya untuk dibunuh di Panggung Batu (Stone Table) sebagai ganti Edmund, seorang anak yang berkhianat. Namun di pagi hari, Aslan yang merupakan gambaran Kristus dalam seri Narnia telah hidup kembali. Aslan menjelaskan kebangkitannya sebagai berikut, “Ketika korban sukarela yang tidak melakukan pelanggaran apapun dibunuh sebagai ganti pengkhianat, Table akan terbelah dan Kematian akan mulai bekerja secara terbalik.”
Kristus juga mati dibunuh sebagai ganti pengkhianat, dan bukan hanya satu melainkan sangat banyak pengkhianat, yaitu seluruh manusia di bumi ini. Setelah bangkit, dengan nafasnya Aslan dapat membangkitkan makhluk-makhluk yang dijadikan batu oleh Penyihir (gambaran Iblis). Allah berjanji bahwa kebangkitan Kristus juga membangkitkan yang percaya kepadaNya, untuk hidup selamanya.
Namun untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus, terlebh dahulu kita harus mati bersama dengan Kristus. Manusia lama kita telah turut disalibkan (ay. 6), supaya manusia baru kita bisa dibangkitkan. Oleh karena itu kita harus meninggalkan dosa dan keinginannya. (ay. 12,13). Tanpa meninggalkan dosa, dapatkah kita mengatakan manusia lama kita telah mati, dapatkah kita mengatakan kita ikut dibangkitkan?
Tanpa mati bersama dengan Kristus, tidak ada kebangkitan. Karena itu marilah kita mulai sekarang juga memastikan bahwa manusia lama kita telah mati. Kita harus berani menanggalkan segala kesenangan daging dan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kita harus berani menjadi orang-orang yang kehilangan hak untuk dipuji, hak untuk disanjung, hak untuk dihargai.
Untuk menjaga agar kita tidak menyerah kepada sifat manusiawi lama kita, marilah kita mulai mengenali kelemahan-kelemahan kita dan apa hal-hal yang biasanya membuat kita jatuh. Kembangkan penguasaan diri, dan jauhilah hal-hal itu. Sebagai gantinya, gunakan waktu kita untuk hal-hal yang memuliakan Allah. Contohnya, mempelajari Firman Tuhan, membaca buku-buku yang bermutu, dan mendengarkan khotbah-khotbah yang menyampaikan Injil yang murni. Bersekutulah dengan saudara-saudara seiman. Pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk melayani Tuhan dimanapun kita berada. Relakanlah diri kita untuk dipimpin Tuhan, dan percayalah bahwa dengan pimpinanNya kita niscaya sanggup untuk memastikan bahwa manusia lama kita tidak akan bangkit kembali.
Sudah Selesai
Sabtu, 3 April 2010
Bacaan : Yohanes 19 : 28-30
DI KAYU SALIB, Tuhan Yesus berkata, “Sudah selesai.” Kalimat ini berarti Ia telah menyelesaikan tugas penyelamatan atas dunia ini. Semua dosa dunia telah dipikulNya, sejak manusia pertama sampai manusia terakhir nanti. (1Yoh. 2:2). Semuanya sudah selesai dibayar lunas. Tidakkah ini kabar baik? Manusia tidak perlu bersusah-payah menyelesaikan masalah dosa yang merupakan penyebab utama dari segala penderitaan, karena Tuhan sendiri telah menyelesaikannya.
Kalau kita percaya bahwa Tuhan Yesus telah mati di kayu salib karena dosa dan pelanggaran kita, maka kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan (2Kor. 5:21). Dibenarkan artinya dianggap benar dihadapan Allah. Bapa di Surga yang MahaKudus tidak lagi melihat pelanggaran dan dosa yang telah kita lakukan, tetapi melihat darah Tuhan Yesus yang menudungi kita. Dihadapan Bapa, kita adalah orang-orang yang telah dikuduskan oleh darah Yesus Kristus. Bapa tidak melihat kesucian kita, sebab kita adalah orang berdosa, tetapi Ia melihat ketaatan AnakNya, Yesus yang menggantikan kita. Itulah sebabnya dengan keberanian kita memanggil Dia yang bertahta ditempat yang Mahatinggi sebagai Bapa (Rm. 8:15).
Karena semua kesalahan kita tak lagi diperhitungkan oleh Bapa, kita harus berani percaya bahwa semua dosa kita telah tuntas diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Ini berarti pula bahwa semua kutuk telah dipaku di kayu salib. Kita tidak lagi hidup dalam kutuk apapun juga. Tuhan Yesus telah menjadi kutuk bagi kita, ketika Ia dipaku di kayu salib (Gal. 3:13). Oleh sebab itu, kita patut mewaspadai ajaran yang mengatakan bawa kita perlu dilepaskan dari kutuk-kutuk, kita belum bebas dari kutuk. Orang yang mengajarkan hal itu tidak menghagai apa yang telah diselesaikan Tuhan Yesus di kayu salib di bukit Kalvari dua ribu tahun yang lalu.
Kita harus berpikir sebagai orang-orang yang tidak lagi dibawah kutuk dan hukuman. Kita harus berpikir sebagai anak-anak Allah yang menerima anugerah berkat keselamatan yang nilainya tiada
Tidak Akan Haus Lagi
Milik TUHAN
Renungan Virtue Notes is licensed under a Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Unported License.
Berdasarkan karya di virtuenotes.blogspot.com.



